Materi ke- 9 Pendidikan Agama Hindu Dan Budhi Pekerti Kelas X

 



3.1.4       SASIH

ð  Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. 
Sasih adalah masa, yang dalam setahun sasih terdiri dari 12 masa atau 12 sasih.
Dimana perubahan sifat bulan dalam setiap pengunyan sasih juga disebutkan akan dapat mengakibatkan perubahan musim yang berdampak pada suka dan duka dalam kehidupan ini.
Dan dengan tujuan supaya sasih-sasih tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupan manusia oleh umat Hindu di Bali biasanya dilaksanakan upacara caru sasih untuk setiap bulannya.
Dalam wariga dan penanggalan saka Bali, beberapa perhitungan sasih ini disebutkan sebagai berikut :
  1. Sasih Wuku : mengikuti jalannya wuku yaitu 2 x 210 hari = 420 hari. Tiap sasih umurnya 35 hari.
  2. Sasih dalam perhitungan Surya Candra,
    • Sasih Candra : mengikuti peredaran bulan mengeliling bumi lamanya 354/355 hari, setiap bulan umurnya 29/30 hari tepatnya 29 hari 12 jam 44 menit 9 detik
    • Sasih Surya : mengikuti perderan bumi mengeliling matahari lamanya 365/366 hari. Tepatnya dalam setahun 365 hari 5 jam 43 menit 46 detik. Tiap bulan umurnya berkisar 30/31 hari dan sasih kawolu umurnya 26/29 hari.
Nama – nama sasih (jawa) (Bali) (sekitar bln)
  1. Srawana - kasa - Juli
  2. Bhadrawada - karo - Agustus
  3. Asuji/aswino - Katiga - September
  4. Kartika - Kapat - Oktober
  5. Marggasirsa - Kalima - November
  6. Posya - Kanem - Desember
  7. Magha - Kapitu - Januari
  8. Palguna - Kawolu - Februari
  9. Caitra - Kasanga - Maret
  10. Waisaka - Kadasa - April
  11. Jyesta - Desta - Mei
  12. Asadha - Sada - Juni.
Demikian disebutkan sasih dalam kutipan artikel penanggalan | Romo sebagai bagian dari wariga dalam pelaksanaan upacara yadnya dan hari raya umat Hindu di Bali.

Mari kita saling berbagi pengetahuan
Untuk menyeimbangkan atau mengharmoniskan ruang dan waktu alam berserta lingkungan ini berdasarkan sasih, dimana sasih artinya bulan atau masa. 
Dengan tujuan supaya sasih-sasih tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupan manusia, yang sebagaimana disebutkan Caru Palemahan Dan Sasih Dalam Agama Hindu Di Bali :

Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan, yadnya, dll. adapun pembagian sasih tersebut adalah;

1.      Kasa = Rekata = Juni– Juli.
2.      Karo = Singa = Juli –Agustus.
3.      Ketiga = Kania = Agustus – September.
4.      Kapat = Tula = September – Oktober.
5.      Kelima = Mercika = Oktober – November.
6.      Kenem = Danuh = November – Desember.
7.      Kepitu = Mekara = Desember – Januari.
8.      Kewulu = Kumba = Januari – Februari.
9.      Kesanga = MIna = Februari – Maret.
10.  Kedasa = Mesa = Maret – April.
11.  Jiyestha = Wresaba = April – Mei.
12.  Sadha = Mintuna = Mei – Juni.

Agama Hindu mempergunakan panduan sasih antara sasih Candra dengan Sasih Surya sehingga ada perhitungan “pengrapetang sasih”. Hal ini dilakukan karena disadari betul bahwa bulan dan matahari mempunyai pengaruh besar terhadap bumi dan isinya. Selain penentuan Padewasan, hari suci agama Hindu, yang berdasarkan sasih adalah:
a.       Pada hari Purnama beryoga Sang Hynag Candra (wulan), Pada hari Tilem beryoga Sang Hynag Surya. Jadi pada hari Purnama-Tilem adalah hari penyucian Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) pujalah beliau dengan Candrastawa (Somastawa). Pada waktu Sūrya graham (gerhana matahari) pujalah beliau dengan Sūryacakra Bhuanasthawa.
b.      Sasih Kapat Purnama Kapat merupakan beryoganya Bhatara Parameswara, beliau Sang hynag Purusangkara diiringi oleh Para Dewa, Widyadara-Widyadari dan para Rsigna. Selanjutnya pada Tilem dapat dilakukan penyucian batin, persembahan kepada Widyadara-widyadari.
c.       Sasih Kepitu Purwaning Tilem Kepitu disebut hari Sivaratri, yaitu beryoganya Bhatara Siva dalam rangka melebur kotoran alam semesta termasuk dosa manusia. Pada hari ini umat Hindu melakukan Bratha Sivaratri, yaitu Mona, Upawasa, dan Jagra.
d.      Sasih Kesanga Tilem Kesanga adalah hari pesucian para dewata, dilakukan Bhuta Yajna, yaitu tawur agung kesanga sebagai tutup tahun Saka.
e.       Sasih Kedasa Penanggal 1 (bulan terang pertama) sasih Kedasa disebut hari Suci Nyepi, yaitu tahun baru Saka. Pada saat ini turunlah Sang Hyang Darma. Purnama Kedasa beryoganya Sang Hyang Surya Amertha pada Sad Khayangan Wisesa.
f.       Sasih Sada Pada Purnama Sadha, patutlah umat Hindu memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan.

3.1.5        DAUH

Padewasan menurut dauh merupakan ketetapan dalam menentukan waktu yang baik dalam sehari guna penyelenggaraan suatu upacara-upacara tertentu. Pentingnya dari dewasa dauh akan sangat diperlukan apabila upacara-upacara yang akan dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dauh jika dibandingkan mirip dengan pembagian waktu menurut jam, namun bedanya hanya penempatan panjangnya waktu. Hitungan jam dalam sehari dibagi 24, hingga sehari dalam hitungan jam panjangnya 24 jam.
Dalam perhitungan dewasa dauh mengandung makna dalam waktu satu hari terdapat dauh (waktu-waktu tertentu) yang cocok untuk melakukan suatu kegiatan. Signifikasi dari dewasa dauh diperlukan apabila upacaraupacara yang dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dalam perhitungan dewasa berdasarkan dauh mempunyai beberapa hitungan, yakni berdasarkan Panca dauh dan Asta dauh.

Ø  Yang dimaksud dengan WETU adalah kodrat atau kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang berdasarkan MANAH (pikiran) hening suci nirmala.

Dalam pengertian ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu.

Misalnya jika tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal sebagai korban peperangan, huru-hara, dll., maka padewasaan dapat dikecualikan dengan upacara maguru piduka, macaru ala dewasa, mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dll.

ð  Berarti, sejelek-jeleknya Padewasaan itu dapat di ruat dengan banten yang disebut dengan pamarisudha mala dewasa, dengan tetandingan banten tersebut, asal tidak bertentangan dengan ketentuan baku dalam sastra atau hukum agama dan disaksikan oleh Sang Hyang Triodasa Saksi (13 saksi) yaitu Aditya, Chandra / Agni, Apah, Akasa, Pritiwi, Atma, Yama, Akasa, Ratri, Sandhya, Dwaya. Demikian disebutkan dalam kutipan Bab I Jyotisa Wedangga.

v  Pelaksanaan padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:
1.      padewasaan sadina artinya sehari-hari, dan
2.      padewasaan masa artinya berkala.

v  Padewasaan sadina hala & ayu yang ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku) sebagai berikut:

 

 SEMUT SEDULUR

adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon.

Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung.

 

 KALA GOTONGAN

adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu.


Selanjutnya mari kita ikuti perumusan – perumusan Urip Wewaran:

Urip Panca wara;
-       Umanis (5),
-       Pahing (9),
-        Pon (7),
-       Wage (4),
-        Kliwon (8).

Urip Sapta wara
-       Dina Redite/Minggu (5),
-       Soma/Senin (4),
-        Anggara/Selasa (3),
-        Budha/Rabu (7),
-       Wraspati/Kamis (8),
-        Sukra/Jumat (6),
-        Saniscara/Sabtu (9).

Urip Wuku;
Sita (7), landep (1), ukir (4), kilantir (6), taulu (5), gumbreg (8), wariga (9), warigadean (3), julungwangi (7), sungsang (1), dunggulan (4), kuningan (6), langkir (5), medangsia (8), pujut (9), Pahang (3), krulut (7), merakih (1), tambir (4), medangkungan (6), matal (5), uye (8), menial (9), prangbakat (3), bala (7), ugu (1), wayang (4), klawu (6), dukut (5) dan watugunung (8).

 


INGKEL
ð  Ingkel (pantangan) mulai dari Redite/Minggu dan berakhir pada Saniscara/Sabtu (7 hari) dan bilangan wuku dibagi 6, sisa;

·            Wong / yang berhubungan dengan Manusia.
·            Sato / yang berhubungan dengan Hewan.
·            Mina / yang berhubungan dengan Ikan.
·            Manuk / yang berhubungan dengan Burung/Unggas.
·            Taru / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berkayu.
·            Buku / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berbuku.
 

 TALI WANGKE

ð  Jatuh pada wuku-wuku tertentu yang merupakan pantangan untuk melakukan hari-hari penting untuk sesuatu yang hidup.
ð  Tali artinya pengikat, Wangke artinya mayat.
ð  Jadi Tali Wangke artinya  pengikat mayat / kematian. Hari buruk untuk  kehidupan,sesuatu yang hidup dan merupakan hari baik untuk benda mati, membuat jerat, pagar, dan perangkap.
Adapun rahina tali wangke dalam wuku sebagai berikut:
NO
Wuku
Rahina
1
Uye
Soma-Kliwon
2
Wayang
Anggara-Umanis
3
Landep
Buda-Pahing
4
Wariga
Wrhaspati-Pon
5
Kuningan
Sukra-Wage
6
Klurut
Saniscara-Kliwon

3.2. HAKIKAT PADEWASAN
v  Pada hakikatnya  ilmu padewasan dan wariga adalah merupakan bagian dari ilmu astronomi di dalam agama Hindu termasuk bidang Vedangga. Sebagaimana halnya dengan cabang-cabang ilmu Veda lainnya fungsi Vedangga bertujuan untuk melengkapi Veda, maka jelas kalau penggunaan wariga dan dewasa bertujuan untuk melengkapi tata laksana agama.
                 Jadi secara hakiki fungsi dari wariga adalah pelengkap dalam ilmu agama yang bertujuan untuk memberikan ukuran atau pedoman dalam mencari dewasa. Dewasa sebagai suatu kebutuhan dalam pelaksanaan aktivitas hidup umat Hindu bertujuan memberikan rambu-rambu kemungkinan-kemungkinan pengaruh baik-buruk hari terhadap berbagai usaha manusia.
Baik buruk hari mempunyai akibat terhadap nilai hasil dan guna suatu perbuatan, misalnya:
1.      Melihat cocok atau tidak cocoknya perjodohan oleh karena pembawaan dari pengaruh kelahiran yang membawa sifat tertentu kepada seseorang
2.      Melihat cocok atau tidaknya mulai membangun, membuat pondasi, mengatapi rumah, pindah rumah, dan sebagainya.
3.      Melihat baik atau tidaknya untuk melakukan upacara ngaben, atau atiwa-tiwa
4.      Melihat baik atau tidaknya untuk melakukan segala macam upacara kesucian yang ditujukan kepada Dewa-Dewa.
5.      Melihat baik tidaknya untuk melakukan kegiatan termasuk bidang pertanian dan lain-lainnya.

v  Adanya gambaran tentang baik atau tidak baiknya suatu hari untuk melakukan suatu kegiatan orang diharapkan lebih bersifat hati-hati dan tidak boleh gegabah. Ini diharapkan tidak memengaruhi keimanan terhadap Tuhan melainkan menjadi dasar pelaksanaan sradha dan bhakti (iman dan taqwa), sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai dengan baik.
Secara hakikat seperti yang dijelaskan pada maksud dan tujuan wariga dan dewasa adalah:
1.    Memberi ukuran atau pedoman yang perlu dilakukan oleh orang yang akan melaksanakan suatu pekerjaan berdasarkan ajaran agama Hindu dengan harapan bisa berhasil dengan baik
2.    Untuk memberi penjelasan tentang berbagai kemungkinan akibat yang timbul akibat pemilihan hari yang dipilih sehingga memberikan alternatif lain yang akan dipilih.
3.    Sebagai suplemen dalam mempelajari Veda dan agama Hindu sehingga dalam menjalankan ajarannya bisa dilaksanakan secara tepat sesuai pengaruh waktu dan planet-planet yang berpengaruh pada waktu-waktu tertentu.
3.3. MENENTUKAN PADEWASAN
3.3.1 CARA MENENTUKAN  WEWARAN
v    Cara mencari EKA WARA
Ø  Yaitu dengan menjumlahkan urip sapta wara dengan pancawara  pada suatu hari,
Ø  Jika ganjil = Luang,
Ø  Jika genap = kosong.

v    Cara mencari DWI WARA

Ø  Yaitu dengan menjumlahkan urip sapta wara dengan pancawara  pada suatu hari,
Ø  Jumlah Genap =Menga
Ø  Jumlah Ganjil = Pepet             (Bambang Gde Rawi)

Contoh : -Saniscara (9) +  Kliwon (8)  = 17 (Pepet)


v    Cara Mencari PANCAWARA






®
®
®
®
®
2
PAING
4
WAGE
1
UMANIS
3
PON
5
KLIWON
Ket :
a). Perhitungan wuku dimulai dari angka 2,4,1,3 5, dan kembali keangka 2 dst
b). perhitungan pancawara mengikuti urutan angka, 1 = umanis, 2 = paing, 3 = pon, 4 = wage, 5 = kliwon
c). ® adalah singkatan dari Redite, yang selalu menjadi dasar perhitungan dimana wuku itu jatuh disanalah Reditenya dan untuk menghitung hari berikutnya dihitung berdasarkan urutan angka.



v    TRIWARA SADWARA.JPGCara mencari TRI WARA & SAD WARA








No
Tri Wara
Sad Wara
1
Pasah
Tungleh
2
Beteng
Aryang
3
Kajeng
Urukung
4
Pasah
Paniron
5
Beteng
Was
6
Kajeng
Maulu

Ket :
a)      Perhitungan wuku dimulai dari wuku sinta pada angka 1, landep 2, dst kembali ke angka 1
b)      Perhitungan wewaran mengikuti urutan angka
c)      ® = Redite, menjadi dasar perhitungan

Contoh :
-Tentukan tri wara dan sad wara dari wuku Dunggulan (R5):
-Redite      Dunggulan                   = Beteng,         Was
-Soma       Dunggulan                   = Kajeng,         Maulu
-Anggara Dunggulan                     = Pasah,           Tungleh
-Buda       Dunggulan                   = Beteng,         Aryang
-Wraspati Dunggulan                    = Kajeng,         Urukung
-Sukra       Dunggulan                   = Pasah,           Paniron
-Saniscara Dunggulan                   = Beteng,         Was




v    Cara mencari CATUR WARA & ASTA WARA







aturasta
NO
CATUR WARA
ASTA WARA
1
Sri
Sri
2
Laba
Indra
3
Jaya
Guru
4
Menala
Yama
5
Sri
Rudra
6
Laba
Brahma
7
Jaya
Kala
8
Menala
Uma





Ket :
a)      Perjitungan wuku dimulai dari sinta 1, landep 8, ukir 7, kulantir 6, taulu 5, gumbreg 4, wariga 3, warigadean 2, julungwangi 1, dst
b)      Perhitungan wewaran mengikuti angka
c)      ® = Redite menjadi dasar perhitungan
d)      (D) = Dunggulan , merupakan wuku perkecualian yang diikuti oleh  Jaya Tiga & Kala Tiga


Yaitu :
Redite Dunggulan                Jaya Tiga & Kala Tiga
                Soma Dunggulan                 Jaya Tiga & Kala Tiga
                Anggara Dunggulan            =  Jaya Tiga & Kala Tiga






v    Cara mencari SANGA WARA








sangawara
No
Sanga Wara
1
Dangu
2
Jangur
3
Gigis
4
Nohan
5
Ogan
6
Erangan
7
Urungan
8
Tulus
9
Dadi



Ket :

a)      Perhitungan euku dimulai dari wuku sinta 7, landep 5, ukir 3, kulantir 1, taulu 8, gu,breg 6, wariga 4, warigadean 2, julungwangi 9,  sungsang kembali keangka 7, dst
b)      ® = Redite yg menjadi dasar perhitungan
c)      Perhitungan wewaran mengikuti urutan angka
d)      Wuku sinta adalah perkecualian yang diikuti oleh Dangu 4
-Redite Sinta         = Dangu
-Soma Sinta          = Dangu
-Anggara Sinta      = Dangu
-Buda Sinta          = Dangu
-Wraspati Sinta     = Jangur
-Sukra Sinta          = Gigis
-Saniscara Sinta    = Nohan






v    Cara mencari DASA WARA
Yaitu dengan menjumlahkan urip sapta wara dengan pancawara  pada suatu hari
Urip
Dasa Wara
10
Pandita
11
Pati
12
Suka
13
Duka
14
Sri
15
Manu
16
Manusa
7 / 17
Raja
8 / 18
Dewa
9
Raksasa

URIP PANCA WARA
URIP SAPTA WARA
Umanis
5
Redite
5
Paing
9
Soma
4
Pon
7
Anggara
3
Wage
4
Budha
7
Kliwon
8
Wraspati
8
Umanis
5
Sukra
6


Saniscara
9


Redite
5
Contoh :
-Wraspati Julungwangi
1).       Luang
2).       Menga (8+9= 17)
3).       pasah
4).       Sri
5).       Paing
6).       Tungleh
8).       Rudra
9).       Nohan
10).     Raja

TIKA
Kebiasaan Umat dengan Uraian Lontar Sundarigama)
Wuku/Hari
Redite
Coma
Anggara
Buda
Wrespati
Sukra
Saniscara
Sinta
+
*
*
β
Landep
 0
T
Ukir
*
W
Kulantir
@ 0
Tolu
Gumbreg
β  0
Wariga
T
Warigadean
*
W
0
Julungwangi
@
Sungsang
*
*0
Dunggulan
*
*
*
β
Kuningan
*
*
*
T0
Langkir
W
Medangsia
@
Pujut
0
Pahang
β
Krulut
0
T+
Merakih
W
*
Tambir
@ 0
Medangkungan
Matal
β  0
Uye
T
Menail
W
0
Prangbakat
@
Bala
0
Ugu
β
Wayang
*
T 0
Kulawu
W
Dukut
@
Watugunung
0
*


Keterangan:
β = Buda Kliwon
T            = Tumpek
@ = Rahina Anggarkasih
W= Buda Wage
0 = Kajeng Kliwon
+ = Hari suci tambahan menurut kebiasaan masyarakat Hindu
* = hari suci yang disarankan oleh Sundarigama

v  Cara menentukan pasang surutnya Kehidupan menurut Periode Kelahiran dengan mencari Urip Rahina  (menjumlahkan urip Saptawara + Urip Pancawara) pada kelahiran.

SRI SEDANA (PERIODE KELAHIRAN)
UMUR
URIP PANCAWARA + URIP SAPTA WARA
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
0-6
4
4
2
1
2
0
0
1
2
0
1
2
7-12
1
1
2
0
4
5
1
0
0
3
1
5
13-18
4
0
1
4
1
1
0
1
1
1
0
1
19-24
1
1
0
1
1
0
5
4
1
2
5
0
25-30
0
0
4
1
8
4
0
4
5
0
0
5
31-36
2
3
1
3
1
0
1
0
2
1
1
1
37-42
0
0
4
0
0
1
1
1
0
3
1
4
43-48

7
0
0
1
0
5
4
1
1
5
0
49-54


7
4
2
1
2
1
2
2
2
1
55-60



4
0
4
0
4
5
1
0
4
61-66




2
4
1
4
5
2
1
4
67-72





0
2
1
1
0
2
0
73-78






5
1
0
1
5
0
79-84







0
4
1
5
2
85-90








4
0
1
1
91-96









2
0
4
97-102










4
0
103-108











0

URIP PANCA WARA
URIP SAPTA WARA


Umanis
5
Redite
5


Paing
9
Soma
4


Pon
7
Anggara
3


Wage
4
Budha
7


Kliwon
8
Wraspati
8


Umanis
5
Sukra
6




Saniscara
9




Redite
5

Keterangan :
0.      = Kesakitan (penderitaan)
1.      = Penghasilan sedikit
2.      = madya (sedang)
3.      = Baik
4.      = Baik sekali
5.      = Hidup senang
6.      = Hidup Mewah
7.      = apa yang diinginkan tercapai (hidup sukses

3.4. MACAM-MACAM PADEWASAN UNTUK UPACARA AGAMA

Waktu-waktu yang ditentukan tersebut akan memberikan pahala yang sangat besar. Jadi untuk mendapatkan suatu hasil atau pahala yang baik dari suatu kegiatan (upacara agama) ditentukan oleh waktu yang tepat dari pelaksanaannya. Berangkat hal tersebut di bawah ini akan diberikan beberapa contoh padewasan untuk melakukan upacara agama yang termasuk kedalam upacara Panca Yajña.

1. Melakukan Upacara Dewa Yajña
Selain upacara agama yang dilakukan pada hari-hari suci baik yang ditentukan berdasarkan atas wewaran, wuku, penanggal, panglong, sasih, yang dirayakan oleh umat Hindu secara berkala dan berkelanjutan, dalam kesempatan ini akan diberikan contoh-contoh padewasan untuk nangun (memulai) upacara Dewa Yajña.

a)      Sasih yang baik untuk melakukan Dewa Yajña: Kapat, kelima, kedasa.
b)      Amerta Bhuana : Dewasa Ayu untuk Dewa Yadnya, Pemujaan Tuhan Yang Maha Esa serta leluhur untuk mendapat kesejahteraan.
c)      Amerta Dewa : Hari baik melaksanakan dharma, Panca Yajña:, khususnya Dewa Yajña: juga hari yang baik digunakan untuk membangun khayangan/tempat-tempat suci
d)      Amerta Masa : Hari yang baik untuk melakukan Panca Yajña dalam rangka memohon kesejahteraan
e)      Ayu Nulus : Hari yang baik untuk melaksanakan Yajña, pekerjaan, usaha dan kegiatan yang berlandaskan dharma
f)       Dauh Ayu : hari yang baik untuk melaksanakan Panca Yajña
g)      Dewa ngelayang : dewasa yang baik memuja Ida Sang Hyang Widi, membangun kahyangan, pura, maupun sanggah.
h)      h. Dewa Werdi : hari baik untuk melaksanakan Panca Yajña, khusunya Dewa Yajña.


2. Melakukan Upacara Bhuta Yajña
Upacara Bhuta Yajña yang dilakukan oleh umat Hindu pada hari-hari suci yang telah ditentukan berdasarakan wewaran, wuku, sasih, penanggal panglong termasuk pada saat piodalan di pura-pura, mrajan atau tempat suci lainnya. Selain itu dilakukan pula nangun (membangun/memulai) Bhuta Yajña di luar ketetapan tersebut. Dewasa yang baik untuk melakukan upacara Bhuta Yajña sebagai berikut:

a)      Sasih baik untuk Bhuta Yadnya: keenem dan kesanga.
b)      Dewa Mentas: Hari yang cocok untuk melaksanakan Bhuta Yajna dan upacara penyucian diri dalam rangka pendidikan.

3. Melakukan Upacara Pitra Yajña
Untuk upacara Pitra Yajña terkait dengan keputusan Kesatuan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu I s/d XV, terkait dengan Jenis-jenis Padewasan untuk upacara Pitra Yajña (atiwa-tiwa) dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

a)      Padewasan yang sifatnya amat segera atau dadakan, atiwa-atiwa segera bisa dilakukan dengan mengacu pada wariga, dewasa, dan kekeran (aturan) desa. Adapun larangan atiwa-tiwa adalah Pasah, Anggara Kasih, Buddha Wage, Buddha Kliwon, Tumpek, Purwani Purnama, dan Tilem.
b)      Pedewasan serahina (sehari-hari) adalah bila pelaksanaan atiwa-tiwa tersebut dilaksanakan lebih dari tujuh hari dan memperhatikan padewasan serahina yang perhitungannya berdasarkan wewaran, wuku, dan dauh.
c)      Padewasan berjangka (berkala), adalah pelaksanaan atiwa-tiwa berdasarkan jangka waktu tertentu (berkala) yang perhitungannya berdasarkan wewaran, wuku, tanggal, panglong, sasih, dan dauh, dan disertai dengan sasih yang baik yaitu Kasa, Karo, Ketiga.

Selain itu di bawah ini disebutkan beberapa contoh waktu yang baik untuk melalukan pemujaan kepada leluhur atau Pitra Yajña yaitu:

1)      Sasih yang baik untuk memukur (atmawedana) : kedasa
2)      Sasih yang baik untuk Pitra Yajña : kasa, karo, ketiga
3)      Amerta Akasa: Hari baik untuk pemujaan kepada leluhur guna memperoleh pengetahuan serta berwawasan yang lebih luas.
4)      Sedana Tiba : Dewasa Ayu mengadakan upacara terhadap leluhur di sanggah/mrajan.

Yang Harus dihindari:
  • Kala Gotongan adalah hari yang pantang untuk mengubur, kremasi, ngaben (atiwa-tiwa) karena berakibat kematian berturut-turut. Tapi hari ini baik untuk pekerjaan dengan cara memikul atau bergotong royong.
  • Was Penganten : pantang untuk mengubur ataupun kremasi, karena dapat berakibat banyak orang sakit atau meninggal.


4. Upacara Manusa Yajña
Jenis dari pelaksanaan upacara Manusa Yajña sangat banyak, yaitu mulai dari janin berada dalam kandungan hingga meninggal. Saat bayi lahir sesungguhnya ia telah mencari hari yang baik bagi kelahirannya. Pada tahap selanjutnya dilakukan rangkaian upacara hingga meningkat dewasa melalui upacara Rajasewala atau Rajasinga. Pada tahap selanjutnya setelah masa Brahmacari dilanjutkan masa Grhastha Asrama yaitu masa berumah tangga. Memasuki masa berumah tangga didahului dengan proses upacara sarira samskara berupa upacara Pawiwahan.
Penentuan hari yang baik dalam upacara wiwaha sangat diharapkan, karena hal ini akan memberikan pengaruh terhadap eksistensi rumah tangga. Sebelum terjadinya proses pewiwahan (perkawinan) dan dikukuhkan dengan melaksanakan upacara perkawinan dalam memilih pasangan hidup didasarkan atas bibit, bebet, dan bobot. Dalam penentuan pilihan ini ada pertimbangan-pertimbangan yang digunakan untuk menentukan dasar pilihan, salah satunya didasarkan atas primbon perjodohan. Hal ini diyakini memberikan pengaruh terhadap perkawinan.

Ada beberapa primbon perjodohan sebagai rambu-rambu dalam memilih pasangan hidup yang didasarkan dasar wewarigan.
a. Perjodohan Berdasarkan Sapta Wara Kelahiran lanang (laki-laki) wadon (perempuan)
Minggu-Minggu berakibat sering sakit-sakitan
Senin-Senin berakibat buruk
Selasa-Selasa berakibat buruk
Rabu-Rabu berakibat buruk
Kamis-Kamis berakibat yuana (awet), senang
Jumat-Jumat berakibat melarat
Sabtu-Sabtu berakibat yuana, senang
Minggu-Senin berakibat banyak penyakit
Minggu - Selasa berakibat melarat
Minggu- Rabu berakibat yuana, senang
Minggu-Kamis berakibat konflik
Minggu-Jumat berakibat yuana, senang
Minggu-Sabtu berakibat melarat
Jumat-Sabtu berakibat celaka
Senen-Selasa berakibat yuana (rupawan), senang
Senen-Rabu berakibat beranak wadon (perempuan)
Senen Kamis berakibat disukai orang
Senen-Jumat berakibat yuana, senang
Senen-Sabtu berakibat rezekian
Selasa-Rabu berakibat kaya
Selasa-Kemis berakibat kaya
Selasa-Jumat berakibat pisah/cerai
Selasa-Sabtu berakibat sering konflik
Rabu-Kamis berakibat yuana, senang
Rabu-Jumat berakibat yuana, senang
Rabu-Sabtu berakibat baik
Kemis-Jumat berakibat yuana, senang
Kemis-Sabtu berakibat pisah/cerai

b. Jodoh berdasar Gabungan atau jumlah neptu (urip) Panca Wara dan Sapta Wara laki dan perempuan, kemuadian dibagi 5. Dan sisa menujukan pengaruh yang ditimbulkan dari perjodohan
-       Sisa 1 : SRI, berarti rumah tangga beroleh rezeki
-       Sisa 2 : DANA, berarti rumah tangga keadaan keuangan baik
-       Sisa 3 : LARA berarti anggota rumah tangga dalam kesusahan atau kesakitan
-       Sisa 4 : PATI berarti kesengsaran, mungkin bisa menemui kematian atau kehilangan rezeki
-       Habis dibagi : LUNGGUH, berarti akan mendapatkan kedudukan


c. Berdasarkan jumlah seluruh neptu dibagi empat, dan sisa menunjukan pengaruh yang ditimbulkan dari perjodohan

-       Sisa 1 disebut GENTO berarti jarang anak
-       Sisa 2 disebut PATI berarti banyak anak
-       Sisa 3 disebut SUGIH berarti banyak rezeki
-       Habis di bagi disebut PUNGGEL berarti kehilangan rezeki, cerai atau mati

d. Jodoh berdasarkan Pertemuan jumlah Neptu
Jumlah Neptu Sapta Wara dan Panca Wara laki, jumlah neptu Sapta Wara dan Panca Wara si perempuan masing-masing di bagi 9 (Sembilan), kemudian sisanya masing-masing dipertemukan :
1 dengan 1 : saling mencintai
1 dengan 2 : baik
1 dengan 3 : rukun, jauh amerta
1 dengan 4 : banyak celaka
1 dengan 5 : cerai
1 dengan 6 : jauh sandang pangan
1 dengan 7 : banyak musuh
1 dengan 8 : terombang-ambing
1 dengan 9 : jadi tumpuan orang susah
1 dengan 2 : dirgahayu, banyak rezeki
2 dengan 3 : salah satu cepat mati
2 dengan 4 : banyak godaan
2 dengan 5 : sering celaka
2 dengan 6 : cepat kaya
2 dengan 7 : anak-anak bayak mati
2 dengan 8 : pendek rezeki
2 dengan 9 : panjang rezeki
3 dengan 3 : melarat
3 dengan 4 : banyak cobaan/celaka
3 dengan 5 : cepat cerai
3 dengan 6 : mendapat nugraha
3 dengan 7 : banyak godaan
3 dengan 8 : salah satu cepat mati
3 dengan 9 : kaya rezeki
4 dengan 4 : sering sakit
4 dengan 5 : banyak rencana
4 dengan 6 : kaya, banyak rezeki
4 dengan 7 : melarat
4 dengan 8 : banyak rintangan
4 dengan 9 : salah satu kalah
5 dengan 5 : keberuntungan terus
5 dengan 6 : terbatas/pendek rezeki
5 dengan 7 : sandang pangan berkepanjangan
5 dengan 8 : banyak rintangan
5 dengan 9 : terbatas sandang pangan
6 dengan 6 : besar goadaannya
6 dengan 7 : rukun
6 dengan8 : banyak musuh
6 dengan 9 : terombang-ambing
7 dengan 7 : dikuasai istri
7 dengan 8 : celaka akibat perbuatan sendiri
7 dengan 9 : panjang jodoh dan berpahala
8 dengan 8 : disenangi orang
8 dengan9 : banyak celaka
9 dengan 9 : susah rezeki


e. Jodoh Tri Premana
Petemon (pertemuan) laki-perempuan yang bernama Tri Premana ini didasarkan atas perhitungan jumlah neptu Panca Wara ditambah Sad Wara ditambah Sapta Wara dari weton (kelahiran) di pihak laki dan perempuan lalu di bagi 16 (enam belas) dan sisa dari pembagian memiliki makna sebagai berikut :
-       Sisa 1 bermakna diliputi kebimbangan, dalam keadaan suka dan duka, baik buruk, sehingga dituntut ketabahan
-       Sisa 2 bermakna durlaba, rezeki seret, tapi suka melancong
-       Sisa 3 bermakna sering mendapat malu dan kecewa
-       Sisa 4 bermakna susah mendapatkan sentana (keturunan)
-       Sisa 5 bermakna merana, sering sakit
-       Sisa 6 bermakna merana sering sakit
-       Sisa 7 bermakna mengalami suka duka, baik buruk dalam perjalanan hidupnya menuju bahagia
-       Sisa 8 bermakna sukar untuk memenuhi hajat hidupnya sehari-hari, bahkan sampai kekurangan (terak)
-       Sisa 9 bermakna kurang hati-hati, kesakitan tak henti-hentinya mewarnai hidupnya, sampai menimbulkan kekecewaan dan penyesalan hidup
-       Sisa 10 bermakna mendapatkan wibawa serta disegani bagaikan raja/ratu yang berkuasa, sehingga dapat mengayomi keluarga
-       Sisa 11 bermakna mendapat sukses dalam perjalanan hidup, tercapai citacitanya penuh kepuasan (sidha serta sabita)
-       Sisa 12 bermakna sedana nulus, rezeki lancar/gampang
-       Sisa 13 bermakna dirgayusa, panjang umur, rezekinya berkepanjangan
-       Sisa 14 bermakna mendapatkan kebahagiaan/kesenangan selalu
-       Sisa 15 bermakna sering mengalami kesusahan, keadaan buruk serta banyak problem
-       Sisa 16 bermakna memperoleh kebahagiaan dan kesenangan

Sebagai kelanjutan dari jenjang perjodohan yang telah dilakukan dengan memperhatikan beberapa pertimbangan tersebut di atas, sudah tentu diharapkan berlanjut pada jenjang perkawinan. Perkawinan yang dimaksud adalah perkawinan yang sah baik secara agama maupun secara hukum. Secara agama perkawinan adalah sakral. Sehingga dalam pelaksanaannya perlu memilih hari yang baik karena akan memberikan pengaruh pula dalam keharmonisan rumah tangga.

Berikut ini akan diuraikan beberapa dewasa ayu untuk upacara Manusa Yajña (pawiwahan) sebagai berikut:

a.       Mertha Yoga : Upacara untuk Manusa Yajña. Yang termasuk ke dalam Merta Yoga yaitu ; Soma Keliwon Landep, Soma Umanis Taulu, Soma Wage Medangsia, Soma Umanis Medangkungan, Soma Paing Menail, Soma Pon Ugu, Soma Wage Dukut.

b.      Baik Buruknya Sapta Wara untuk upacara Pewiwahan
1. Minggu : Buruk, sering terjadi pertengkaran, dapat berakibat pertengkaran
2. Senin : Baik mendapat keselamatan dan kesenangan
3. Selasa : Buruk, suka berbantah, masing-masing tidak mau mengalah
4. Rabu : Amat baik, berputra serta berbahagia
5. Kamis : Baik hidup rukun, senang dan disenangi orang
6. Jumat : Baik, tentram sentosa, tak kurang sandang pangan
7. Sabtu : Sangat buruk, senantiasa dalam kesusahan

c.       Baik Buruknya Penanggal /Tanggal untuk upacara Perkawinan
Tanggal 1 Dirgahayu, sejahtera
Tanggal 2 Sidha cita, Sidha karya, disayang keluarga
Tanggal 3 Memperoleh banyak anak, sentana
Tanggal 4 Suami sering sakit
Tanggal 5 Dirgahayu, dirgayusa, selamat, sejahtera dan panjang umur
Tanggal 6 Menemui kesusahan
Tanggal 7 Suka, rahayu, hidup bahagia
Tanggal 8 Sering sakit hampir meninggal
Tanggal 9 Senantiasa sengsara
Tanggal 10 Wirya Guna, baik
Tanggal 11 Kurang ulet berkarya, penghasilan kurang
Tanggal 12 Mendapat kesusahan
Tanggal 13 Mendapat keberuntungan, terutama menyangkut pangan
Tanggal 14 Sering berbantah, kemungkinan bisa sampai cerai
Tanggal 15 Sangat buruk, bisa menemui kesengsaraan

d.      Baik Buruknya Sasih hubungannya dengan upacara wiwaha (upacara pernikahan)
1. Kasa, (Srawana - Juli) : buruk anak-anaknya menderita
2. Karo, (Bhadrawada - Agustus) : buruk sangat miskin
3. Ketiga, (Asuji - September) : Sedang banyak anak-anak
4. Kapat, ( Kartika - Oktober) : baik, kaya dicintai orang
5. Kelima, (Marggasira - Nopember) : baik, tidak kurang makan dan minum
6. Keenem (Posya - Desember) : buruk, janda
7. Kepitu (Magha - Januari) : baik, mendapat keselamatan, panjang umur
8. Kawolu (Palguna - Pebruhari) : buruk kurang makan dan minum
9. Kesanga (Citra- Maret) : buruk sekali, selalu sengsara sakit-sakitan
10. Kedasa (Waisaka - April) : baik sekali, kaya raya selalu gembira
11. Desta (Jyesta - Mei) : buruk, duka, sering bertengkar marah
12. Sada (Asadha - Juni) : buruk, sakit-sakitan.

e.       Baik buruknya Wuku hubungannya dengan upacara Manusa Yajña (Wiwaha)
  • Rangda Tigaadalah wuku pantangan untuk melakukan upacara pernikahan (wiwaha), apabila ada orang yang melakukan pernikahan dalam wuku ini dinyatakan bisa menjanda atau menduda.
Adapun kemunculannya pada wuku berikut; wariga, warigadian, pujut, pahang, menhil, parangbakat
  • Amerta Muktiadalah baik untuk melaksanakan upacara Manusa Yajña untuk memohon waranugraha kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan menyucikan diri, lahir dan batin.
  • Dagdig kranaadalah hari yang buruk untuk segala upacara, terutama untuk pertemuan asmara.
  • Dewa Werdiadalah hari baik untuk melaksanakan Manusa Yajña, metatah
  • Dirgayusaadalah sangat baik melakukan upacara Manusa Yajña, tapi sangat jarang ditemukan dewasa ini yang jatuh pada buddha pon, penanggal 10
  • Panca Werdiadalah hari yang baik untuk melaksanakan Manusa Yajña antara lain mepetik, potong gigi, dan lain-lain, karena berpahala dirgayusa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Materi : C. SAD DARSANA

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA