Materi ke-13 Pendidikan Agama Hindu Dan Budhi Pekerti Kelas XII

KITAB SUCI PANATURAN

Agama Hindu sudah berusia ribuan tahun. Diperkirakan telah ada sejak 5 ribu tahun yang lalu. Agama ini mula-mula dianut oleh masyarakat India di sepanjang sungai Sindu. Kemudian ajaranNya menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sebagai sebuah agama memiliki pula kitab suci yang bernama Weda. Kitab suci Weda ini terbagi atas dua kelompok besar, yakni kitab Weda, Sruti dan Weda Smerti. Kitab Weda Sruti terbagi lagi atas 3 kelompok, yakni kelompok Kitab Suci Mantra, Brahmana, dan Upanishad. Yang termasuk di dalam kelompok kitab Mantra adalah Kitab Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Keempatnya sering disebut sebagai kitab suci Catur Weda. Kitab Brabmana terbagi lagi atas kelompok kitab Aitareya, Satapatha, Tandya, dan Gopatha. Sedangkan kitab Upanishad terdiri atas 92 buah kitab. Dan kitab Weda Smerti berkembang menjadi kitab suci Wedangga (Siksa, Wyakarana, Chanda, nirukta, Jyotisa, Kalpa), kitab Upaweda (Itihasa, Purana, Ayurweda, Arthasastra, dll) dan kitab Agama (Brahmanisme, Siwaisme, Waisnawaisme, Saktiisme, dll). Kemudian muncul berbagai kitab Nibanda dengan bermacam penafsiran yang ditulis oleh para Mahareshi, Reshi dan cendekiawan Hindu. Kelompok kitab Nibanda ini antara lain adalah kitab Sarasamuscaya, Purwamimamda, Brahmasutra, Wedantasutra, Reinterpretasi dan revitalisasi selalu dilakukan terhadap kitab suci Weda ini.

Oleh sebab itu orang luar sering keliru dalam menilai perkembangan serta pelaksanaan agama Hindu di berbagai negara atau daerah setempat. Di Indonesia muncul istilah Hindu Bali, Hindu Tengger, Hindu Batak, Hindu Kaharingan, Hindu Toraja, dan lain-lainnya. Kemunculannya ini disebabkan pelaksanaan ajaran-Nya berbeda-beda sesuai dengan daerah (desa), zaman (kala), dan manusia atau lingkungannya (patra). Demikian pula dalam penyebutan Tuhan, mempunyai kekhasan/spesifikasi masing-masing, mempergunakan bahasanva sendiri. Misalnya Ran ying Hatalla (Kaharingan), atau Hyang Widhi (Bali, Jawa) adalah sebutan untuk Tuhan. Dengan cara penyebutan seperti ini mereka lebih merasakan keberadaan Tuhan di dalam hati sanubarinya sendiri dibandingkan dengan menyembah Tuhan berdasarkan bahasa Weda, seperti Brahman misalnya. Umat Hindu Kaharingan suku Dayak di Kalimantan Tengah memiliki pula buku suci sebagai pegangan di dalam melakukan ajaran agama Hindu. Buku suci penuntunnya, mereka sebut Kitab Suci Panaturan. Di dalam kitab suci ini disebutkan bahwa ajaran ketuhanan mereka menganut paham theisme adwaita. Artinya percaya kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, tetapi menampakkan Diri dalam berbagai wujud. Tafsir ini sesuai dengan bunyi Pasal 1 Kitab Suci Panaturan tentang Tamparan taluh handini (Awal segala kejadian). Ayat 3 dan 6 tertulis sebagai berikut:

Aku tuh Ranying Hatalla je paling kuasa, tamparan taluh handiai tuntang kahapuse, tuntang Kalawa jetuh iye te kalawa pambelum, ije inanggareku kangguranan ara Hintan Kaharingan (Ayat 3).

Aku inilah Ranying Hatalla Yang Maha Kuasa, Awal dan Akhir segala kejadian dan cahaya kemuliaanKu yang terang bersih dan suci adalah Cahaya yang kekal abadi dan Aku Sebut Ia Hintan Kaharingan.

Ranying Hatalla nuntun pahaliai tingang nureng Nyababeneng tanduk. Handung kalawa jet te puna pahalingei biti, hayak iye mananggare gangguranan arae bagare “Jata Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan Mijen Papan Malambang Bulau Marung Laut Bapantan Hintan” (Ayat 6).

Ranying Hatalla memperlihatkan wujud itu dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah bayanganNya sendiri dan Beliau memberikan nama kepada bayangan tersebut “Jata Balawang Bulu Kanaruhan Bapager Hintan Mijen Papan Malambung Bulau Marung Laut Bapantan Hintan”.

Isi dan kitab suci Panaturan tidaklah jauh berbeda dengan isi kitab atau lontar bercorak Hindu yang ada di Bali, atau di tempat lainnya. Terdapat pula di dalamnya petunjuk tentang pelaksanaan tata cara basarah (persembahyangan), melakukan upacara dan upakara Panca Yadnya. Misalnya dalam upacara Manusa Yadnya, Nahunan adalah upacara kelahiran yang terdiri atas upacara Paleteng (hamil 5 bulan), Nyaki Ehet (hamil 7 bulan), Mangkang Kahang Badak (hamil 9 bulan), dan upacara Nahunan pemberian nama anak. Ada pula upacara perkawinan yang mereka sebut Lunuk Hakaja Pating. Demikian pula dengan upacara lainnya dalam Dewa Yadnya, Reshi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Seluruh pelaksanaan yadnya tersebut dilakukan berdasarkan atas petunjuk yang ada di dalam kitab suci Panaturan. 

 

A. PENGERTIAN PANATURAN

 

Didalam perkembangannya, Agama Hindu Kaharingan  berusaha untuk  mampu mensejajarkan dirinya dengan agama-agama lain dibumi ini, sebagai sebuah agama, Agama Hindu Kaharingan memiliki suatu pedoman yang menjadi dasar pegangan bagi umatnya  “ Hindu Kaharingan “ Didalam menjalankan kehidupannya yang percaya terhadap     “ RANYING HATALLA LANGIT “   yaitu sebuah kitab suci Panaturan.  Sebagai Kitab Suci PANATURAN, maka didalamnya terdapat kandungan-kandungan tentang nilai-nilai keagamaan yang menjadi pegangan hidup bagi penganutnya, seperti juga yang dimiliki agama-agama lain. 

Kitab Suci Panaturan ini memuat tentang pedoman, ajaran, nilai agama Hindu Kaharingan mulai dari proses penciptaaan alam semesta dengan segala isinya sampai kepada  ajaran didalam kehidupan umat manusia hingga penyatuan kembali kepada pencipta Ranying Hatalla Langit. Nilai-nilai atau pedoman-pedoman yang terkandung didalam Kitab Suci Panaturan inilah yang harus selalu dihayati dan diamalkan oleh umat Hindu Kaharingan, sehingga mereka mampu menjadi manusia yang berSradha dan Bakti didalam melaksanakan kewajiban didunia ini.

Kitab Suci Panaturan berasal dari bahasa Sangiang yaitu “ Naturan “ yang artinya menuturkan atau mensilsilahkan.

Yang kemudian mendapatkan awalan Pa sehingga menjadi “ PANATURAN “ yang artinya Kitab Suci yang menuturkan atau mensilsilahkan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya, dan fungsi bagi umat manusia yang merupakan wahyu Ranying Hatalla Langit yang diyakini oleh seluruh umat Hindu Kaharingan.

Panaturan adalah memuat tentang ajaran-ajaran, norma- norma didalam agama Hindu Kaharingan yang memuat tentang wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang oleh umat Hindu Kaharingan disebut dengan Ranying Hatalla Langit Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau  Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan.

( Panaturan, 2001; 7 ).

Hal ini dapat kita lihat dari ayat Tawur yang berbunyi “ Balang Bitim Jadi Isi Hamtampuli Balitan Jadi Daha Dia Balang Bitim Injam Akan Tuntung Luang Rawei , Uluh Pantai Danum Kalunen Nalatai Tisui Luwuk Kampungan Bunu Dengan Ranying Hatalla , Sahur Parapah Baratuyang Hawun

( Panaturan, 2001; 7 ).

Kitab Suci Panaturan diyakini dan sebagai pedoman hidup oleh umat Hindu Kaharingan merupakan sumber ajaran , bimbingan, dan tauladan yang sangat diperlukan didalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Kitab Suci Panaturan yang merupakan wahyu dari Ranying Hatalla Langit yang mengandung ajaran atau pedoman hidup didunia ini dan diakhirat nanti merupakan penuntun tindakan umat Hindu Kaharingan sejak ia dilahirkan sampai kepada ia kembali kepada Ranying Hatalla Langit. Ajaran atau pedoman yang tertulis didalam Kitab Suci Panaturan tidak hanya terbatas sebagai tuntunan hidup individual melainkan juga sebagai tuntunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Ajaran yang tertulis didalam Kitab Suci tersebut diwahyukan oleh Ranying Hatalla Langit dan diterima oleh para Basir ( Ulama umat Hindu Kaharingan ) dan disampaikan secara lisan didalam segala kegiatan ritual agama Hindu Kaharingan.

Didalam Kitab Suci Panaturan  yang dikeluarkan oleh Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan ( MB-AHK ) cetakan tahun 2001 memuat 63 pasal yang terdiri dari 2951 ayat.



KITAB SUCI PANATURAN


HUANG BUKU

Pasal 1. Tamparan Taluh Handiai.

hal. 1 s/d 3

Pasal 2. RANYING HATALLA Manjapa Petak, Langit,

Bulan, Bintang, Matan Andau Tuntang Taluh

Huange, Hayak Mambagi Kakaput Umba

Kalawa.

hal. 4 s/d 8

Pasal 3. Bukit Hintan Hasahantak Umba Bukit

Bulau.

hal. 9 s/d 14

Pasal 4. Bukit Hintan Umba Bukit Bulau Hasahantak

Tinai.

hal. 14 s/d 23

Pasal 5. Garing Lalunjung Pulang Duhung Tuntang

Kumpang Duhung Pajanjuri Bungking Kayu

Erang Tingang.

hal. 23 s/d 29

Pasal 6. Manyamei Tunggul Garing Janjahunan

Laut, Sahawung Tangkuranan Hariran

Ewen Ndue Kameluh Putak Bulau Janjulen

Karangan, Limut Batu Kamasan Tambun

Hasembang Tanduk.

hal. 30 s/d 34

Pasal 7. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Su laka.

hal. 34 s/d 36

Pasal 8. Kameluh Putak Balau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka Due

Hal. 36 s/d 38

Pasal 9. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Telu.

hal. 38 s/d 40

Pasal 10. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Epat.

hal. 40 s/d 42

DAFTAR ISI

Pasal 1. Awal Segala Kejadian.

hal. 1 s/d 3

Pasal 2. RANYING HATALLA Menciptakan Bumi,

Langit, Bulan, Bintang, Matahari Beserta

Segala Isinya Dan Membagi Gelap Dengan

Terang.

hal. 4 s/d 8

 

Pasal 3. Bukit Hintan Menyatu Dengan Bukit Bulau.

hal. 9 s/d 14

Pasal 4. Bukit Hintan Dan Bukit Bulau Menyatu Lagi.

hal. 14 s/d 23

 

Pasal 5. Garing Lalunjung Pulang Duhung Dan

Kumpang Duhung Keluar Dari Bungking

Kayu Erang Tingang.

hal. 23 s/d 29

Pasal 6. Manyamei Tunggul Garing Janjahunan

Laut, Sahawung Tangkuranan Hariran Dan

Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan,

Limut Batu Kamasan Tambun Bertemu.

hal. 30 s/d 34

 

 

Pasal 7. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke Pertama Kali.

hal. 34 s/d 36

Pasal 8. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Pajanjuri Darahnya Yang Ke Dua Kali.

hal. 36 s/d 38

Pasal 9. Kameluh Putak Bulau Janjuien Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke Tiga Kali.

hal. 38 s/d 40

Pasal 10. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya. Yang Ke Empat Kali.

hal. 40 s/d 42

Pasal 11. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Lime.

hal. 42 s/d 45

Pasal 12. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Jahawen.

hal. 45 s/d 46

Pasal 13. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Uju.

hal. 47 s/d 49

Pasal 14. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Hanya.

hal. 49 s/d 50

Pasal 15. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Jalatien.

hal. 50 s/d 51

Pasal 16. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Paj anjuri Dahae Ije Ka- Sapuluh.

hal. 51 s/d 52

Pasal 17. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Sawalas.

hal. 52 s/d 53

Pasal 18. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Dahae Ije Ka- Duewalas.

hal. 53 s/d 55

Pasal 19. Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut

Iatuh Gawin Lunuk Hakaja Pating Umba

Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan.

hal. 56 s/d 60

Pasal 20. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan,

Limut Batu Kamasan Tambun, Handiwung

Kanyurung Pusu, Pandung Bapangku Anak.

hal. 60 s/d 65

Pasal 21. Taluh Ije Injadian Awi RANYING HATALLA

Limbah Kameluh Putak Bulau Janjulen

Karangan Luas Anake.

hal. 65 s/d 67

Pasal 11. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Lima Kali.

hal. 42 s/d 45

Pasal 12. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Enam Kali.

hal. 45 s/d 46

Pasal 13. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Tujuh Kali.

hal. 47 s/d 49

Pasal 14. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Delapan Kali.

hal. 49 s/d 50

Pasal 15. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Sembilan Kali.

hal. 50 s/d 51

Pasal 16. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Sepuluh Kali.

hal. 51 s/d 52

Pasal 17. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Sebelas Kali.

hal. 52 s/d 53

Pasal 18. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan

Pajanjuri Darahnya Yang Ke-Duabelas Kali.

hal. 53 s/d 55

Pasal 19. Manyamei Tunggul Garing Janjahunan

Laut Dilaksanakan Perkawinannya Dengan

Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan.

hal. 56 s/d 60

Pasal 20. Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan,

Limut Batu Kamasan Tambun Mengandung.

hal. 60 s/d 65

Pasal 21. Segalanya Yang Dijadikan RANYING

HATALLA Setelah Kameluh Putak Bulau

Janjulen Karangan Melahirkan Anaknya.

hal. 65 s/d 67

Pasal 22. Raja Bunu Dia Tau Baseput Barigas

Hakananan Pantar Pinang.

hal. 67 s/d 71

Pasal 23. Raja Sangen, Raja Sangiang, Tuntang Raja

Bunu Inuah.

hal. 71 s/d 76

Pasal 24. Raja Sangen, Raja Sangiang, Raja Bunu

Kanuah Gajah Bakapek Bulau, Unta

Hajaran Tandang Barikur Hintan.

hal. 76 s/d 84

Pasal 25. Raja Sangen Nanturung Bukit Bulau

Kangantung Gandang, Nyahendeng

Kereng Rabia Nunyang Hapalangka Langit.

hal. 84 s/d 88

Pasal 26. Raja Sangiang Nanturung Bukit Bulau

Kangantung Gandang, Nyahendeng

Kereng Rabia Nunyang Hapalangka Langit.

hal. 88 s/d 92

Pasal 27. Raja Bunu Nanturung Bukit Bulau Kangantung

Gandang, Nyahendeng Kereng Rabia

Nunyang Hapalangka Langit.

hal. 92 s/d 96

Pasal 28. Raja Bunu Inyundau Awi Angui Bungai

Mama Lengai Tingang.

hal. 96 s/d 107

Pasal 29. RANYING HATALLA Maningak Mameteh

Raja Bunu.

hal. 107 s/d 109

Pasal 30. Kameluh Endas Bulau Lisan Tingang Matuh

Kabaluma Belum.

hal. 109 s/d/24

Pasal 31. RANYING HATALLA Janjaruman

Kahandake Umba Manyamei Tunggul

Garing Janjahunan Laut.

hal. 125 s/d 128

 

22. Raja Bunu Tak Bisa Tumbuh Sehat

Memakan Pantar Pinang.

hal. 67 s/d 71

Pasal 23. Raja Sangen, Raja Sangiang, Dan Raja

Bunu Dianugerahi.

hal. 71 s/d 76

Pasal 24. Raja Sangen, Raja Sangiang, Dan Raja

Bunu Dianugerahi Gajah Bakapek Bulau,

Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan.

hal. 76 s/d 84

Pasal 25. Raja Sangen Menuju Bukit Bulau

Kangantung Gandang, Kereng Rabia

Nunyang Hapalangka Langit.

hal 84 s/d 88

Pasal 26. Raja Sangiang Menuju Bukit Bulau

Kangantung Gandang, Kereng Rabia

Nunyang Hapalangka Langit.

hal. 88 s/d 92

Pasal 27. Raja Bunu Menuju Bukit Bulau Kangantung

Gandang, Kereng Rabia Nunyang

Hapalangka Langit.

hal. 92 s/d 96

Pasal 28. Raja Bunu Ditemui Oleh Angui Bungai

Mama Lengai Tingang.

hal 96 s/d 107

Pasal 29. RANYING HATALLA Berfirman Kepada

Raja Bunu.

hal. 107 s/d 109

Pasal 30. Kameluh Endas Bulan Lisan Tingang

Kawin.

hal. 109 s/d 124

Pasal 31. RANYING HATALLA Memberitahukan

KehendakNYA Kepada Manyamei Tunggul

Garing Janjahunan Laut.

hal. 125 s/d 128

Pasal 32. RANYING HATALLA Janjaruman Akan Panakan Raja Bunu Auh Jalan Ewen Buli

Haluli Manalih 1E.

hal. 128 s/d 131

Pasal 33. Malalus Tiwah Suntu.

hal. 131 s/d 134

Pasal 34. Ewen Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Nuah

Pantar Bulau Sulep Ikuh Tambun.

hal. 134 s/d 140

Pasal 35. Raja Bunu Ewen Hanak Hajarian

Mamungkat Arepe Bara Lewu Bukit Batu

Nindan Tarung, Mangkalewu Intu Lewu

Bukit Tambak Raja.

hal. 140 s/d 145

Pasal 36. Uluh Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Sama

Manandang Petak Mampar Buang Ekae

Mangkalewu Intu Pantai Danum Sangiang.

hal. 145 s/d 161

Pasal 37. RANYING HATALLA Malaluhan Raja Bunu

Ewen Hanak Hajarian Nanturung Tantan

Bukit Samatuan.

hal. 161, s/d 166

Pasal 38. Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Limbah

Uluh Are Babungkat.

hal. 167 s/d 171

Pasal 39. RANYING HATALLA Mambagi Ungkup

Panakan Raja Bunu Manyuang Pantai

Danum Kalunen.

hal. 171 s/d 176

Pasal 40. Mangku Amat Sangen Ewen Ndue Nyai

Jaya Nyangiang SaIuh Sawak Bambang

Penyang.

hal. 176 s/d 186

Pasal 41. Bawi Ayah Hadurut Bara Lewu Telu,

Nanturung Pantai Danum Kalunen.

hal. 186 s/d 199

Pasal 42. Auh Lunas Manawur.

hal. 199 s/d 228

Pasal 32. RANYING HATALLA. Memberitahukan

Kepada Keturunan Raja Bunu Tata-Cara

Mereka Kembali KepadaNYA.

hal. 128 s/d 131

Pasal 33. Pelaksanaan Tiwah Suntu.

hal. 131 s/d 134

Pasal 34. Mereka Di Bukit Batu Nindan Tarung

Dianugerahi Pantar Bulau Sulep Ikuh

Tambun.

hal. 134 s/d 140

Pasal 35. Raja Bunu Beserta Keturunannya Pindah

Dari Bukit Batu Nindan Tarung Menuju

Bukit Tambak Raja.

hal. 140 s/d 145

Pasal 36. Mereka Di Bukit Batu Nindan Tarung

Masing Masing Mencari Tempat Tinggalnya

Di Pantai Danum Sangiang.

hal. 145 s/d 161

Pasal 37. RANYING HATALLA Menghadirkan Raja

Bunu Sekeluarga Menuju Puncak Bukit

Samatuan.

hal. 161 s/d 166

Pasal 38. Lewu Bukit Batu Nindan Tarung Setelah

Mereka Pindah Tempat Tinggalnya.

hal. 167 s/d 171

Pasal 39. RANYING HATALLA Membagi Keluarga

Raja Bunu Menyebar Ke Seluruh

Permukaan Bumi.

hal. 171 s/d 176

Pasal 40. Mangku Amat Sangen Dan Nyai Jaya

NyangiangBerubah Wujudnya.

hal 176 s/d 186

Pasal 41. Bawi Ayah Hadir Dari Lewu Telu Menuju

Pantai Danum Kalunen.

hal 186 s/d 199

Pasal 43. Auh Lunas Nantilang Liau.

hal. 229 s/d 239

Pasal 44. Auh Lunas Manjung Tawur Palus Nyaluh

Tawur.

hal. 239 s/d 250

Pasal 45. Auh Lunas Mujan Balai.

hal. 250 s/d 256

Pasal 46. Auh Ngarungut Sangiang.

hal. 257 s/d 258

Pasal 47. Auh Lunas Mandurut Banama Tingang

Tuntang Lasang Tin- gang.

hal. 258 s/d 264

Pasal 48. Auh Lunas Mangkang Sangiang.

hal. 264 s/d 275

Pasal 49. Auh Lunas Paturun Sangiang.

hal. 275 s/d 289

Pasal 50. Auh Lunas Tantulak Dahiang Lapik Gawi.

hal. 289 s/d 318

Pasal 51. Auh Lunas Banama Tingang Namuei Pantai

Sangiang Huang Gawi Balaku Untung.

hal. 319 s/d 375

Pasal 52. Auh Kutak Pabuli Sangiang Palus Buli Lewu

Danum Jalayan.

hal. 375 s/d 388

Pasal 53. Talatah Nahunan.

hal. 388 s/d 396

Pasal 54. Auh Lunas Pelek Rujin Pan- gawin.

hal. 396 s/d 416

Pasal 55. Bawi Ayah Manyarita Ampin Ta-latah Gawin

Manyanggar.

hal. 417 s/d 423

Pasal 56. Bawi Ayah Nantuajar Auh Talatah Nantulak

Ambun Rutas Ma- tei.

 

Pasal 42. Ucapan Manawur.

hal. 199 s/d 228

Pasal 43. Ucapan Nantilang Liau.

hal. 229 s/d 239

Pasal 44. Ucapan Manjung Tawur Sekaligus Nyaluh

Tawur.

hal. 239 s/d 250

Pasal 45. Ucapan Mujan Balai.

hal. 250 s/d 256

Pasal 46. Ucapan Ngarungut Sangiang.

hal. 257 s/d 258

Pasal 47. Ucapan Menghadirkan Banama Tingang

Dan Lasang Tingang.

hal 258 s/d 264

Pasal 48. Ucapan Mangkang Sangiang.

hal. 264 s/d 275

Pasal 49. Ucapan Paturun Sangiang.

hal. 275 s/d 289

Pasal 50. Tata-Cara Tantulak Dahiang Lapik Gawi.

hal. 289 s/d 318

Pasal 51. Tata-Cara Banama Tingang Mengarungi

Pantai Sangiang Pada Upacara Balaku

Untung.

hal. 319 s/d 375

Pasal 52. Ucapan Pabuli Sangiang Dan Sangiang

Kembali Ke Lewu Danum Jalayan.

hal. 375 s/d 388

Pasal 53. Tata-Cara Upacara Nahunan.

hal. 388 s/d 396

Pasal 54. Tata-Cara Pelek Rujin Pengawin

hal. 396 s/d 416

Pasal 55. Bawi Ayah Mengajarkan Tata- Cara Upacara

Manyanggar.

hal. 417 s/d 423

hal. 424 s/d 457

Pasal 57. Uluh Pantai Danum Kalunen Malalus Gawin

Tiwah.

hal. 457 s/d475

Pasal 58. Auh Kutak Hagagahan Liau Har-ing

Kaharingan Nyembang Lewu Tatau.

hal. 475 s/d 558

Pasal 59. Liau Haring Kaharingan Lumpat Lewu

Tatau.

hal. 558 s/d 580

Pasal 60. Auh Lunas Banama Nyahu Ha-gagahan

Liau Balawang Panjang Lumpat Lewu

Tatau.

hal. 580 s/d 603

Pasal 61. Auh Lunas Lasang Talawang Te-ras Jambu

Bahandang Hagagahan Liau Karahang

Tulang Lumpat Lewu Tatau.

hal. 603 s/d 610

Pasal 62. Auh Kutak Balian Patandak.

hal. 610 s/d 622

Pasal 63. Tamparan Atun Pali Tuntang Tu-lah.

hal. 622 s/d 626

Lampiran :

Kakare Gawin Balian.

hal. 627s/d 652

 

Pasal 56. Bawi Ayah Mengajarkan Tata Cara Tantulak

Ambun Rutas Matei.

hal. 424 s/d 457

Pasal 57. Manusia Di Dunia Melaksanakan Upacara

Tiwah.

hal. 457 s/d 475

Pasal 58. Ucapan Mengatar Liau Haring Kaharingan

Menuju Lewu Tatau.

hal. 475 s/d 558

Pasal 59. Liau Haring Kaharingan Tiba Di Lewu

Tatau.

hal. 558 s/d 580

Pasal 60. Ucapan Perjalanan Banama Nya-hu

Mengantar Liau Balawang Panjang

Menuju Lewu Tatau.

hal. 580 s/d 603

Pasal 61. Ucapan Perjalanan Lasang Talawang

Teras Jambu Bahandang Mengantar Liau

Karahang Tulang Menuju Lewu Tatau.

hal. 603 s/d 610

Pasal 62. Ucapan Patandak.

hal. 610 s/d 622

Pasal 63. Awal Adanya Pali Dan Tulah.

hal. 622 s/d 626

Lampiran :

Macam Macam Upacara Balian.

hal. 627 s/d 652

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA

Materi : C. SAD DARSANA