Materi 8 Pendidikan Agama Hindu Dan Budhi Pekerti Kls X

 C. TITHI ( Pananggal dan Panglong )


Pengertian Penanggal dan Panglong

Perhitungan baik buruknya hari berdasarkan atas penanggal dan panglong :

1. Tanggal atau pananggal disebut juga Sukla Paksa yang berarti bulan terang (setelah bulan mati) yaitu hari-hari setelah tilem seperti hari pertama setelah tilem disebut tanggal apisan (tanggal 1), hari kedua tanggal pindo (tanggal 2) dan seterusnya sampai tanggal 14 yang disebut purwani, dan tanggal 15 disebut Purnama.

2. Panglong disebut juga Kresna Paksa yang berarti bulan gelap (waktu bulan gelap) yaitu hari-hari setelah Purnama, seperti hari pertama setelah purnama disebut panglong apisan (panglong 1), hari kedua disebut panglong 2 dan seterusnya sampai panglong 14 yang disebut juga purwani dan panglong 15 disebut tilem. Tanggal atau penanggal dan panglong itu mempunyai perhitungan baik dan buruk hari (ala-ayu), disamping itu ada pula perhitungan sedang (tidak baik dan tidak buruk atau madia). Demikian pula apabila pananggal panglong itu bertemu dengan sapta wara, panca wara, sasih, dan yang lainnya, maka akan muncul padewasan baik dan buruk (ala-ayu).

Para orang tua / kakek nenek / pinih sepuh kita (bali khususnya) tentu telah tahu bahwasannya yang namanya penaggal/ pangelong adalah menjadi patokan untuk mencari dewasa / hari baik. Tapi untuk para generasi muda (yang lahir sebelum tahun 80-an) saya yakin tidak begitu mengerti akan penanggal dan pangelong. Dalam hal ini saya juga tahu hanya sedikit, namun mari kita berbagi...

Penanggal/Enyitan :
Sebutan penanggal dimulai sehari setelah tilem (bulan mati) sampai dengan sehari sebelum purnama (bulan penuh), dengan sebutan : penanggal ping pisan, penanggal ping kalih, penanggal ping tiga, dan seterusnya. 


Pangelong/ Uwudan :
Sebutan pangelong dimulai sehari setelah purnama (bulan penuh) sampai dengan sehari sebelum tilem (bulan mati), dengan sebutan : pangelong ping pisan, pangelong ping kalih, pangelong ping tiga, dan seterusnya.

Bila saat Penanggal > semakin hari semakin lama bulan tenggelam, Bila saat Pangelong > semakin hari semakin cepat bulan tenggelam.

Lumayan banyak yang tahu bahwa setiap sasih akan ada purnama (bulan penuh) dan ada tilem (bulan mati). Purnama dan tilem adalah suatu tonggak sasih, ingatlah selalu bahwa :
-          Purnama = Pertengahan sasih
-          Tilem = Akhir sasih (hari terakhir suatu sasih)
dengan kata lain, bila hari ini adalah tilem/bulan mati, maka besok adalah sasih baru (penanggal ping pisan).

Tidaklah banyak yang menyadari bahwa Hari Raya Nyepi adalah merupakan pas penanggal ping pisan sasih kedasa (awal tahun baru saka/maka ada  ada ucapan selamat tahun baru saka ..... ).

Sehari sebelum Tilem = Purwanining Tilem, sehari sebelum Purnama = Purwanining Purnama
contoh > purwanining Tilem Kepitu = Hari Raya Siwa Ratri ( malam peleburan/penebusan dosa ) 

Padewasan Pananggal-Panglong terdapat pada tabel sebagai berikut :

