Materi Ke-9 Pendidikan Agama Hindu Dan Budhi Pekerti Kelas XI

 Bab 4 Vibhuti Marga dalam Kehidupan

Tuhan dalam keadaan tanpa sifat disebut nirguna atau sunya. Nirguna atau sunya adalah istilah yang digunakan untuk memahami hakikat Tuhan dalam keadaan hukumnya semula. Dalam ilmu filsafat dikatakan sebagai keadaan alam transendental. Transendental adalah sesuatu yang berada di luar lingkaran kemampuan pikir.

Pengertian dan Hakikat Vibhuti Mãrga Dalam Ajaran Agama Hindu
Foto: Mutiarahindu.com
Kalau diibaratkan fikiran itu mempunyai batas seperti lingkaran, segala yang ada di luar lingkaran dinamakan dalam alam transendental. Kitab Brahma Sutra memberi keterangan tentang aspek transendental itu dengan kalimat sebagai berikut. ‘Tad adwyaktm, Aha hi’ artinya sesungguhnya Tuhan itu yang tak terkatakan. Menggambarkan keagungan sifat-sifat Tuhan itu merupakan ajaran dari Vibhuti Marga, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:59).

Baca: Penerapan Vibhuti Marga dalam Kehidupan Menurut Ajaran Agama Hindu

Vibhuti Mārga berasal dari bahasa Sansekerta. Kata (Vibhu - ti) Vibhu...(adjective): hadir di mana-mana; kekal; mengembang seluas-luasnya; kuat....(masculine): yang kuasa; yang maha kuasa; Brahman. Mārga ...(masculine : jalan; saluran; cara; gaya. Vibhuti mārga : Jalan atau cara-Brahman (Kamus Kecil Sansekerta-Indonesia, hal. 174 - 224).
Vibhuti Mārga berarti kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para Maha Rsi melalui spiritual. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian penghayatannya dilukiskan dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya. Hakikat utama ajaran Vibhuti Marga adalah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan yang muncul mengenai sifat-sifat Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang transendental atau di luar alam indra.

Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Tuhan yang melebihi dari segala yang ada merupakan ajaran Vibhuti Marga. Dalam ajaran ini dilukiskan sifat-sifat agung dari Tuhan seperti dewa dari semua dewa, maha bijaksana, maha mengetahui, maha adil, maha tinggi dan sebagainya. Semuanya ini adalah bentuk dari ajaran Vibhuti Marga. Kesadaran spiritual dalam penghayatan terhadap keagungan Tuhan yang dirasakan oleh seorang Maha Rsi di mana kekagumannya ini dilukiskan dengan suatu puisi yang bersifat abstrak yang mengandung makna moral yang digubah dengan begitu indahnya sehingga puisi itu bernilai sangat tinggi.

Sumber yang digunakan untuk melukiskan segala keindahan itu adalah sinar. Oleh sebab itu sinar menjadi objek utama dan sangat dikagumi oleh para pujangga, sehingga akhirnya sinar menjadi simbul keindahan dan kemuliaan jiwa. Sinar merupakan simbol kebenaran, gambaran hukum Rta, kebaikan, kemuliaan, keindahan akal budi dan sebagainya. Dewa Agni sebagai dewa keagungan, dan sumber sinar. Maka ia dipuja sebagai yang berkilauan, memancarkan sinarnya ke bumi, ke langit, ke laut dan memberikan kehidupan pada semua makhluk, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:60).

Dewa Surya dipandang sebagai dewa sumber yang memberikan kehidupan, sehingga dewa ini dipandang sebagai atman dari semua makhluk hidup baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Sinar dipandang sebagai sesuatu yang suci yang meliputi seluruh alam semesta seperti terlukis dalam mantra berikut ini.

Baca: Sloka-sloka Vibhuti Marga sebagai Tuntunan Hidup

"Šiṣarṇaá ṡiṣarṇo jagatas tasthusas
patiṁ samayā viṡvam a rajaá
sapta ṡvasārah suvitāya sūrya vahanti harito rathe.
taccakṣur devahitaṁ ṡukram uccarat,
paṡyema ṡaradaá ṡataṁ jivema ṡaradaá ṡatam".

Artinya:

"Ia yang bersinar menerangi seluruh alam, Sūya, Dewata yang bergerak dan yang tidak bergerak. Tujuh putri dalam satu kereta, demi kesejahteraan dunia mata bersinar, dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, menyingsing, semoga kami dapat menyaksikannya selama seratus tahun, semoga kami hidup selama seratus tahun", (Åg Veda VII.66.15-16).

Pada jalan kemegahan atau Vibhuti Marga ini, para maharsi menerima sabda suci serta membayangkan-Nya sebagai sesuatu yang indah, meriah dan megah. Pemuja mengagungkan-Nya sebagai menggetarkan sikap spiritual puitis dari sabda yang merupakan kenyataan yang sangat luhur. Kebesaran-Nya sesungguhnya di luar jangkauan akal pikir umat manusia. Devata sesuai akar katanya, berarti yang bersinar, maka para maharsi menangkap sinar kesucian-Nya yang dilukiskan dalam mantra-mantra Veda yang indah, suci penuh pesona batin, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:61).

Sebelum memulai proses pembelajaran Vibhuti Marga dalam Kehidupan, agar guru mendahului dengan mengucapkan Penganjali agama Hindu, dan melakukan Puja Tri Sandya doa Puja Saraswati, mengamati dan memberikan penilaian sikap religius dan sosial seperti menyayangi ciptaan Sang Hyang Widhi ahimsa, berperilaku jujur satya, menghargai dan menghormati antarsesama tat tvam asi. Dalam kegiatan belajar mengajar yang berkaitan dengan materi Vibhuti Marga dalam kehidupan seperti yang terdapat dalam buku peserta didik diutarakan antara lain sebagai berikut.


B. Penerapan Vibhuti Marga dalam Kehidupan

    Perenungan
 “Tam insanām jagatattasdhusas pati ghiyam jinvār avase humahe vayam pusa no yatha vedasā masad vrghe raksita payuradacvah svataye”
Terjemahannya adalah.
“Ya, Yang Mahakuasa, dewa bagi yang bergerak dan yang tidak bergerak, yang mengilhami pikiran, kami mohon pertolongan. Semoga Tuhan, pelindung kami dan yang menjaga kami, yang tak terkalahkan, lipat gandakanlah kekayaan kami untuk kesejahteraan kami” (Åg Veda I.89-5).
     Apakah pemujaan itu sekadar menangkup tangan, atau sekadar mengucapkan doa dan lagu sanjungan? Ataukah sekadar memikirkan tentang Tuhan. Apakah pemujaan itu berarti penghormatan yang mungkin bersifat duniawi? Hal ini tidak pernah dijelaskan dengan tepat. Sekadar sujud saja belum berarti memuja. Begitu pula sekadar menyanjung dalam lagu dan nyanyian belum tentu memuja.
Banyak nyanyian yang kita dengar dalam upacara keagamaan atau dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini bukan pemujaan atau ini juga adalah pemujaan. Manusia melagukan nyanyian-nyanyian tentang kebahagiaan, tentang cinta, tentang penderitaan. Semuanya adalah kata hati yang digambarkan. Kita melagukan kebesaran Tuhan, berarti kita menyanyikan tentang kemuliaan Tuhan. Pendeknya banyak yang kita dengar dan kita lakukan. Kita menghormati dan sujud kepada orangtua, kita hormat kepada para pendeta. Semuanya juga berarti macam-macam. Untuk memperingati atau menghormati jasa seseorang kita mencontoh dan menggambarkan semua perjuangan atau tingkah laku orang yang kita agung-agungkan itu. Ini penghormatan atau pemujaan.
         Bahasa manusia terlalu terbatas untuk menggambarkan arti kata pemujaan yang sebenarnya. Yang terpenting dalam pemujaan adalah sifat menyerahkan diri sepenuh hati kepada yang dipuja. Jadi sifat bhakti dan dengan menghubungkan diri kepada yang dipuja. Menghubungkan diri artinya melakukan yoga. Yoga berasal dari kata Yuj dan dari kata itu kemudian lahir kata yoga. Cara melakukan hubungan inilah yang disebut sembahyang, atau memuja menurut bahasa Sansekerta.
        Kitab Rg. Veda X.71. mengemukakan ada empat jalan atau cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk sampai kepada Tuhan. Keempat cara atau jalan (Marga) itu disebutkan sebagai berikut.
  • Dengan cara menyanyikan lagu-lagu pujaan.
  • Dengan cara mempelajari dan mengenal Tuhan kemudian mengajarkannya. c. Dengan cara melakukan yajna dan memenuhi aturan yang digariskan.
  • Dengan cara membaca doa-doa mantra.
  • Keempat cara itulah yang mula-mula telah dikemukakan yang lazim dilakukan oleh orang-orang pada waktu itu.
Dari ajaran itu kemudian dikembangkan menjadi beberapa marga (yoga) yang kita kenal berikut ini.

Penerapan Vibhuti Marga dapat melalui empat jalan atau cara yang dapat dilakukan oleh umat Hindu untuk sampai kepada Sang Hyang Widhi antara lain seperti berikut ini.


1. Ajaran Bhakti Marga Yoga

Bhakti merupakan kasih sayang yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan jalan kepatuhan atau bhakti. Bhaktiyoga disenangi oleh sebagian besar umat manusia. Tuhan merupakan pengejawantahan dari kasih sayang, dan dapat diwujudkan melalui cinta kasih seperti cinta suami kepada istrinya yang menggelora dan menyerap segalanya. Cinta kepada Tuhan harus selalu diusahakan. Mereka yang mencintai Tuhan tak memiliki keinginan ataupun kesedihan. Ia tak pernah membenci makhluk hidup atau benda apa pun, dan tak pernah tertarik dengan objek-objek duniawi. Ia merangkul semuanya dalam dekapan tingkat kasih sayangnya. Kama keinginan duniawi dan trisna kerinduan merupakan musuh dari rasa bhakti. Selama ada jejak-jejak keinginan dalam pikiran terhadap objek-objek duniawi, seseorang tidak dapat memiliki kerinduan yang dalam terhadap Tuhan. Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id Buku Guru Kelas XI SMASMK 84 Atma-Nivedana merupakan penyerahan diri secara total setulus hati kepada Tuhan, yang merupakan anak tangga tertinggi dari Navavidha Bhakti, atau sembilan cara bhakti. Atma-Nivedana adalah prapatti atau saranagati. Penyembah menjadi satu dengan Tuhan melalui Prapatti dan memperoleh karunia Tuhan yang disebut Prasada. Bhakti merupakan suatu ilmu spiritual terpenting, karena mereka yang memiliki rasa cinta kepada Tuhan, sesungguhnya kaya. Tak ada kesedihan selain tidak memiliki rasa bhakti kepada Tuhan.

2. Ajaran Jñana Marga Yoga


    Jñanayoga merupakan jalan pengetahuan. Moksa tujuan hidup tertinggi manusia berupa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa dicapai melalui pengetahuan tentang brahman Tuhan Yang Maha Esa. Pelepasan dicapai melalui realisasi identitas dari roh pribadi dengan roh tertinggi atau brahman. Penyebab ikatan dan penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan. Jiwa kecil, karena ketidaktahuan secara bodoh menggambarkan dirinya terpisah dari brahman. Avidya bertindak sebagai tirai atau layer dan menyelubungi jiwa dari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu bersifat Tuhan. Pengetahuan tentang brahman atau brahmajñana membuka selubung ini dan membuat jiwa bersandar pada Sat-Cit-Ananda Svarupa sifat utamanya sebagai keberadaan kesadaran- kebahagian mutlak dirinya. Jñana bukan hanya pengetahuan kecerdasan, mendengarkan atau membenarkan. Ia bukan hanya persetujuan kecerdasan, tetapi realisasi langsung dari kesatuan atau penyatuan dengan yang tertinggi yang merupakan paravidya. Keyakinan intelektual saja tak akan membawa seseorang kepada brahmajnana pengetahuan dari yang mutlak. Pelajar Jñanayoga pertama-tama melengkapi dirinya dengan tiga cara yaitu: 1 pembedaan viveka, 2 ketidakterikatan vairagya, 3 kebajikan, ada enam macam sat-sampat, yaitu: a ketenangan sama, b pengekangan dama, c penolakan uparati, ketabahan titiksa, d keyakinan sraddha, e konsentrasi samadhana, dan f kerinduan yang sangat akan pembebasan mumuksutva. Selanjutnya ia mendengarkan kitab suci dengan duduk khusuk di depan tempat duduk kaki padma seorang guru yang tidak saja menguasai kitab suci Veda Srotriya, tetapi juga bagus dalam brahman Brahmanistha. Selanjutnya para peserta didik melaksanakan perenungan, untuk mengusir segala keragu-raguan. Kemudian melaksanakan meditasi yang mendalam kepada brahman dan mencapai Brahma- Satsakara. Ia seorang jivanmukta mencapai moksa, bersatu dengan-Nya dalam kehidupan ini. Diunduh dari http:bse.kemdikbud.go.id 85 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti


3. Ajaran Vibhuti Marga Yoga Vibhuti Marga Yoga merupakan jalan penghayatan terhadap kebesaran dan

kemuliaan Ida Sang Hyang Widhi WasaTuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sinar-Nya sebagai simbol keindahan, kemuliaan jiwa, kebenaran, Rta, kebaikan, kebahagiaan, kekekalan, Tuhan dan lain-lain melalui jalan spiritual pemikiran oleh para maharsi guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan umatnya. Vibhuti Marga adalah penghayatan terhadap kebenaran dan kemuliaan Tuhan yang dihayati oleh para maharesi melalui spiritual yang kemudian dilukiskan secara lahiriah dalam bentuk puisi sebagai rasa kekagumannya.

4. Ajaran Karma Marga Yoga Karmayoga adalah jalan pelayanan tanpa pamrih, yang membawa pencapaian

menuju Tuhan melalui kerja tanpa pamrih. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan. Karmayoga mengajarkan bagaimana bekerja demi untuk kerja itu, yaitu tiadanya keterikatan. Demikian juga bagaimana menggunakan tenaga untuk keuntungan yang terbaik. Bagi seorang karmayogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang karmayogin tidak terikat oleh karma hukum sebab akibat, karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa

5. Ajaran Raja Marga Yoga

Rajayoga adalah jalan yang membawa penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa, melalui pengekangan diri, pengendalian diri, dan pengendalian pikiran. Rajayoga mengajarkan bagaimana mengendalikan indra-indra dan vritti mental atau gejolak pikiran yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan samadhi. Dalam hathayoga terdapat disiplin isik, sedangkan dalam Rajayoga terdapat disiplin pikiran. Melakukan raja marga yoga hendaknya secara bertahap melalui Astangga Yoga yaitu delapan tahapan yoga, yang meliputi yama, nyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Apa yang telah diturunkan hanya merupakan dasar yang belum sempurna karena ternyata dari Rg Veda 1.31, ditegaskan bahwa ajaran mengenai cara menuju Tuhan itu supaya dikembangkan lebih jauh dengan memperbaiki. Perbaikan-perbaikan itu berjalan pada hakikatnya tergantung pada kemajuan cara berpikir dan ilsafat yang dianutnya. Dalam hal ini terjadi proses pembudayaan tentang ajaran jalan menuju Tuhan sampai pada apa yang kita jumpai dalam bentuk seperti sekarang ini.

C. Tujuan Ajaran Vibhuti Marga dan Tujuan Agama Hindu


Tujuan ajaran Vibhuti Marga adalah untuk dapat memahami, mengerti dan menghayati kebesaran dan kemuliaan Sang Hyang Widhi WasaTuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sinar-Nya sebagai simbol keindahan, kemuliaan jiwa, kebenaran, Rta, kebaikan, kebahagiaan, kekekalan, Tuhan dan lain-lain melalui jalan spiritual pemikiran oleh para Maharsi guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan umatnya. Agama adalah kepercayaan hidup pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan oleh Ida Sang Hyang Widhi, yang kekal abadi. Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai kedamaiankebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani umatnya. Tujuan agama Hindu ini sebagaimana dituliskan dalam berbagai pustaka suci Veda dengan sloka ”Moksartham jagadhita ya ca iti dharma”

D. Sloka-sloka Vibhuti Marga sebagai Tuntunan Hidup


    Perenungan
“Yo dharta bhuvanam ya usranam apicya veda namani guhya, sa kavih kavya puru rupam dyairiva pusyati.”
Terjemahannya:
“Ia yang menjadi pendukung hidup, yang mengetahui nama-nama sinar pagi yang penuh rahasia.
Ia, penyanyi, pemelihara semua isi alam dengan kekuatan lagu-Nya, bahkan langit sekali pun” (Åg Veda VIII. 41-5).

Memahami Teks
        Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa melebihi dari segala yang ada, merupakan ajaran Vibhuti Marga yang dapat berfungsi sebagai tuntunan hidup guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagia umat sedharma.
Berbagai macam sloka berikut yang dikutip dari beberapa jenis kitab suci Veda dipercayai dapat mengilhami umat sedharma mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
 ”Ucchantì yā kṛṇoṣi mamhanā mahi prakhyai devi ṡvar ddaṡe
tasyate ratnabhaja imahe vayaṁ syāma mātur na sūnavaá”
Terjemahannya:
”Engkaulah, dewi, fajar merekah, dengan kemuliaan-Mu bumi ini tampak dan kami dapat melihat langit, Engkaulah, yang membagikan batu permata, kami panjatkan doa kepada-Mu semoga kami bagi-Mu bagaikan seorang anak (yang cinta) kepada ibunya”
(Ag Veda VII. 81. 4).
 “Viṡvāni deva savitar duritāni parā suva, yad bhadraṁ tanna ā suva”
Terjemahannya:
“Ya Savita (Tuhan Yang Maha Cemerlang), jauhkanlah segala kejahatan,
anugrahkanlah segala kebajikan kepada kami” (Ag Veda V. 82. 5)’.
 “Ã viṡvadevaṁ satpatiṁ sūktairadya vṛnimahe, satyasavam savitāram”
Terjemahannya:
“Dengan lagu pujian kami pilih seluruh dewata,
Dewa tertinggi untuk kebaikan, Savitar, yang hukumnya selalu benar” (Ag Veda V. 82. 7)
 “vṛhatsumnaá prasavitā niveṡano jagataá sthāturubhayasya yo vaṡi sa no devaá savitā ṡarma yaccha
tvasme kṣayāya trivarutham aṁhasaá.”
Terjemahannya:
“Tuhan yang Mahapengasih, yang memberi kehidupan pada alam dan menegakkannya. Ia yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidak bergerak. Semoga Ia Savitar, memberikan rakhmat-Nya kepada kami. Untuk ketentraman hidup, dengan kemampuan melawan kekuatan jahat.”
(Ag Veda IV. 53. 6)

         Dewa Surya disebut dengan sebutan Savita atau Savitar adalah sebagai dewa pencipta kehidupan yang ada di alam semesta, Maha Agung dan Mahakasih sebagai sumber kebajikan dan keindahan serta kebenaran. Pada dewa inilah semua makhluk berlindung beserta memohon agar dewa ini dapat memberikan ketentraman hidup dengan kekuatan untuk mampu melawan kejahatan.
Penggambaran sifat-sifat mulia dan agung dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dapat dilakukan dengan berbagai macam simbol. Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa dilakukan untuk mempermudah umat memahami tentang sifat-sifat Tuhan yang maha.



Uji Kompetensi
Setelah mempelajari materi pembelaran 2 diatas, selanjutnya jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada kertas double polio / sesuai permintaan gurumu kemudian dikumpulkan.
Pertanyaan:
  1. Apakah yang dimaksud dengan Vibhuti Marga? Jelaskanlah!
  2. Galilah konsep ajaran Vibhuti Marga yang ada pada berbagai jenis sumber buku yang pernah dibaca. Tuliskanlah dan pahamilah konsep-konsep yang dimaksud, selanjutnya tuangkan karyamu masing-masing dalam portopolio.
  3. Dengan cara bagaimana ajaran Vibhuti Marga dapat dilaksanakan? Jelaskanlah!
  4. Bagaimana pelaksanaan ajaran Vibhuti Marga yang ada di sekitar lingkungan kamu?
  5. Menurut kamu sejak kapan sebaiknya ajaran Vibhuti Marga dilaksanakan oleh umat Hindu? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah dan teman-temanmu di sekolah.
  6. Apakah tujuan ajaran Vibhuti Marga?
  7. Apakah tujuan agama Hindu?
  8. Bagaimana hubungan tujuan ajaran Vibhuti Marga dengan tujuan agama Hindu? Sebelumnya diskusikanlah dengan orangtuamu di rumah dan teman - temanmu di sekolah!
  9. Mengapa kita perlu menggambarkan perwujudan Tuhan?
  10. Temukanlah bait-bait sloka yang menggambarkan tentang Tuhan dari berbagai sumber yang diketahui!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Materi : C. SAD DARSANA

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA