Materi ke-12 Pendidikan Agama Hindu Dan Budhi Pekerti Kelas XII
KITAB SUCI PANATURAN
Agama
Hindu sudah berusia ribuan tahun. Diperkirakan telah ada sejak 5 ribu tahun
yang lalu. Agama ini mula-mula dianut oleh masyarakat India di sepanjang sungai
Sindu. Kemudian ajaranNya menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sebagai sebuah
agama memiliki pula kitab suci yang bernama Weda. Kitab suci Weda ini terbagi
atas dua kelompok besar, yakni kitab Weda, Sruti dan Weda Smerti. Kitab Weda
Sruti terbagi lagi atas 3 kelompok, yakni kelompok Kitab Suci Mantra, Brahmana,
dan Upanishad. Yang termasuk di dalam kelompok kitab Mantra adalah Kitab Rig
Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Keempatnya sering disebut sebagai
kitab suci Catur Weda. Kitab Brabmana terbagi lagi atas kelompok kitab
Aitareya, Satapatha, Tandya, dan Gopatha. Sedangkan kitab Upanishad terdiri
atas 92 buah kitab. Dan kitab Weda Smerti berkembang menjadi kitab suci
Wedangga (Siksa, Wyakarana, Chanda, nirukta, Jyotisa, Kalpa), kitab Upaweda
(Itihasa, Purana, Ayurweda, Arthasastra, dll) dan kitab Agama (Brahmanisme,
Siwaisme, Waisnawaisme, Saktiisme, dll). Kemudian muncul berbagai kitab Nibanda
dengan bermacam penafsiran yang ditulis oleh para Mahareshi, Reshi dan
cendekiawan Hindu. Kelompok kitab Nibanda ini antara lain adalah kitab
Sarasamuscaya, Purwamimamda, Brahmasutra, Wedantasutra, Reinterpretasi dan
revitalisasi selalu dilakukan terhadap kitab suci Weda ini.
Oleh
sebab itu orang luar sering keliru dalam menilai perkembangan serta pelaksanaan
agama Hindu di berbagai negara atau daerah setempat. Di Indonesia muncul
istilah Hindu Bali, Hindu Tengger, Hindu Batak, Hindu Kaharingan, Hindu Toraja,
dan lain-lainnya. Kemunculannya ini disebabkan pelaksanaan ajaran-Nya
berbeda-beda sesuai dengan daerah (desa), zaman (kala), dan manusia atau
lingkungannya (patra). Demikian pula dalam penyebutan Tuhan, mempunyai
kekhasan/spesifikasi masing-masing, mempergunakan bahasanva sendiri. Misalnya
Ran ying Hatalla (Kaharingan), atau Hyang Widhi (Bali, Jawa) adalah sebutan
untuk Tuhan. Dengan cara penyebutan seperti ini mereka lebih merasakan
keberadaan Tuhan di dalam hati sanubarinya sendiri dibandingkan dengan
menyembah Tuhan berdasarkan bahasa Weda, seperti Brahman misalnya. Umat Hindu
Kaharingan suku Dayak di Kalimantan Tengah memiliki pula buku suci sebagai
pegangan di dalam melakukan ajaran agama Hindu. Buku suci penuntunnya, mereka
sebut Kitab Suci Panaturan. Di dalam kitab suci ini disebutkan bahwa ajaran
ketuhanan mereka menganut paham theisme adwaita. Artinya percaya kepada Tuhan
Yang Maha Tunggal, tetapi menampakkan Diri dalam berbagai wujud. Tafsir ini
sesuai dengan bunyi Pasal 1 Kitab Suci Panaturan tentang Tamparan taluh handini
(Awal segala kejadian). Ayat 3 dan 6 tertulis sebagai berikut:
Aku tuh Ranying Hatalla je paling
kuasa, tamparan taluh handiai tuntang kahapuse, tuntang Kalawa jetuh iye te kalawa pambelum, ije inanggareku kangguranan ara Hintan Kaharingan
(Ayat 3).
Aku inilah Ranying Hatalla Yang Maha
Kuasa, Awal dan Akhir segala kejadian dan cahaya kemuliaanKu yang terang bersih
dan suci adalah Cahaya yang kekal abadi dan Aku Sebut Ia Hintan Kaharingan.
Ranying Hatalla nuntun pahaliai
tingang nureng Nyababeneng tanduk. Handung kalawa jet te puna pahalingei biti,
hayak iye mananggare gangguranan arae bagare “Jata Balawang Bulau Kanaruhan
Bapager Hintan Mijen Papan Malambang Bulau Marung Laut Bapantan Hintan”
(Ayat 6).
Ranying Hatalla memperlihatkan wujud
itu dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah bayanganNya sendiri dan Beliau
memberikan nama kepada bayangan tersebut “Jata Balawang Bulu Kanaruhan Bapager
Hintan Mijen Papan Malambung Bulau Marung Laut Bapantan Hintan”.
Isi dan kitab suci Panaturan tidaklah jauh berbeda dengan isi kitab atau lontar bercorak Hindu yang ada di Bali, atau di tempat lainnya. Terdapat pula di dalamnya petunjuk tentang pelaksanaan tata cara basarah (persembahyangan), melakukan upacara dan upakara Panca Yadnya. Misalnya dalam upacara Manusa Yadnya, Nahunan adalah upacara kelahiran yang terdiri atas upacara Paleteng (hamil 5 bulan), Nyaki Ehet (hamil 7 bulan), Mangkang Kahang Badak (hamil 9 bulan), dan upacara Nahunan pemberian nama anak. Ada pula upacara perkawinan yang mereka sebut Lunuk Hakaja Pating. Demikian pula dengan upacara lainnya dalam Dewa Yadnya, Reshi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Seluruh pelaksanaan yadnya tersebut dilakukan berdasarkan atas petunjuk yang ada di dalam kitab suci Panaturan.
A. PENGERTIAN PANATURAN
Didalam
perkembangannya, Agama Hindu Kaharingan berusaha untuk mampu
mensejajarkan dirinya dengan agama-agama lain dibumi ini, sebagai sebuah agama,
Agama Hindu Kaharingan memiliki suatu pedoman yang menjadi dasar pegangan bagi
umatnya “ Hindu Kaharingan “ Didalam menjalankan kehidupannya yang
percaya terhadap “ RANYING HATALLA LANGIT “
yaitu sebuah kitab suci Panaturan. Sebagai Kitab Suci PANATURAN, maka
didalamnya terdapat kandungan-kandungan tentang nilai-nilai keagamaan yang
menjadi pegangan hidup bagi penganutnya, seperti juga yang dimiliki agama-agama
lain.
Kitab
Suci Panaturan ini memuat tentang pedoman, ajaran, nilai agama Hindu Kaharingan
mulai dari proses penciptaaan alam semesta dengan segala isinya sampai
kepada ajaran didalam kehidupan umat manusia hingga penyatuan kembali
kepada pencipta Ranying Hatalla Langit. Nilai-nilai atau pedoman-pedoman yang
terkandung didalam Kitab Suci Panaturan inilah yang harus selalu dihayati dan
diamalkan oleh umat Hindu Kaharingan, sehingga mereka mampu menjadi manusia
yang berSradha dan Bakti didalam melaksanakan kewajiban didunia ini.
Kitab
Suci Panaturan berasal dari bahasa Sangiang yaitu “ Naturan “ yang artinya
menuturkan atau mensilsilahkan.
Yang
kemudian mendapatkan awalan Pa sehingga menjadi “ PANATURAN “ yang artinya
Kitab Suci yang menuturkan atau mensilsilahkan tentang penciptaan alam semesta
beserta isinya, dan fungsi bagi umat manusia yang merupakan wahyu Ranying
Hatalla Langit yang diyakini oleh seluruh umat Hindu Kaharingan.
Panaturan adalah memuat tentang ajaran-ajaran, norma- norma didalam agama Hindu Kaharingan yang memuat tentang wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang oleh umat Hindu Kaharingan disebut dengan Ranying Hatalla Langit Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan.
( Panaturan, 2001; 7 ).
Hal ini dapat kita lihat dari ayat
Tawur yang berbunyi “ Balang Bitim Jadi Isi Hamtampuli Balitan Jadi Daha Dia
Balang Bitim Injam Akan Tuntung Luang Rawei , Uluh Pantai Danum Kalunen Nalatai
Tisui Luwuk Kampungan Bunu Dengan Ranying Hatalla , Sahur Parapah Baratuyang
Hawun”
( Panaturan, 2001; 7 ).
Kitab Suci Panaturan diyakini dan sebagai pedoman hidup oleh umat Hindu Kaharingan merupakan sumber ajaran , bimbingan, dan tauladan yang sangat diperlukan didalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Kitab Suci Panaturan yang merupakan wahyu dari Ranying Hatalla Langit yang mengandung ajaran atau pedoman hidup didunia ini dan diakhirat nanti merupakan penuntun tindakan umat Hindu Kaharingan sejak ia dilahirkan sampai kepada ia kembali kepada Ranying Hatalla Langit. Ajaran atau pedoman yang tertulis didalam Kitab Suci Panaturan tidak hanya terbatas sebagai tuntunan hidup individual melainkan juga sebagai tuntunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Ajaran yang tertulis
didalam Kitab Suci tersebut diwahyukan oleh Ranying Hatalla Langit dan diterima
oleh para Basir ( Ulama umat Hindu Kaharingan ) dan disampaikan secara lisan
didalam segala kegiatan ritual agama Hindu Kaharingan.
Didalam Kitab Suci Panaturan yang dikeluarkan oleh Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan ( MB-AHK ) cetakan tahun 2001 memuat 63 pasal yang terdiri dari 2951 ayat.
Komentar
Posting Komentar