Baik Buruknya Pananggal menurut Teks Wariga Diwasa

PananggalDewa YajñaPitra YajñaManusa YajñaWiwaha YajñaBhuta Yajña
1AyuAyuAyuAyuAyu
2AyuAyuAyuAyuAyu
3AyuAyuAyuAyuAyu
4XXXXX
5AyuAyuAyuAyuAyu
6XXXXX
7AyuAyuAyuAyuAyu
8XXXXX
9XXXXX
10AyuAyuAyuAyuAyu
11AyuAyuAyuAyuAyu
12XXXXX
13AyuAyuAyuAyuAyu
14XXXXX
15AyuXXXX
Baik Buruknya Pananggal Persefektif Teks Sundariterus
PananggalWujud HariBaik/Buruk
1Jaran/kudaBaik untuk Dewa Yajña
2Kidang/kijangBaik
3MacanBaik
4Kucit/anak babiBaik
5Sampi/sapiBuruk
6Kebo/kerbauBaik
7bikul/tikusBuruk
8LembuBaik
9Asu/anjingBuruk
10NagaBaik
11KambingBaik
12MenjanganBaik
13GajahBaik
14SingaBuruk
15Mina/ikanBaik
Baik Buruknya Panglong Persefektif Teks Sundariterus
PanglongWujud HariBaik/Buruk
1Celeng/babiBuruk
2sikep/elangbaik untuk menghadap raja
3lelipan/lipanbaik untuk dewa Yajña
4klesih/trenggilingBuruk
5konta/untaBaik
6manusa/manusiaBuruk
7manusa saktiBaik
8bala/prajuritBaik
9padang/rumputBaik
10pacet/lintahBuruk
11lutung/monyetBaik
12lelipi/ularBaik
13gruda/garudaBaik
14uled/ulatBuruk
15kekua/kura-kuraBuruk

Berdasarkan Sasih

Padewasan sasih adalah hitungan baik buruknya bulan bulan tertentu yang berpedoman pada letak matahari, apakah berada di Uttarayana (utara), Wiswayana (tengah) atau Daksinayana (selatan). Berikut akan diuraikan Ala Ayuning Sasih berdasarkan Teks Wariga Dewasa seperti tabel berikut ini:

Ala Ayuning Sasih berdasarkan Teks Wariga Dewasa
Ala Ayuning Sasih berdasarkan Teks Wariga Dewasa
Ala Ayuning Sasih berdasarkan Teks Wariga Dewasa

Agama Hindu mempergunakan panduan sasih antara sasih Candra dengan Sasih Surya sehingga ada perhitungan “pengrapetang sasih”. Hal ini dilakukan karena disadari betul bahwa bulan dan matahari mempunyai pengaruh besar terhadap bumi dan isinya. Selain penentuan Padewasan, hari suci agama Hindu, yang berdasarkan sasih adalah:

1) Pada hari Purnama beryoga Sang Hynag Candra (wulan), 
  • Pada hari Tilem beryoga Sang Hynag Surya. Jadi pada hari Purnama-Tilem adalah hari penyucian Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) pujalah beliau dengan Candrastawa (Somastawa). Pada waktu Sūrya graham (gerhana matahari) pujalah beliau dengan Sūryacakra Bhuanasthawa.

2) Sasih Kapat
  • Purnama Kapat merupakan beryoganya Bhatara Parameswara, beliau Sang hynag Purusangkara diiringi oleh Para Dewa, Widyadara-Widyadari dan para Rsigna. Selanjutnya pada Tilem dapat dilakukan penyucian batin, persembahan kepada Widyadara-widyadari.

3) Sasih Kepitu
  • Purwaning Tilem Kepitu disebut hari Sivaratri, yaitu beryoganya Bhatara Siva dalam rangka melebur kotoran alam semesta termasuk dosa manusia. Pada hari ini umat Hindu melakukan Bratha Sivaratri, yaitu Mona, Upawasa, dan Jagra.

4) Sasih Kesanga
  • Tilem Kesanga adalah hari pesucian para dewata, dilakukan Bhuta Yajna, yaitu tawur agung kesanga sebagai tutup tahun Saka.

5) Sasih Kedasa
  • Penanggal 1 (bulan terang pertama) sasih Kedasa disebut hari Suci Nyepi, yaitu tahun baru Saka. Pada saat ini turunlah Sang Hyang Darma. Purnama Kedasa beryoganya Sang Hyang Surya Amertha pada Sad Khayangan Wisesa.

6) Sasih Sada
  • Pada Purnama Sadha, patutlah umat Hindu memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan.

Berdasarkan Dauh

Padewasan menurut dauh merupakan ketetapan dalam menentukan waktu yang baik dalam sehari guna penyelenggaraan suatu upacara-upacara tertentu.

Pentingnya dari dewasa dauh akan sangat diperlukan apabila upacara-upacara yang akan dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dauh jika dibandingkan mirip dengan pembagian waktu menurut jam, namun bedanya hanya penempatan panjangnya waktu. Hitungan jam dalam sehari dibagi 24, hingga sehari dalam hitungan jam panjangnya 24 jam. Dalam perhitungan dewasa dauh mengandung makna dalam waktu satu hari terdapat dauh (waktu-waktu tertentu) yang cocok untuk melakukan suatu kegiatan. Signifikasi dari dewasa dauh diperlukan apabila upacaraupacara yang dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dalam  perhitungan dewasa berdasarkan dauh mempunyai beberapa hitungan, yakni berdasarkan Panca dauh dan Asta dauh.

a. Sistem Panca dauh (Sukaranti) adalah pembagian waktu (hari) dalam sehari menjadi 10 bagian, dengan hitungan 5 dauh untuk menghitung panjangnya siang (setelah matahari terbit hingga menjelang terbenam) dan 5 dauh lagi untuk menghitung panjangnya malam/wengi (dari matahari tenggelam hingga terbit).

Sistem Panca Dauh
Sistem Panca Dauh
Keterangan :
  1. Kr: Kerta: Ayu (baik)
  2. Pe: Peta: Madya (menengah)
  3. Pa: Pati: Ala (Jelek)
  4. Su: Sunia: Ala (buruk)
  5. Ke: Ketara: Ayu (baik)
Catatan: Ala-Ayu dauh Sukaranti pada Pengelong dihitung terbalik (1 menjadi 5)
b. Sistem Asta dauh yang memiliki konsep yang sama dengan Panca dauh, bedanya hanya pembagian waktunya menjadi 16, dengan perincian 8 dauh untuk menghitung panjang waktu mulai matahari terbit, hingga menjelang terbenam dan 8 dauh lagi untuk untuk menghitung panjangnya malam hari dari terbenamnya matahari hingga menjelang terbit.
Sistem Asta Dauh
Sistem Asta Dauh

Perbandingan Asta Dauh dengan Jam Indonesia Tengah
Perbandingan Asta Dauh dengan Jam Indonesia Tengah

Sekian pembahasan mengenai Pengertian Padewasan Penanggal Panglong, Sasih, Dauh dan juga disertai dengan tabel agar lebih mudah dimengerti, jika bukan artikel ini yang sobat cari, mungkin materi dibawah ini dapat menjawabnya, selamat belajar!

Penanggal dan pengelong perhitungannya berdasarkan peredaran bulan satelit dari bumi sebagai berikut :
  1. Penanggal (tanggal) disebut Suklapaksa.
Perhitungan hari – harinya adalah sesudah bulan mati/tilem sampai dengan purnama (bulan sempurna), lamanya sekitar 15 hari dari penanggal 1 s/d 15.
Penanggal 14 sering disebut Purwani artinya bulan mulai akan sempurna nampak dari bumi. Sedangkan penanggal 15 disebut Purnama artinya bulan sudah bulat betul atau bulan sempurna nampak dari bumi.
2. Pengelong disebut Kresnapaksa
Perhitungan hari-harinya adalah sehari sesudah purnama lamanya sekitar 15 hari dari pengelong 1 s.d 15. pengelong 14 sering disebut Purwanning Tilem artinya bulan mulai akan tidak nampak dari bumi. Sedangkan pengelong 15 disebut Tilem artinya bulan sama sekali tidak nampak dari bumi.
Pedewasan yang muncul dari penanggal / pengelong
Penanggal/ pengelong
  1. Semua pekerjaan boleh dilakukan dan berhasil tergolong baik.
  2. Tidak ada halangan, semua pekerjaan berhasil tergolong baik
  3. Tidak berhasil tergolong buruk
    1. Kosong tidak ada apa-apa,tidak berhasil buruk
    2. Menemui makanan tergolong baik
    3. Tidak mendapat dana punia/persembahan tergolong buruk
    4. Rahayu ( selamat ) tergolong baik
    5. Rusak (kaon) tergolong buruk
    6. Medurgama (amat berbahaya) amat buruk
    7. Rahayu (selamat) tergolong baik
    8. Jika berpergian mendapat kesenangan Tergolong baik
    9. Menyebabkan kematian tergolong buruk
    10. Selamat dan senang tergolong baik sekali
    11. Menderita ( sengsara ) tergolong buruk
15 Dicintai anak ( tresnain anak ) tergolong Baik.
Ala Ayuning Pananggal Pawiwahan
Baik buruknya Penanggal dalam upacara pernikahan.
Pananggal ( Tanggal ) :
  1. Baik : senang dan selamat
  2. Baik : kerabat, teman-teman menaruh rasa sayang
  3. sedang/madya : banyak mempunyai putra
  4. Buruk : menyebabkan janda
  5. Baik : senang dan selamat
  6. Buruk : menderiata (keduhkitan)
  7. Baik : amat bahagia
  8. Buruk : menderita sakit-sakitan
  9. buruk sekali : penderitaan tak putus-putusnya
  10. Baik sekali : kaya raya
  11. Buruk : tidak berhasil
  12. Buruk : menderita (kalaran)
  13. Baik : berhasil
  14. Buruk : bertengkar menybabkan perceraian.
    1. Buruk sekali : selamanya menderita (tanpegat Kelaran ).




IV. Sasih
Sasih disebut masa artinya bulan. Dalam setahun terdiri dari 12 masa atau 12 bulan. Sasih ada beberapa jenis sebagai berikut :

Jenis Sasih
  1. Sasih Wuku : mengikuti jalannya wuku yaitu 2 x 210 hari = 420 hari. Tiap bulan umurnya 35 hari.
  2. Sasih Candra : mengikuti peredaran bulan mengeliling bumi lamanya 354/355 hari, setiap bulan umurnya 29/30 hari tepatnya 29 hari 12 jam 44 menit 9 detik
  3. Sasih Surya : mengikuti perderan bumi mengeliling matahari lamanya 365/366 hari. Tepatnya dalam setahun 365 hari 5jam 43 menit 46 detik. Tiap bulan umurnya berkisar 30/31 hari dan sasih kawolu umurnya 26/29 hari.

Nama – nama sasih
(jawa) (Bali) (sekitar bln)
1. Srawana - kasa - Juli
2. Bhadrawada - karo - Agustus
3. Asuji/aswino - Katiga - September
4. Kartika - Kapat - Oktober
5. Marggasirsa - Kalima - November
6. Posya - Kanem - Desember
7. Magha - Kapitu - Januari
8. Palguna - Kawolu - Februari
9. Caitra - Kasanga - Maret
10. Waisaka - Kadasa - April
11. Jyesta - Desta - Mei
12. Asadha - Sada - Juni.

Sasih Hubungannya dengan Wiwaha ( Upacara Pernikahan )
  1. Srawana : Buruk, anak – anaknya menderita
  2. Bhadrawada : Buruk, sangat miskin
  3. Asuji : Sedang, banyak anak
  4. Kartika : Baik,kaya dicintai orang
  5. Marggasirsa : Baik, tidak kurang makan dan minum
  6. Posya : Buruk, janda
    1. Magha : Baik, mendapat keselamatan dan Panjang umur
8. Palguna : Buruk, kurang makan dan minum
9. Caitara : Buruk sekali, selalu sengsara sakit-sakitan
10. Waisaka : Baik sekali, kaya raya selalu gembira
11. Jyesta : Buruk, duka,sering bertengkar marah
12. Asadha : Buruk, sakit – sakitan.
Catatan :
  1. Sasih yang baik untuk Pitra Yadnya : Kasa,karo, katiga
  2. Sasih yang baik untuk Dewa Yadnya : Kapat, kalima, kapitu, kadasa.
  3. Sasih yang baik untuk Bhuta Yadnya : Kanem dan kasanga
  4. Sasih baik untuk mamukur : Kadasa

V. Dawuh
Dawuh berarti Waktu atau Jam. Dasar perhitungannya adalah Rotasi bumi pada sumbunya, sehingga terjadi perubahan setiap saat. Sekali pusingan bumi pada sumbunya adalah 24 jam (1 hari). Perhitungan dawuh pada umumnya dimulai dari matahari terbit.
Jenis – jenis Dawuh :
  1. Dawuh Sekaranti : perhitungannya 12 jam : 5 sehingga setiap Dawuh lamanya 2 jam 24 menit
  2. Panca Dawuh : perhitungannya 12 jam : 5, sehingga setiap Dawuh lamanya 2 jam 24 menit.
  3. Asta dawuh : perhitungannya 12 jam : 8, sehingga setiap Dawuh lamanya 1 jam 30 menit.



Sarining dawuh atau Dawuh Inti.
Sarining Dawuh atau Dawuh Inti adalah waktu atau jam – jam yang baik ( dawuh ayu ) untuk memulai suatu pekerjaan. Sarining dawuh adalah merupakan saringan dari pertemuan Panca dawuh dengan Asta dawuh sebagai berikut:
  1. Minggu/Redite,
Siang : 00.70-07.54 dan10.18-12.42
Malam : 22.18-24.42 dan03.00-04.00
2.Senin/Coma,
Siang : 07.54-10.18
Malam : 24.42-03.06
3.Selasa/Anggara,
Siang : 10.00-11.30 dan 13.00-15.00
Malam :19.54-22.00 dan 22.30-01.00
4. Rabu/Buda,
Siang : 07.54-08-30 dan 11.30-12.42
Malam : 22.18-23.30 dan 02.30-03.00
5. Kamis/Wraspati,
Siang : 05.30-07.54 dan 18.42-14.30
Malam :20.30-22.18 dan 03.06-05.30
6. jumat/Sukra,
Siang : 08.30-10.18 dan 16.00-17.30
Malam : 17.30-19.00 dan 24.42-02.30
7.Sabtu/ Saniscara
Siang : 11.30-12.42
Malam : 22.18-23.30

II GAMBARAN UMUM TENTANG PENANGGALAN SAKA BALI
Kalender Saka Bali adalah Kalender yang khusus di buat di Bali, dengan inti didalamnya adalah Ilmu Wariga dalam memperhitungkan ala-ayuning Dewasa ( hari baik dan hari buruk untuk suatu kegiatan), dan Pelaksanaan kegiatan keagamaan akan selalu berpedoman pada kalender Saka Bali ini. Berbeda dengan kalender-kalender lainnya,Kalender Saka Bali ini belum bisa dipastikan siapa penciptanya, namun melihat dari perkembangannya, dan peredarannya Kalender Saka Bali ini, maka akan diketemukan Beliau seperti Bapak I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dan Bapak I ketut Bambang GD. Rawi (alm), adalah sebagai perintis kalender yang kita warisi sekarang ini.
Secara umum Kalender Saka Bali merangkum empat sitem kalender yaitu :
1. Solar sistem ( surya pramana ). Adalah pola kalender yang berpedoman dengan jangka waktu peredaran bumi mengelilingi matahari, yang dinyatakan satu tahun disebut satu tahun surya ( umur tahunnya : 365 hari, 48 menit, 46 detik. / 365, 22 hari.)
2. Lunar sistem ( Candra Pramana ). Adalah pola kalender dengan jangka waktu peredaran Bulan mengelilingi Bumi, selama : 29 hari, 12 jam, 44 menit, yang dinyatakan satu bulan, dan satu tahunnya adalah dua belas bulan disebut satu tahun candra ( 354 hari, 48 menit, 36 detik.)
3. Luni Solar sistem ( Tahun Surya Candra) adalah pola kalender yang berpedoman dengan penggabungan tahun Surya dengan Tahun Candra. Umur tahunnya ada dua macam ; tahun panjang berumur 13 bulan candra dan tahun pendek berumur 12 bulan candra.
4. Sistem Wuku yang perhitungannya berdasarkan perputaran Wuku yang jumblahnya 30 wuku, mulai dari Sinta dan berakhir pada Watu Gunung. Satu wuku terdiri dari 7 hari. Satu bulan wuku terdiri dari 35 hari, dan satu tahunnya adalah 420 hari.
Penanggalan saka Bali adalah penanggalan yang banyak dipengaruhi oleh unsur mistik (religius) disamping juga ditentukan oleh beberapa unsur lainnya seperti : unsur matematis yang menyangkut umur hari, umur bulan dan umur tahunnya. Unsur sistematis yang menyangkut bagaimana ketepatan perhitungan hari-hari suci dalam kegiatan keagamaan dan secara unsur Geograpisnya penetapan bulan dan tutup tahunnya tepat sehingga dalam penerapannya mudah dipahami oleh masyarakat. Kalender saka Bali menterpadukan seluruh sistemmatika kalender, karena itulah umur tahunnya ada dua macam yaitu ; tahun panjang dengan 13 bulannya dan tahun pendek dengan 12 bulannya, ini terjadi akibat penggabungan surya-candra pramana.
Pada tahun pendek yang berumur 12 bulan, adalah biasa, namun pada saat tahun panjang yang berumur 13 bulan akan diketemukan suatu permasalahan terutama pada dalam menetapkan sisipan 1 bulan yang dikenal dengan istilah “Pangrepeting Sasih” atau nampih sasih.
Kalender Saka Bali menempatkan bulan yang ke 13 dengan nama MALAMASA, hanya pada dua jenis sasih yaitu pada sasih Desta dan Pada Sasih Sada dengan sumber sastranya mengacu pada suatu sumber Wariga yang berbunyi :
Mwah kengetakna ikang mimitaning sasih, ring pratipada ikang sukla paksa, muah madianing sasih ana ring purnama sukla paksa, muah panelasaning sasih ana ring Tilem-Kresna paksa pwa ya. Maka pamurwaning sasih kahanan dening sukla paksa lan kresna paksa, luir danu lawan segara, esok lawan sore. Muah aja lipia pangrepeting sasih ngaran Malamasa, ana ring Desta-Sada, panemugelangin daksinayana, Iswayana, Utarayana, panglanglanging surya.
Arti bebas : Dan ingatlah, mulainya sasih adalah awalnya Suklapaksa. Dan pertengahan sasih adalah purnama sukla paksa, serta berakhirnya sasih adalah tilem kresna paksa. Keberadaan sasih yang terdiri dari suklapaksa dan kresnapaksa bagaikan danau dan samudra, pagi dan sore. Dan jangan lalai pangrepeting sasih dinamakan malamasa ada pada desta-sada pertemuan putaran daksinayana (keselatan), Iswayana (tengah), Utarayana (utara), peredaran matahari.
Dari sumber sastra wariga yang tercantum di atas, apabila diperhatikan dan dijabarkan, maka akan terdapat suatu rumusan sebagai berikut :
  1. Mulainya suatu sasih adalah awalnya sukla paksa yaitu penanggal 1 (apisan)
  2. Pertengahan sasih adalah purnama, (penanggal 15)
  3. Berakhirnya suatu sasih adalah tilem (panglong 15 )
  4. Pangrepeting sasih dinamakan malamasa, ada pada sasih desta dan sasih sada.
Pangrepeting sasih dalam penanggalan Saka Bali hanya ada pada sasih desta dan sada saja, menunjukan suatu rumusan yang sangat sistematis praktis. Sistematis praktis menunjukan suatu sistem yang mudah untuk diterapkan secara praktis. Sistem rumusannya mudah diingat, dan tidak ada lagi sasih lain yang di mala-kan.
Disamping itu pangrepeting sasih malamasa sangat tepat menurut padewasan. Dalam padewasan sasih desta-sada ini dikatagorikan sebagai sasih sebel yaitu sasih yang tidak baik untuk segala macam padewasan (panca yadnya). Jadi dengan penempatan sasih mala pada sasih desata-sada sangat tepat, dan untuk sasih yang lainnya dari Kasa sampai Kadasa tidak ada yang ditampih sehingga tidak membingungkan dalam penerapan padewasan menurut sasih terutama dalam upacara odalan atau ngaben ngerit pada sasih-sasih yang baik untuk itu. Selain itu posisi tilem kesanga selalu ada di bulan maret, tilem kepitu selalu ada pada bulan januari, dan tilem sasih katiga selalu ada pada bulan september. Dengan posisi tilem kesanga yang selalu berada pada bulan maret, amatlah mudah untuk mengetahui kapan pelaksanaan Tawur kesanga serta hari Nyepi sebagai tahun Baru kalender Saka Bali. Secara alami pada bulan ini posisi matahari tepat berada diatas bumi yang secara umum dikenal dengan istilah bajeging surya, lamanya waktu siang dan malam sama atau dalam keadaan seimbang. Tepatlah pelaksanaan tawur kesanga ini dilaksanakan pada tilem kesanga, tilem yang ada di bulan maret.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Materi : C. SAD DARSANA

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA