Materi agama Hindu Kelas XI

B. Keluarga Sukhinah dalam Agama Hindu 

   

 Perenungan: 

Padaning ku-putra taru çuᒲka tumuwuh i ri madhyaning wana, maghas¢gérit matéah agni sahana-hananing halas géséng, ikanang su-putra taru candana tumuwuh i ring wan¢ntara, plawagorag¢ mréga kaga bhramara mara riy¢ padaniwi. 

Terjemahaannya:  

Anak yang jahat sama dengan pohon kering di tengah hutan, karena pergeseran dan pergesekan, keluar apinya, lalu membakar seluruh hutan, akan tetapi anak yang baik sama dengan pohon cendana yang tumbuh di dalam lingkungan hutan, kera, ular, hewan berkaki empat, burung dan kumbang datang mengerubunginya (Nitisastra XII. 1). 

    Semua agama selalu mengajarkan tentang kebajikan (dharma) tidak ada satupun agama yang mengajarkan tentang keburukan (adharma), baik dalam menjalani kehidupan maupun dalam berkeluarga. Dalam ajaran agama Hindu sebuah keluarga dikatakan sejahtera dan bahagia itu dimulai dari sebuah perkawinan yang sah sehingga bisa dikatakan sebagai keluaga yang Sukhinah, karena cikal bakal dari sebuah keluarga dasarnya adalah perkawinan antara wanita dan lelaki sehingga menghasilkan katurunan. Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap laki-laki dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu, dalam Manava Dharmasastra IX. 96 disebutkan sebagai berikut: 

“Prajànartha striyaá såûtàh samtànàrtha÷ ca mànavàá, Tasmàt sàdhàraóo dharmah çrutau patnyà sahàditaá. 

Terjemahan: 

“Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya.

     Untuk bisa terwujudnya keluarga yang sejahtera hendaknya hubungan suami istri harus dijaga sampai akhir hayat. Seperti apa yang tertuang dalam Manava Dharmasastra IX. 101 dan 102 sebagai berikut : “Anyonyasyàwayabhìcaro bhawedàmaranàntikaá, Esa dharmah samàsena jneyah strìpumsayoá parah”

Terjemahan: “Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri”. 

“Tathà nityam yateyàtam strìpumsau tu kåitakriyau, Jathà nàbhicaretà÷ tau wiyuktàwitaretaram” Terjemahan: 

“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. 

    Berdasarkan kedua sloka di atas nampak jelas bahwa agama Hindu tidak menginginkan adanya perceraian, bahkan sebaliknya, dianjurkan agar perkawinan yang kekal hendaknya dijadikan sebagai tujuan tertinggi bagi pasangan suami istri. Dengan terciptanya keluarga sejahtera juga bahagia dan kekal, maka kebahagiaan yang kekal akan tercapai pula. Ini sesuai dengan ajaran Veda dalam kitab Manava Dharma sastra III. 60, sebagai berikut:

 “Samtusto bharyaya bharta bhartra tathaiva ca, Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam” 

Terjemahan: 

“Pada keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal. 

    Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa dijadikan sebagai acuan ke depan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, agar bisa mewujudkan keluarga yang sejahtera dan bahagia (Shukinah) seperti apa yang menjadi tujuan agama Hindu yang tertuang dalam kitab suci Veda. 


a. Tolak Ukur Keluarga Sejahtera dan Bahagia (Sukhinah) Menurut Hindu 

    Sejahtera dan bahagia adalah suatu keadaan di mana rohani (jiwa) terbebas dari penderitaan, di mana jiwa dalam keadaan tenteram dan damai (santhi). Dalam agama Hindu terciptanya kebahagiaan lahir dan batin sehingga bisa disebut dengan jagadhita yaitu kesejahteraan terpenuhinya segala kebutuhan lahiriah yang berupa sandang, pangan dan papan. Suatu keluarga sejahtera kalau terpenuhinya segala keperluan hidup sehari-hari dalam bentuk materi. Namun keluarga yang sejahtera ini belum tentu menikmati kebahagiaan. Ada kalanya suatu keluarga yang sangat minim terpenuhinya keperluan materinya, tetapi menikmati kebahagiaan. Karena itulah, kesejahteraan dan kebahagiaan ini haruslah seimbang. Keseimbangan yang harmonis ini dapat menjadikan keluarga itu sejahtera, tenteram dan damai: ini berarti kebahagiaan lahir batin yang merupakan tujuan utama perkawinan itu benar-benar dapat di capai sehingga bisa dikatakan keluarga sejahtera (Sukhinah). Demi terwujudnya dan terpeliharanya rumah tangga/keluarga yang sejahtera, kiranya perlu menyadari dan mengetahui tentang unsur dan kriteria rumah tangga yang menjadi tolak ukur keberhasilan didalam mewujudkan rumah tangga yang sejahtera dan juga bahagia. Unsur rumah tangga sejahtera dan bahagia (Sukhinah) menurut Hindu yaitu sebagai berikut: 

1. Kecintaan 

    Cinta adalah dorongan yang sangat kuat sekali yang timbul dari dasar hati yang paling dalam untuk membahagiakan obyek itu sendiri, dengan tidak melihat kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri obyek tersebut dan mau menerimanya dalam keadaan yang bagaimana pun juga. 

Ye dharmawewa prathanam caranti 

Dharmena labdhwà tu dhanàni loke, 

Dàrànawàpya kratubhiryajate 

Teûà mayam caiwa paraçca lokaá. 

Nihan lwirnikang wwang sukha mangke, sukha dlàha, hana ya mangabhyasa dharmasàdhana, ri telasnyan paripórna kadamelaning dharmasàdhana denya, mangarjana ta ya artha, dharmatah denyangàrjana, mastri pwa ya, mamukti wisaya, dharma ta denya, musah mayajña ta ya, dewayajña, pitrayajña, ikang wwang mangkana, yatika sukha mangke, sukha dlaha ngaranya.

Terjemahannya: 

    Beginilah macamnya orang yang memperoleh senang sekarang dan musuh kemudian: orang itu membiasakan melakukan dharma, sesudahnya sempurna melaksanakan dharma itu olehnya, maka berikhtiarlah ia memperoleh hartha kekayaan, dengan dharma pula ia berusaha, lalu ia beristri, mengenyam kenikmatan duniawi: dharma pula landasannya, dan kemudian ia melaksanakan yajña, dewa yajña, pitra yajña: orang yang demikian perilakunya, menikmati kebahagiaan sekarang dan kesenangan kemudian namanya (Sarasamuçcaya, 275). 


    Keluarga sukinah dapat dibangun oleh setiap orang yang senang melihat orang senang dan juga senang dilihat orang senang. Demikianlah selalu perilakunya. 


2. Kegembiraan Tidak Menanggung Papa dan Dosa 

    Kegembiraan merupakan suatu harapan dalam sebuah rumah tangga. Keluarga yang gembira adalah keluarga yang sehat lahir dan batin. Kegembiraan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di dalam rumah tangga. Yang baik dalam berumah tangga adalah selalu berusaha untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan rumah tangga dengan gembira. Marah adalah musuhnya kegembiraan itu, oleh karenanya agar kegembiraan itu dapat diwujudkan perangilah kemarahan bangunlah kegembiraan. Sarasamuçcaya menjelaskan sebagai berikut:

Krodho waiwasyato mrtyuståûóa 

waitaranì nadì,

wìdyà kàmadughà dhenuh sansoso 

nandanam wanam.

    

        Lawan ta waneh, iking krodha sinanggah mrtyu ngaranya, mangkana iking tåûóà, ya ika lwah waitarini ngaranya, atyanta bìbhatsa, durgama towi, atyanta ring tis, atyanta ring panas wwainya, iking tåûóà ta wastu ning waitarini ngaranya, kuneng sang hyang aji, sang hyang rahayajnana, sira lembu mametwaken sakahyun: kunang ikang kasantosan, ya ika nandanawana ngaranya, atyanta ring konangunang. 


Terjemahannya: 

Lain daripada itu, kemarahan itu dianggap maut namanya, demikian pula halnya keterikatan ini, yang ini (diumpamakan) sungai watarini namanya, sangat menjijikkan keadaannya, sesungguhnya sukar disebrangi, (kadang kala) sangat sejuknya, sangat panas airnya: sesungguhnya trsna (keterikatan) itulah sebagai wujudnya yang dinamakan sungai watarini: adapun dharmasastra itu, kitab upanisad, itu merupakan lembu yang dapat mengeluarkan segala keinginan: adapun kepuasan itu, adalah taman Nandawana namanya, yang sangat menggairahkan atau menggembirakan (Sarasamuçcaya, 104).

Demikianlah kegembiraan hendaknya selalu diusahakan oleh seseorang yang sudah tentu berdasarkan dharma/kebenaran, dengan demikian, maka dalam keluarga yang bersangkutan dapat terwujud keluarga Sukhinah yakni keluarga yang sejahtera, bahagia, dan ceria. 


3. Kepuasan 

        Pernyataan rasa syukur terhadap semua anugrah Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang harus diwujudkan dengan prilaku sehari-hari agar dapat mencapai kesempurnaan hidup dan kepuasan batin. Dengan membangun rasa syukur terhadap hasil yang telah dicapai maka akan dapat memberikan “kepuasan”. Apabila dalam rumah tangga tidak dilandasi oleh dharma maka rumah tangga akan diselimuti oleh nafsu indria yang akan mengantarkan rumah tangga tersebut dalam jurang kehancuran. Dalam rumah tangga ada tiga hal yang harus disyukuri sebagaimana yang termuat dalam Kitab Canakya Nitisastra VII. 4 sebagai berikut:

 Santosa trisu kartavyah, 

Swadare bhojane dhane. 


Terjemahannya: 

Bersyukurlah dengan tiga hal yaitu: dengan istri sendiri, makanan yang ada dan rejeki yang diperoleh.

        Kepuasan hidup itu dapat ditemukan di manapun kita berada, oleh karenanya olahlah diri untuk mendapatkannya. Kitab Nitisastra menjelaskan sebagai berikut: 

Ikàng dómadi janma rópa maka bhósananika sumilih tékeng sabhà, Surópa maka bhóûaóanya kula çuddha piniliha merék ri jöng haji, Suwastra maka bhósanane kula minukya sira téka ri màdhyaning sabdhà, Suçàstra maka bhuûaóa kûama mahangrésépi manahi sang maharddhika. 


Terjemahannya: 

Orang yang rupawan nampak bersinar dalam pergaulan, orang rupawan dan berdarah bangsawan dapat menghadap raja, dengan pakaian yang bagus, dapat kita berlaku gagah dan dalam pergaulan kita dianggap terkemuka, orang yang terpelajar suka mengampuni dan dapat menawan hati orang-orang terkemuka (Nitisastra, 3.4) 

        Selanjutnya dijelaskan sebagai berikut: 

Masépi tikang waktra tan amucang wwang, 

Masépi tikang wecma tan ana putra, 

Masépi tikang desa tan ana mukya, 

Sépinikanang try apupul ling anartha. 


 Terjemahannya: 

Sepi mulut yang tiada memakan sirih, serba sepi rumah yang tiada kanakkanaknya, serba sepi desa yang tidak ada kepalanya, tiga di antara kesepian itu dijadikan satu terdapat pada orang yang tiada beruang (tanpa artha) (Nitisastra, V.4) 

        Demikianlah kepuasan hidup ini dapat tercapai berlandaskan dharma, oleh setiap orang yang mengusahakannya. Dalam berumah tangga ada tiga hal yang harus disyukuri karena dapat memberikan kepuasan dalam kehidupan ini, di antaranya adalah istri, anak-anak, dan artha benda. 

        Manusia dalam hidup ini selalu mengembangkan keinginannya dan tidak ada manusia yang tidak punya keinginan. Ada yang mempunyai keinginan untuk makan dan minum yang enak-enak, ingin kaya raya, ada yang hanya ingin menghumbar hawa nafsu, ada juga yang ingin selalu dekat dengan Tuhan. Namun, nafsu haus dan lapar, menghumbar hawa nafsu, nafsu untuk kaya tidak mungkin dipenuhi secara maksimal. Karena nafsu itu diibaratkan dengan api semakin disiram minyak ia semakin besar. Oleh karena itu, nafsu harus dikendalikan karena kalau tidak, akan dapat menimbulkan bencana yang tidak diinginkan. Nafsu dapat dikendalikan dengan selalu bersyukur seperti yang disebutkan di atas dalam Canakya Nitisastra: 

a. Bersyukur terhadap harta yang diperoleh sesuai dharma yang akan mampu membangun keluarga yang bahagia. 

b. Bersyukur terhadap makanan yang telah disiapkan dalam rumah tangga. 

    Makanan yang dimasak dengan tujuan menghidupi anggota keluarga akan memberikan nilai spiritual yang sangat tinggi karena sebelum dihidangkan diawali dengan yajna sesa sehingga yang menikmati makanan itu, akan terlepas dari papa dosa. Sehingga seorang anggota keluarga pantang untuk menghina masakan yang dihidangkan dalam rumah tangga. Sedangkan makanan siap saji yang dibeli di pasar, cara masak dan tujuan membuatnya berbeda dengan masakan dalam rumah tangga karena tujuannya itu adalah untuk bisnis semata. 

c. Bersyukur dengan istri sendiri. Pada sekarang ini, banyak hal yang mengakibatkan terjadinya perselingkuhan. Perselingkuhan merupakan pengkhianatan terhadap tujuan dari suatu perkawinan. Istri sering diibaratkan sebagai sungai yang hatinya selalu berliku-liku perlu mendapatkan perhatian yang khusus bagi seorang suami sehingga hatinya bisa tetap lurus dengan komitmen yang telah diikrarkan pada waktu perkawinan. Sebaliknya suami juga sangat penting dan perlu berhati-hati, karena sebagai suami yang baik patut selalu waspada agar terhindar dari kehancuran. 

d. Kedamaian Unsur kedamaian berarti tidak adanya perasaan yang mengancam dalam hidupnya. Hidup di zaman kali-yuga, ibarat ikan hidup di air yang keruh di mana pandangan terhalang oleh keruhnya air. Oleh karena itu, banyak yang salah melihat sehingga temannya yang hitam bisa dilihat kuning sehingga kehidupan temannya yang kurang harmonis bisa dilihat harmonis. Pandangan manusia dihalangi oleh gelapnya adharma yang sangat kuat pengaruhnya  dalam hidup pada zaman kali. Manawa Dharmasastra menyatakan dharma pada zaman kali-yuga hanya berkaki satu sedangkan adharma berkaki tiga. Kekuatan adharma itulah yang menjadi penghalang sehingga orang sering keliru melihat kebenaran. Banyak yang benar dipandang sebagai ketidakbenaran, demikian juga sebaliknya. Terhalangnya hati nurani menyebabkan munculnya kekuasaan Panca klesa yaitu: kegelapan, egois, hawa nafsu, kebencian, takut akan kematian. Akibatnya banyak manusia saling bermusuhan dan terkadang musuh sering kelihatannya seperti teman. 

Dalam Canakya Nitisastra IV.10 menyebutkan ada tiga hal yang menyejukkan hati yang menjadi andalan untuk membangun kedamaian tanpa adanya permusuhan yaitu sebagai berikut : 

Samsara tapa dagdhanam, Trayo sisranti hetavah, 

Apatyah ca kalatran ca, Satam sanggatir ewa ca. 


Terjemahan: 

    Dalam menghadapi kedukaan dan panasnya kehidupan duniawi ada tiga hal yang menyebabkan hati orang menjadi damai yaitu anak, istri dan pergaulan dengan orang suci. 

    Anak adalah merupakan curahan kasih sayang, lebih-lebih anak yang patuh dan berbakti kepada orang tua. Meskipun marah orang tuanya kepada anaknya sebenarnya bukanlah karena kebencian tetapi keinginan orang tua menjadikan anaknya yang sukses. “Norana sih manglwehane atanaya” yang artinya tidak ada cinta kasih yang melebihi kasih orang tua kepada anaknya. Carilah kedamaian hati dalam dinamika kehidupan bersama anak dan istri/suami. Dinamika inilah yang akan mewujudkan kedamaian dalam rumah tangga. 

e. Ketenteraman         

    Ketenteraman dalam keluarga akan didapat apabila anggota keluarga memiliki kesehatan sosial. Kemampuan untuk melakukan hubungan sosial dengan tetangga kiri, kanan, belakang dan depan merupakan suatu kebutuhan setiap keluarga. Semuanya ini didasarkan oleh ajaran Dharma dengan berpegang pada pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik, maka akan dapat melakukan kerja sama dengan baik. Hubungan sosial yang baik akan mempengaruhi perasaan setiap pribadi dan akan mendapat perlindungan jika ada sesuatu yang akan mencelakakan rumah tangganya. Hubungan kerja sama dalam ajaran agama hindu mutlak ada dalam rumah tangga sehingga sesama akan merasakan saling menjaga dan melindungi. Dalam kitab Niti Sastra dilukiskan bagi orang yang mau kerja-sama seperti singa dan hutan. Keduanya memiliki kehidupan yang berbeda tetapi mampu bekerja sama. Singa menjaga hutan, akan tetapi ia selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa akan meninggalkan hutan. Maka hutan akan dirusak dan dibinasakan oleh orang, pohon-pohon ditebangi, maka singa akan lari sembuyi di dalam jurang di tengah ladang, yang akhirnya diserbu dan binasakan oleh orang. Kitab Nitisastra menjelaskan sebagai berikut:

Singhà rakûakaning halas, halas ikangrakûeng harì nityaça, 

singhà mwang wana tan patót pada wirodhàngdoh tikang keçari, 

rug bràûþa ng wana denikangjana tinor wrékûanya çiróapaðang, 

singhànghàt ri jurangnikang tégal ayón sanpun dinon durbala. 


Terjemahannya: 


Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan, Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu, meninggalkan hutan. Hutannya dirusak binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang, Singa yang lari bersembunyi didalam curah, ditengah-tengah ladang, diserbu orang dan dibinasakan (Nitisastra, I.10). 

    Bertolak dari sloka ini, maka setiap rumah tangga harus sehat sosial yang ditandai dengan kemauan bekerja sama yang dilandasi oleh ajaran Tat Twam Asi sehingga kalau ada kesalahan ucapan dan perbuatan maka saling memaafkan, sehingga rasa permusuhan tidak ada dalam hati. Disamping itu juga ketaatan terhadap norma hukum sehingga bhatin terasa tenteram akan muncul dengan sendirinya karena ada rasa saling melindungi. 

    Selain kelima hal yang disebutkan di atas, ada juga beberapa hal yang menjadi tolak ukur sebuah keluarga dikatakan sejahtera menurut Hindu, yaitu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 

a. Melakukan penghematan, pepatah mengatakan bahwa hemat itu pangkal kaya, jadi inilah yang mesti dilakukan untuk bisa menjadikan sebuah keluarga sebagai keluarga yang bahagia, dengan menghemat uang yang kita  peroleh kita bisa mengantisipasi hal-hal/ kemungkinan terburuk yang tidak terduga dalam kehidupan, dengan selalu mengucap syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi atas rejeki yang kita peroleh, seperti yang dijelaskan dalam sloka Atharva Veda mandala XIX, Sukta 8, Sloka 2, yaitu : 

Yogam Pra Padye Ksmam Ca 

Terjemahan: 

Semoga kami memperoleh uang dan melestarikannya (menghematkannya) Selain itu hal penting yang harus diperhatikan, bahwa kekayaan yang kita peroleh harus berdasarkan/berlandaskan dharma. 


b. Mengucap syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dan rejeki yang diperoleh harus tanpa dosa. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan apa yang telah kita peroleh dan jangan melakukan suatu pekerjaan dengan melakukan dosa, karena itu akan menjadi karma untuk diri sendiri, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Dengan selalu mengucap syukur kita akan selalu mendapat berkah dari Ida Sang Hyang Widhi, seperti yang dinyatakan dalam sloka Rg Veda.10.37.11, yaitu: 

Tad asme sam yor arapo dadhatana


 Terjemahan: 

Ya Tuhan, berkahilah kami dengan kebahagian dan kesejahteraan (yang diperoleh) tanpa dosa.

c. Usahakan agar terbebas dari hutang, sejak lahir seseorang telah terikat oleh hutang, jadi jika bisa usahakanlah untuk tidak telalu banyak terikat akan hutang. Agar bisa mewujudkan kesejahteraan dalam lingkungan rumah tangga seperti apa yang dinyatakan dalam Atharva VedaVI.117.3, yaitu: 

Arna Asmin Arnah Prasmin, Triye Loke Arnah Syama 


Terjemahan: 

Hendaknya kami bebas dari hutang di dunia ini, di dunia yang lain dan di dunia berikutnya nanti. 


    Jadi, diri sendirilah yang harusnya lebih bisa menentukan untuk tidak terus menerus terikat akan hutang hidup di zaman kali yuga agar bisa menjadikan sebuah keluarga yang sejahtera, karena jika terus menerus terikat oleh hutang, maka sangat tidak biasa dikatakan sebuah keluarga sebagai keluarga yang sejahtera karena ada beban pikiran yang tertanam dalam dirinya sehinga membuat ketidaknyamanan dalam hidup. 

    Dapat disimpulkan keluarga yang sejahtera merupakan keluarga yang bisa menjalankan ajaran Catur Purusaartha, mendapatkan segala sesuatu di dunia ini dengan landasan Dharma, seperti apa yang dinyatakan dalam kitab Santi Parwa yaitu: 

prabhawar thaya bhutanam, dharma prawacana krtam 

yah syat prabhawacam yuktah, sa dharma iti nicacayah

Terjemahan: 

    Segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan dan memelihara semua makhluk, itulah disebut dharma (agama), segala sesuatu yang membawa kesentosaan dunia itulah dharma yang sebenarnya. 

    Demikianlah hendaknya yang selalu diusahakan oleh insan Hindu dalam membangun rumah tangga yang Sukhinah. Apakah keluarga Sukhinah dapat mewujudkan tujuan wiwaha menurut agama Hindu? Sebelumnya kerjakanlah soal-soal uji kompetensi berikut ini dengan baik! 

Uji Kompetensi: 

1. Apakah yang dimaksud dengan Keluarga Sukinah? Jelaskanlah. 

2. Apa yang dapat dipergunakan sebagai tolok ukur bahwa keluarga yang dimaksud disebut sukinah? Jelaskanlah! 

3. Apakah yang Kamu ketahui terkait dengan keluarga sukinah dalam Agama Hindu? Jelaskanlah! 

4. Mengapa seseorang wajib menempuh hidup sebagai keluarga sukinah? Jelaskanlah!

 5. Amatilah lingkungan sekitar Kamu sehubungan dengan terbinanya keluarga sukhinah, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang tua! Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1-3 halaman diketik dengan huruf Times New Roman-12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto: 4-3-3-4: Lakukanlah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Materi : C. SAD DARSANA

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA