Materi Minggu Ke-6 Pend. Agama Hindu Dan Budhi Pekerti Kelas XI

 BAGIAN-BAGIAN CATUR MARGA YOGA

    

A. Pengertian dan Hakikat Catur Marga

Catur Marga Yoga adalah empat jalancara untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi. Catur Marga terdiri atas dua rangkaian kata yaitu “catur” dan “marga”. Catur artinya empat dan marga artinya jalan atau cara. Jadi Catur Marga artinya empat jalan atau cara untuk menghubungkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi. Dalam ajaran agama Hindu terdapat empat jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin jagadhita dan moksa yang disebut dengan Catur Marga Yoga. Untuk mencapai Ida Sang Hyang Widhi agar dapat mempersatukan Atman dengan Sang Hyang Widhi moksa beberapa cara yang dapat ditempuh sesuai dengan bakat dan bidang yang digeluti saat ini yang disebut dengan Catur Marga atau juga disebut Catur Marga Yoga.

B. Penjelasan Bagian-bagian Catur Marga Yoga

  1. Bhakti Marga Bhakti artinya berbakti atau sembahyang yang merupakan cara mendekatkan diri pada Sang Hyang Widhi. Agama mengajarkan umatnya untuk melakukan ritual ini lengkap dengan tata caranya. 
  2. Karma Marga Karma artinya perbuatan, tingkah laku, pekerjaan ataupun aksi. Pekerjaan atau perbuatan yang dimaksud tentu perbuatan yang baik. Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id Buku Guru Kelas XI SMASMK 78 
  3. Jñana Marga Jñana artinya pengetahuan. Dengan belajar dan mencari pengetahuan seseorang akan dapat mendekatkan diri dengan Pencipta-Nya. 
  4. Raja Marga Artinya mengamalkan ajaran Agama Hindu dengan melakukan yoga, bersemadi, tapa atau melakukan brata pengendalian diri dalam segala hal termasuk upawasa puasa dan pengendalian seluruh indria.

C. Contoh-contoh Penerapan Catur Marga dalam Kehidupan


        Penerapan Catur Marga oleh umat Hindu sesungguhnya telah dilakukan secara rutin dalam kehidupannya sehari-hari. Banyak cara dan banyak pula jalan yang dapat ditempuh untuk menerapkannya. Sesuai dengan ajaran Catur Marga bahwa penerapannya disesuaikan dengan kondisi atau keadaan setempat berdasarkan tradisi, sima, adat-istiadat, drsta, ataupun yang lebih dikenal dengan desa, kala, patra atau desa mawa cara. Inti dan penerapan dari Catur Marga adalah untuk memantapkan mengenai hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta ini, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta memantapkan keyakinan atau kepercayaan sraddha dan pengabdian bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan memahami dan menerapkan ajaran Catur Marga, diharapkan segenap umat Hindu dapat menjadi umat Hindu yang berkualitas, bertanggung jawab, memiliki loyalitas, memiliki dedikasi, memiliki jati diri yang mulia, menjadi umat yang pantas diteladani oleh umat manusia yang lainnya, menjadi umat yang memiliki integritas tinggi terhadap kehidupan secara lahir dan batin. Harapan mulia lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera, bahagia, dan sebagainya. Jadi dengan penerapan dan ajaran catur marga diharapkan kehidupan umat Hindu dan umat manusia pada umumnya menjadi mantap dalam Sraddha dan Bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi, serta dapat harmonis dalam kehidupan nyata dengan sesama manusia, semua ciptaan Ida Sang Hyang Widhi, dan lingkungan yang damai dan serasi di sekitar kehidupan masing-masing.Tidak ada orang yang menjalankan Catur Marga itu sendiri-sendiri atau terpisah-pisah, karena satu sama lainnya berkaitan. Perincian menjadi empat itu hanyalah untuk mengukur dan memilih ‘bobot’ jalan yang mana yang bisa diutamakan, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id 79 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Misalnya seorang yang kurang pengetahuan agamanya, dapat mengutamakan Bhakti Marga dan Karma Marga saja, ditambah pengetahuan minim misalnya rajin melakukan trisandya termasuk Jñana Marga dan asana termasuk Yoga Marga. Bobotnya adalah Bhakti Marga.Tetapi seorang wikupendeta tentu bobotnya pada Jñana Marga dan Yoga Marga, walaupun Bhakti Marga yang menjadi dasar dan Karma Marga tidak juga ditinggalkan. Kesimpulannya, keempat marga itu dilaksanakan bersama-sama, namun pemilihan mana yang utama tergantung dari kemampuan individu. Inilah salah satu contoh ‘kebesaran Agama Hindu’ yang membedakannya dengan agama-agama lain. Berikut adalah bentuk-bentuk penerapan dalam kehidupan sehari-hari. 
1. Penerapan Bhakti Marga Yoga 
    a. Melaksanakan doa atau puja tri sandhya seçara rutin setiap hari 
    b. Menghaturkan banten saiban atau jotanngejot atau yajñasesa 
    c. Berbakti ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa beserta semua manifestasi-Nya 
    d. Berbakti ke hadapan leluhur 
    e. Berbakti ke hadapan para pahlawan pejuang bangsa 
    f. Melaksanakan upacara dewa yajña piodalanpuja wali, saraswati, pagerwesi, galungan, kuningan, nyepi, siwaratri, purnama, tilem, tumpek landep, tumpek wariga, tumpek krulut, tumpek wayang dan lain-lainnya  
    g. Melaksanakan upacara manusia yajña magedong-gedongan, dapetan, kepus puser, macolongan, tigang sasihin, ngotonin, munggah deha, mapandes, mawiwaha, mawinten, dan sebagainya 
    h. Melaksanakan upacara bhuta yajña masegeh, macaru, tawur, memelihara lingkungan, memelihara hewan, melakukan penghijauan, melestarikan binatang langka, dan sebagainya 
    i. Melaksanakan upacara pitra yajña bhakti ke hadapan guru rupaka atau rerama, ngaben, ngerorasin, maligia, mamukur, ngeluwer, berdana punya kepada orangtua, agar hidupnya bahagia di alam nyata ini, dan sebagainya
     j. Melaksanakan upacara resi yajña upacara pariksa, upacara diksa, upacara ngelinggihang veda, berdana punya pada sulinggih atau pandita, berguru pada orang suci, tirtha yatra ke tempat suci bersama sulinggih atau pandita, berguru pada orang suci, sungkem pranam pada sulinggih sebagai guru nabe, menerapkan ajaran tri rnam, dan sebagainya. Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id Buku Guru Kelas XI SMASMK 80 

2. Penerapan Karma Marga Yoga
 a.  Bergotong-royong membangun tempat persembahyangan.
 b Ngaturan bhakti ngayah tat kala ada upacara Dewa Yajña di pura. 
 c Membantu tetangga masyarakat yang sedang melaksanakan upacara adat agama. 
 d Menolong seseorang yang mengalami musibah. 
 e Memberikan nasehat kepada orang yang memiliki sikap kurang baik.
  f Bergotong royong membangunkan rumah kepada seseorang yang tidak mampu secara ekonomi. 
  g Membantu anak-anak yatim piatu. 
  h Membantu para orangtua yang ada dipanti-panti asuhan. 
  i Menanam pohon untuk penghijauan di tempat-tempat yang sudah tidak ada pepohonan gersangtandus. 
  j Berperan aktif dalam menjaga ketertiban, keamanan, kebersihan di mana pun berada. 
  k Berperan aktif dalam pelestarian budaya Hindu, dan pelestarian peninggalan- peninggalan sejarah Hindu. 

3. Penerapan Jñana Marga Yoga 
a.  Seorang sarjana agama rohaniawan dapat memberikan Dharmawacana pada hari Purnama, Tilem, Hari Raya di pura maupun di masyarakat untuk meningkatkan Sradha Bhaktinya kepada Sang Hyang Widhi. 
b. Seorang dokter memberikan pelayanan medis secara sukarela terhadap masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan. 
c.Seorang sarjana hukum memberikan bantuan hukum secara sukarela terhadap warga masyarakat yang sedang mengalami perkara hukum. 
d.Seorang guru, dosen, instruktur, widyaiswara dapat memberikan ilmu dan pengetahuannya terhadap murid, mahasiswa, masyarakat yang membutuhkan untuk kemajuan agar dapat hidup mandiri. 
e. Seorang sarjana ekonomi dapat menciptakan lapangan pekerjaan, mempekerjakan orang-orang yang ada di sekitarnya agar mempunyai penghasilan untuk meningkatkan taraf hidupnya. 
f. Seseorang yang mempunyai berbagai macam disiplin ilmu lainnya agar dapat berkontribusi untuk membangun mental spiritualnya, membangun isiknya untuk kemajuan masyarakat, nusa dan bangsa. 
g. Menerapkan ajaran dalam wrati sasana, slokantara, sila krama, dan ajaran Agama Hindu yang bersumber pada Veda dan susastra Hindu lainnya. Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id 81 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti 

4. Penerapan Raja Marga Yoga, di masyarakat seperti berikut. 
    a Menerapkan ajaran Astangga Yoga 
        Astangga Yoga adalah delapan tahapan yoga untuk mencapai Moksa. Astangga Yoga  diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali dalam bukunya Yoga Sutra Patanjali (KelasXII.Hal.19). Adapun bagaian-bagian dari Astangga Yoga Yakni:
1. Yama

Yama yaitu suatu bentuk larangan atau pengendalian diri yang harus dilakukan oleh seorang dari segi jasmani, misalnya, dilarang membunuh (ahimsa), dilarang berbohong (satya), pantang mengingini sesuatu yang bukan miliknya (asteya), pantang melakukan hubungan seksual (brahmacari) dan tidak menerima pemberian dari orang lain (aparigraha).

“Yaccintayati yadyàti ratin
badhnàti yatra ca,
tathà càpnotyayatnena prànino
na hinasti yah.

Kunëng phalanya nihan, ikang wwang tan pamàtimàtin haneng ràt,
senangënangënya, sapinaranya, sakahyunya, yatika sulabha katëmu
denya, tanulihnya kasakitan.

Terjemahan:

Pahalanya, orang yang tidak membunuh (menyakiti) selagi ada di dunia ini, maka segala sesuatu yang dicita-citakannya, segala yang ditujunya, segala sesuatu yang dikehendaki atau diingini olehnya, dengan mudah tercapai olehnya tanpa sesuatu penderitaan, (Sarasamuçcaya,142).

“Ànrcamsyaý kûmà satyamahinsà
dama àrjavam,
pritih prasàdo màdhuryam màrdavaý
ca yamà daça”.

Nyang brata ikang inaranan yama, pratyekanya nihan, sapuluh kwehnya, ànresangsya, kûamà, satya, ahingsà, dama, àrjawa, priti, prasàda, màdhurya, màrdawa, nahan pratyekanya sapuluh, ànresangsya, si harimbawa, tan swàrtha kewala; ksamà, si kelan ring panastis; satya, si tan mrsàwàda; ahingsà, manukhe sarwa bhàwa; dama, si upacama wruh mituturi manahnya; àrjawa, si dugà-dugabener; priti, si gong karuna; prasàda, beningning manah; màduhurya, manisning wulat lawan wuwus; màrdawa, pösning manah.
Inilah brata yang disebut yama, perinciannya demikian; ànresangsya, ksamà, satya, ahingsà, dama, àrjawa, priti, prasàda, màdhurya, màrdawa, sepuluh banyaknya; ànresangsya yaitu harimbawa, tidak mementingkan diri sendiri saja; ksamà, tahan akan panas dan dingin; satya, yaitu tidak berkata bohong (berdusta); ahingsà, berbuat selamat atau bahagianya sekalian mahluk; dama, sabar serta dapat menasehati dirinya sendiri; àrjawa, adalah tulus hati berterus terang; priti, yaitu sangat welas asih; prasàda, adalah kejernihan hati; màdhurya, yaitu manisnya pandangan (muka manis) dan manisnya perkataan (perkataan yang lemah lembut); màrdawa, adalah kelembutan hati, (Sarasamuçcaya,259).

Pengertian Astangga Yoga dan Bagian Bagiannya

HINDUALUKTA -- Astangga Yoga adalah delapan tahapan yoga untuk mencapai Moksa. Astangga Yoga diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali dalam bukunya Yoga Sutra Patanjali (KelasXII.Hal.19). Adapun bagaian-bagian dari Astangga Yoga Yakni:

Foto sjanaelise

1. Yama

Yama yaitu suatu bentuk larangan atau pengendalian diri yang harus dilakukan oleh seorang dari segi jasmani, misalnya, dilarang membunuh (ahimsa), dilarang berbohong (satya), pantang mengingini sesuatu yang bukan miliknya (asteya), pantang melakukan hubungan seksual (brahmacari) dan tidak menerima pemberian dari orang lain (aparigraha).

“Yaccintayati yadyàti ratin
badhnàti yatra ca,
tathà càpnotyayatnena prànino
na hinasti yah.

Kunëng phalanya nihan, ikang wwang tan pamàtimàtin haneng ràt,
senangënangënya, sapinaranya, sakahyunya, yatika sulabha katëmu
denya, tanulihnya kasakitan.

Terjemahan:

Pahalanya, orang yang tidak membunuh (menyakiti) selagi ada di dunia ini, maka segala sesuatu yang dicita-citakannya, segala yang ditujunya, segala sesuatu yang dikehendaki atau diingini olehnya, dengan mudah tercapai olehnya tanpa sesuatu penderitaan, (Sarasamuçcaya,142).

“Ànrcamsyaý kûmà satyamahinsà
dama àrjavam,
pritih prasàdo màdhuryam màrdavaý
ca yamà daça”.

Nyang brata ikang inaranan yama, pratyekanya nihan, sapuluh kwehnya, ànresangsya, kûamà, satya, ahingsà, dama, àrjawa, priti, prasàda, màdhurya, màrdawa, nahan pratyekanya sapuluh, ànresangsya, si harimbawa, tan swàrtha kewala; ksamà, si kelan ring panastis; satya, si tan mrsàwàda; ahingsà, manukhe sarwa bhàwa; dama, si upacama wruh mituturi manahnya; àrjawa, si dugà-dugabener; priti, si gong karuna; prasàda, beningning manah; màduhurya, manisning wulat lawan wuwus; màrdawa, pösning manah.

Terjemahan:

Inilah brata yang disebut yama, perinciannya demikian; ànresangsya, ksamà, satya, ahingsà, dama, àrjawa, priti, prasàda, màdhurya, màrdawa, sepuluh banyaknya; ànresangsya yaitu harimbawa, tidak mementingkan diri sendiri saja; ksamà, tahan akan panas dan dingin; satya, yaitu tidak berkata bohong (berdusta); ahingsà, berbuat selamat atau bahagianya sekalian mahluk; dama, sabar serta dapat menasehati dirinya sendiri; àrjawa, adalah tulus hati berterus terang; priti, yaitu sangat welas asih; prasàda, adalah kejernihan hati; màdhurya, yaitu manisnya pandangan (muka manis) dan manisnya perkataan (perkataan yang lemah lembut); màrdawa, adalah kelembutan hati, (Sarasamuçcaya,259).

2. Nyama

Nyama yaitu bentuk pengendalian diri yang lebih bersifat rohani, misalnya Sauca (tetap suci lahir batin), Santosa (selalu puas dengan apa yang datang), Swadhyaya (mempelajari kitab-kitab keagamaan) dan Iswara pranidhana (selalu bakti kepada Tuhan).

“Dànamijyà tapo dhyànam
swàdhyàyopasthaningrahah,
vratopavasamaunam ca ananam
ca niyama daûa”.

Nyang brata sapuluh kwehnya, ikang niyama ngaranya, pratyekanya, dàna, ijya, tapà, dhyana, swàdhyàya, upasthanigraha, brata, upawàsa, mauna, snàna, nahan ta awakning niyama, dàna weweh, annadànàdi; ijyà, Devapujà, pitrpujàdi, tapa kàyasangcosana, kasatan ikang ûarira, bhucarya, jalatyagàdi, dhyana, ikang siwaûmarana, swàdhyàya, wedàbhyasa, upasthanigraha, kahrtaning upastha, brata annawarjàdi, mauna wàcangyama, kahrtaning ujar, haywàkeceng kuneng, snàna, trisangdhyàsewana, madyusa ring kàlaning sandhya.

Terjemahan:

Inilah brata sepuluh banyaknya yang disebut niyama, perinciannya; dàna, ijya, tapà, dhyana, swàdhyàya, upasthanigraha, brata, upawàsa, mauna, snàna, itulah yang merupakan niyama, dàna, pemberian makanan- minuman dan lain-lain; ijya, pujaan kepada Deva, kepada leluhur dan lain-lain sejenis itu; tapà, pengekangan nafsu jasmaniah, badan yang seluruhnya kurus kering, layu, berbaring di atas tanah, di atas air dan di atas alas-alas lain sejenis itu; dhyana, tepekur merenungkan Çiwa; swàdhyàya, yakin mempelajari Veda; upasthanigraha, pengekangan upastha, singkatnya pengendalian nafsu seksual; brata/upawàsa, pengekangan nafsu terhadap makanan dan minuman; mauna/mona, itu wacanyama berarti menahan, tidak mengucapkan kata-kata yaitu tidak berkata-kata sama sekali tidak bersuara; snàna, trisandhyasewana, mengikuti trisandhya, mandi membersihkan diri pada waktu pagi, tengah hari dan petang hari, (Sarasamuçcaya, 260).

Baca: Pengertian Bhakti Marga Yoga

3. Asana

Asana yaitu sikap duduk yang menyenangkan, teratur dan disiplin (silasana, padmasana, bajrasana, dan sukhasana).

4. Pranayama

Pranayama, yaitu mengatur pernafasan sehingga menjadi sempurna melalui tiga jalan yaitu puraka (menarik nafas), kumbhaka (menahan nafas) dan recaka (mengeluarkan nafas).

5. Pratyahara
Pratyahara, yaitu mengontrol dan mengendalikan indria dari ikatan objeknya, sehingga orang dapat melihat hal-hal suci.

6. Dharana

Dharana, yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan sasaran yang diinginkan.

7. Dhyana

Dhyna, yaitu pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan kepada suatu objek. Dhyana dapat dilakukan terhadap Ista Devata.

8. Samadhi

Samaddhi, yaitu penyatuan atman (sang diri sejati dengan Brahman). Bila seseorang melakukan latihan yoga dengan teratur dan sungguh-sungguh ia akan dapat menerima getaran-getaran suci dan wahyu Tuhan.
    b Melakukan introspeksi atau pengendalian diri 
    c Menerapkan ajaran tapa, brata, yoga dan samadhi 
    d Melakukan latihan praktik-praktik yoga secara berkelanjutan 
    e Membangun pasraman atau paguyuban untuk praktik yoga 
    f Mengelola ashram yang bergerak di bidang pendidikan rohani, agama, spiritual, dan upaya pencerahan diri lahir batin. 
    g. Melaksanakan meditasi setiap hari untuk ketenangan dan kebahagiaan batin. 

       Ajaran Catur Marga Yoga memberikan kemudahan kepada umat Hindu sesuai dengan tingkat kemampuan dan kesempatan yang dimiliki sehingga tidak mengurangi rasa yakin dan percayanya terhadap Kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebab kondisi umat bertingkat-tingkat ada yang masih anak-anak, dewasa, tua, bahkan dalam tingkatan penguasaan pemahaman ajaran agama Hindu juga berjenjang. Catur Marga Yoga ini merupakan salah satu cara atau jalan terbaik untuk mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

    Oleh karena itu, kita sebagai umat hindu hendaknya melaksanakan ajaran Catur Marga Yoga dengan hati yang ikhlas, sehingga kualitas kehidupan akan lebih meningkat dan cenderung ke arah yang lebih baik, menuju jalan kebenaran. Manusia tidak dapat memilih di mana kita dilahirkan. Jadi kalau dilahirkan di keluarga petani maka dipastikan anak tersebut akan tumbuh dan besar menjadi petani.

     Kalau dilahirkan pada keluarga berpendidikan tinggi maka dipastikan akan menjadi orang tingkat pengetahuannya lebih maju. Jadi melalui ajaran Catur Marga Yoga diharapkan setiap umat mendapatkan karunia dari kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi, sehingga tujuan ajaran agama Hindu dapat terwujud yaitu Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma atau kebahagian dan kesejahteran jasmani dan rohani, yaitu kehidupan yang berkeseimbangan dan berkesinambungan. 

        Hubungan Catur Marga dengan tujuan ajaran Agama Hindu, termasuk juga umat Hindu adalah seperti berikut ini. 
    1. Moksartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma 
    2. Catur Purusartha 
    3. Santa Jagadhita 
    4. Sukerta Sakala lan Niskala 
    5. Mencapai keharmonisan hidup sesuai ajaran Catur Marga Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id Buku Guru Kelas XI SMASMK 82 

    Catur Marga sesungguhnya telah diterapkan secara rutin dalam kehidupan sehari- hari, termasuk juga oleh umat Hindu yang tinggal di Bali maupun yang tinggal di luar Bali. Banyak cara dan jalan yang dapat ditempuh untuk dapat menerapkannya. Sesuai dengan ajaran Catur Marga bahwa penerapannya disesuaikan dengan kondisi atau keadaan setempat berdasarkan tradisi, sima, adat istiadat, drsta, ataupun yang lebih dikenal di Bali yakni desa, kala, patra atau desa mawa cara. Inti dari penerapan Catur Marga adalah untuk memantapkan hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta memantapkan keyakinan atau kepercayaan sraddha dan pengabdian bhakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan memahami dan menerapkan ajaran Catur Marga, diharapkan segenap umat Hindu bertanggung jawab, memiliki loyalitas, dedikasi, memiliki jati diri yang mulia dan harapan lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera, bahagia dan sebagainya. Jadi melalui penerapan ajaran Catur Marga diharapkan agar tujuan agama Hindu dapat terwujudkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Materi : C. SAD DARSANA

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA