Materi ke-14 Seni Budaya Kelas XII
BAB 8 TEATER
A. Makna Simbol dalam Teater
pa yang terjadi di atas pentas semata-mata adalah simbolisasi dari pesanpesan seniman penggarap teater untuk mengomunikasikan gagasangasasan atau ide-ide keseniannya. Simbol adalah sarana untuk menghantarkan
makna pesan penggarap. Adapun pesan adalah nilai-nilai yang dikomunikasikan
kepada publik atau penonton untuk mendapat tanggapan dan apresiasi.
Teater adalah seni pertunjukan yang sarat dengan simbol-simbol.
Peristiwa panggung bukanlah peristiwa yang sebenarnya, melainkan peristiwa
simbolis yang diangkat dari pengalaman kehidupan manusia. Penonton dapat
menikmati pertunjukan teater melalui proses penafsiran makna-makna dari
simbol-simbol yang dihadirkan di atas pentas. Simbol itu hanyalah sarana
atau media untuk menyampaikan makna pesan seniman kepada penonton.
Di balik sarana simbol ada makna yang ditafsirkan penonton tentang apa
yang dimaksudkan oleh seniman. Perlu kamu ketahui bahwa di dalam teknik
penyampaian gagasan dalam teater dan juga seni lainnya, tidak secara gamblang
dan jelas seperti halnya pidato atau ceramah. Seni selalu mengusung nilainilai secara terselubung dalam balutan simbol hingga menarik untuk dicerna.
Tidak heran jika kamu menonton teater dituntut untuk penuh konsentrasi
mengikuti jalannya pertunjukan agar dapat memaknai apa yang dimaksudkan.
Menonton teater harus senantiasa berpikir untuk dapat menafsirkan makna
pesan yang berada di balik simbol. Keindahan menonton teater, manakala
kita mampu menerjemahkan apa yang diungkapkan lewat sarana simbol dan
mengasosiasikannya pada pengalaman kita.
B. Jenis Simbol dalam Teater
ada tiga, yaitu simbol visual, verbal, dan auditif. Simbol visual adalah simbol yang nampak dalam penglihatan penonton, meliputi seluruh wujud bentuk dan warna termasuk tubuh para pemain. Simbol verbal adalah simbol yang diunkapkan dengan kata-kata, baik oleh para pemain, narator, maupun dalang. Adapun simbol auditif adalah simbol yang berbunyi atau simbol yang ditimbulkan oleh bunyi.
Segala sesuatu yang nampak di atas pentas akan mengirimkan pesan
makna kepada penonton. Misalnya, pemain yang memerankan tokoh cerita
tertentu adalah simbol karakteristik tokoh cerita ciptaan sutradara. Mulai
dari gesturnya, gerakannya, kostumnya, ekspresi wajahnya, serta perkakas
pendukungnya yang ada di atas pentas. Tata cahaya juga akan memperkuat
simbol visual, seperti terang, redup, merah, jingga, kuning, biru dan
sebagainya. Semua gerak laku pemain, bentuk dan warna benda-benda artistik
akan memberikan kesan simbolis pada penontonnya.
Kata-kata para pemain baik melalui dialog maupun monolog, ataupun
narasi yang dibacakan narator atau dalang adalah simbol. Makna pesan verbal sangat bergantung pada kata-kata yang diucapkan, cara mengucapkan, nada
pesan makna kepada penonton teater. Simbol melalui kata-kata atau simbol
verbal adalah simbol yang relatif mudah dicerna oleh penonton. Oleh karena
sifatnya yang langsung mengatakan sesuatu dan penonton langsung memaknai
apa yang dimaksud di balik kata-kata itu.
Setiap bunyi selalu punya arti dan setiap nada senantiasa punya makna
dalam pertunjukan teater. Sebab semua bunyi, semua nada, lirik dan lagu
secara sengaja dicipta untuk memperkuat komunikasi makna. Hentakan kaki
tokoh cerita ketika sedang marah, atau bunyi derap langkah seperti orang
berbaris adalah simbolis untuk mengesankan sesuatu. Lagu syahdu dalam
adegan romantis adalah juga simbol yang akan memperkuat adegan yang
dimaksud.
Semua yang nampak, semua yang terucap, dan semua yang terdengar
adalah simbol yang dapat ditanggapi oleh penonton. Efektivitas penggunaan
jenis-jenis sarana simbolis dalam mengomunikasikan gagasan sangat
bergantung pada pengetahuan dan kemampuan teknik para pemain.
memperkuat komunikasi ide-ide yang akan disampaikan kepada penonton.
Kualitas komunikasi ditentukan oleh proses pencarian atau eksplorasi, proses
latihan, dan penjiwaan. Bahasa verbal atau bahasa dalam bentuk katakata adalah sarana simbolis dalam proses komunikasi. Agar komunikasi
terjadi dan berjalan dengan lancar, maka kedua belah pihak harus saling
memahami apa yang diungkapkan melalui ucapan masing-masing. Kita dapat
memahami gagasan, keinginan, hasrat, maksud melalui ucapan seseorang
yang disampaikan kepada kita. Begitu juga kita dapat menyampaikan apa
yang kita maksud melalui kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain.
Komunikasi bisa berjalan lancar manakala bahasa yang digunakan sama atau
satu bahasa. Jika bahasa yang digunakan lebih dari satu karena berasal dari
dua latar belakang budaya maka komunikasi akan terhambat. Bahkan dalam
satu bahasa pun kadang-kadang terhambat oleh idiom serta perbendaharaan
kata-kata, sehingga komunikasi melalui kata-kata tidak efektif. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan bahasa nonverbal atau bahasa tubuh untuk menegaskan maksud ucapan dengan simbol-simbol visual.
paham tentang apa yang dimaksudkan melalui gerakan anggota tubuh ketika
berkomunikasi. Bahkan diam pun dalam teater adalah komunikasi. Duduk
termenung di sudut ruangan tanpa kata-kata adalah komunikasi, karena
orang lain akan menafsirkan tentang apa dan mengapa merenung. Seseorang
yang sedang mendesah sehabis menarik nafas sangat dalam pada dasarnya
mengomunikasikan sesuatu tentang kehidupannya melalui desahan. Bahasa
nonverbal yang visual tidak terbatas oleh kata-kata dan tidak terbatas oleh
satu makna. Komunikasi nonverbal kadang-kadang menimbulkan multi tafsir
bergantung pada pengetahuan dan pengalaman penafsir yang menjadi mitra
komunikasi.
Di samping bahasa tubuh, bahasa visual meliputi juga bentuk dan warna.
Bentuk bulat berbeda makna dengan persegi, berbeda dengan segitiga dan
seterusnya. Setiap bentuk dimaknai beragam oleh kehidupan budaya. Bentukbentuk itu dapat berupa perkakas rumah, senjata tradisional, dan sebagainya.
Begitu juga warna-warna yang digunakan, baik untuk kostum pemain,
ataupun properti akan mengesankan makna berbeda dari warna yang berbeda.
Namun setiap budaya memaknainya beragam sesuai dengan kesepakatan
komunitas dalam kehidupan budaya masing-masing. Misalnya, warna merah
bagi orang Indonesia dimaknai berani, warna jingga dimaknai murka, warna
putih dimaknai suci, warna kuning dimaknai agung. Namun, jangan heran
jika dalam realitas kehidupan budaya etnik makna-makna itu beragam sesuai
dengan kesepakatan masyarakatnya. Sebagai contoh warna merah bagi orang
Tiongkok dimaknai sebagai warna romantis. Hitam bagi orang Sunda dimaknai
sebagai warna bumi. Ketika kamu memaknai bahasa ungkap teater baik visual,
verbal, maupun nonverbal, maka sarana simbol itu akan menghantarkan
makna budaya. Dengan demikian kamu dapat menafsirkan pesan-pesan yang disampaikan melalui bahasa ungkap tersebut.
atas, selanjutnya anda maknai warna dan bentuk kostumnya, gesturnya, serta
barang-barang pendukung pentas lainnya yang memperkuat adegan. Setelah
itu kemudian giliran anda untuk mencoba merancang atau medesain adegan
teater dalam bentuk lukisan atau sketsa lengkap dengan warnanya.
1. Ragam Teknik Ungkapan Simbolik
yang digunakan biasanya tidak hanya satu media melainkan multimedia.
Media tersebut berupa bahasa ungkap sebagai sarana komunikasi yang
meliputi audio dan visual. Bahasa atau kata-kata yang diucapkan para pemain
dan musik termasuk kategori audio, sedangkan bahasa tubuh, bahasa warna,
dan bentuk termasuk kategori visual. Para penggarap teater senantiasa
melakukan teknik pengungkapan secara efektif mengingat panggung
merupakan ruang yang sangat terbatas, tetapi harus mengesankan berbagai
hal. Jika panggung harus mengesankan suasana pantai, karena peristiwa cerita
terjadi di pantai, tidak mungkin suasana pantai yang sebenarnya dipindahkan
ke atas panggung. Penggarap teater biasanya hanya menghadirkan bendabenda yang khas dan dapat mewakili suasana pantai. Jika tidak dapat
menghadirkan benda-benda pantai dengan sesuatu alasan tertentu, sarana
simbol dapat menggunakan bunyi deru ombak atau desir pasir tertiup angin
laut menyentuh dedaunan yang berada di sekitar pantai. Jika hal itu pun tidak
bisa dilakukan, ada cara instan yang biasa digunakan para penggarap teater,
yaitu dengan lukisan atau print out foto pantai pada kanvas besar atau pada layar belakang. Untuk memperkuat suasana pantai tersebut biasanya dipertegas
pemain, serta akting para pemain yang seolah-olah seperti perilaku orangorang pantai. Kejelian penggarap dalam pemain, serta akting para pemain yang seolah-olah seperti perilaku orangorang pantai. Kejelian penggarap dalam menghadirkan benda-benda, warnawarna, bentuk-bentuk, serta bunyi-bunyi dan perilaku-perilaku untuk
mengesankan suasana tertentu adalah nilai kreativitas yang sangat tinggi.
Sekarang Anda bergabung dalam kelompok dan buatlah suasana peristiwa
tertentu, kemudian presentasikan di depan teman kamu untuk mendapat
tanggapan. Peristiwa yang dimaksud boleh berupa realitas pengalaman kamu,
atau boleh juga khayalan kamu tentang suasana tertentu. Biasakanlah berdiskusi
dengan teman-teman sekelas kamu untuk bertukar pengalaman. Terbukalah
untuk kritik agar kamu kaya akan pengalaman dan teknik pengungkapan. Hal
itu disebabkan, dalam satu peristiwa yang sama mungkin saja menghasilkan
pengalaman kesan yang berbeda. Proses penafsiran terhadap satu peristiwa
yang sama, setiap orang berbeda. Hal itu sangat bergantung pada pengetahuan
dan suasana hati para penafsir.
Setelah mendapat tanggapan dari orang lain, kamu harus terus mencoba
dengan cara melatih teknik pengungkapan, mengembangkan media ungkap,
sampai menghasilkan bagi kesan orang lain bahwa gagasan kamu sesuai.
Selamat mecoba.
E. Ungkapan Simbolik dalam Kreasi Naskah Drama
yang terhimpun dalam sebuah teks naskah drama. Teks naskah drama
yang memuat kata-kata itu adalah simbol-simbol verbal sebagai sarana untuk
mengomunikasikan gagasan cerita. Sekarang silahkan kamu coba tuangkan
pengalaman kamu ke dalam naskah drama. Angkat salah satu tema yang sedang
hangat dibicarakan masyarakat sekeliling kamu. Gunakan idiom kata, diksi,
serta gaya bahasa yang kamu sukai dan khas kamu. Setelah selesai kemudian
komunikasikan pada teman kamu untuk mendapat tanggapan. Apakah ide
yang ingin kamu sampaikan dapat dicerna oleh teman? Jika jawabannya “ya”
kemudian kembangkan naskah yang kamu buat menjadi sebuah adegan drama.
Setelah menjadi sebuah adegan drama, kamu harus selalu meminta teman
untuk menanggapi bahkan mengkritisi guna pengembangan selanjutnya. Jika
mendapat tanggapan yang positif dari teman kamu, kemudian perluas wahana
komunikasinya agar lebih banyak mendapat masukan. Jika naskah itu sudah
jadi dan mendapat banyak tanggapan dari teman kamu, artinya naskah yang
kamu buat itu adalah simbol, sebab pada akhirnya orang lain memahami siapa
kamu yang sebenarnya melalui naskah yang kamu buat.
F. Ungkapan Simbolik dalam Penampilan Teater
enampilan teater pada dasarnya merupakan proses pemanggungan sebuah
lakon. Naskah drama yang berupa teks berisi kata-kata karya seorang
pengarang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa pentas oleh para
seniman penggarap maka itulah pertunjukan teater. Istilah lain untuk proses
penterjemahan bahasa ungkap yang dipanggungkan adalah transformasi.
Bahasa kata-kata dalam teks naskah yang awalnya hanya simbol-simbol
verbal, kemudian diperkaya dengan simbol-simbol audio dan visual. Seorang
penggarap teater akan selalu mencari padanan sarana simbol yang digunakan
dalam teks naskah ke dalam versi pertunjukan. Misalnya, kata “tidak” dalam
teks naskah apakah kemudian langsung diucapkan oleh pemain? Atau hanya
cukup dengan bahasa tubuh dengan cara menggelengkan kepala. Dapat juga
kata “tidak” divisualkan dengan gerakan tangan yang seolah-olah menolak
atau mungkin dapat menggunakan seluruh media ungkap, baik visual maupun
verbal serta audio agar betul-betul lengkap. Perlu diperhatikan bahwa dalam
penggunaan media ungkap, efektivitas dan kesesuaiannya dengan karakter
tokoh cerita yang dimainkan. Karakter tokoh yang lincah, berani dan tegas
senantiasa menyertakan bahasa tubuh ketika dia sedang berbicara. Berbeda
dengan seseorang yang dingin, pendiam, atau pemalu. Dia akan sulit
berkomunikasi dengan orang lain. Akibatnya gagasannya atau hasratnya, atau
keinghinginannya sulit untuk dipahami oleh orang lain. Kedua karakter tersebut
di atas dapat hadir dalam satu cerita dan bagaimanana cara menampilkannya.
Bukan hal gampang untuk menerjemahkan bahasa teks (sastra drama) ke
dalam bahasa pertunjukan. Ada banyak pengetahuan dan pengalaman yang
harus dimiliki oleh seorang penggarap drama. Jika garapan drama tidak
disertai dengan pengetahuan dan pengalaman, maka produk drama yang
dipertunjukan akan berkesan miskin pengalaman dan pengetahuan. Sebaliknya
jika penggarapnya adalah orang yang memiliki banyak pengetahuan serta
pengalaman maka pertunjukan akan berkesan kaya dan bagus. Seseorang yang
memiliki banyak pengetahuan tidak akan kehabisan ide untuk manafsirkan
hal-hal yang ada dalam sastra drama untuk kebutuhan pertunjukan. Seseorang yang memiliki banyak pengalaman dalam proses garapan dan menonton karya
bukan tiruan dari karya orang lain. Orisinalitas karya adalah keunikan seniman
penggarap yang membedakan dirinya dengan seniman lainnya.Semua itu
berindikasi pada suksesnya garapan drama, serta itulah kualitas karya yang
membuat penonton merasa empati pada karya tersebut.
Komentar
Posting Komentar