Materi ke-3 Agama Hindu Kelas XI
Bagian-bagian Astangga Yoga
Yoga memiliki delapan komponen yang dikenal dengan istilah astangga yoga. Delapan komponen itu adalah: yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Di dalam yogasutra adhyaya II sloka 29, menyebutkan:
“Yama niyamasana asanas pranayama pratyahara dharana dhyana samadhys stavanggani” Yang artinya: yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi, inilah semua delapan bagian ajaran yoga.
Delapan tahap ajaran yoga ini, merupakan tangga untuk mengendalikan diri dan sekaligus merupakan aspek etika dalam ajaran yoga. Di bawah ini diuraikan masing-masing bagian astangga yoga tersebut, yaitu:
1. Yama
Yama adalah pengendalian diri tahap pertama atau awal dan menampakkan pengendalian diri. Pada tahap ini latihan diawali dengan tingkah laku yang penuh cinta kasih (ahimsa/ tidak menyakiti). Tujuan dari tahap ini adalah melatih menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta kasih seseorang sebelum lanjut pada tahap – tahap berikutnya, sebab dengan cintakasih maka akan timbul rasa tulus ikhlas dan pikiran yang tenang dan damai. Dengan keadaan seperti itu, akan sangat membantu seseorang dalam tajap – tahap berikutnya hingga akhirnya tercipta sebuah kebahagiaan rohani dan ketenangan pikiran yang mendalam.
Yama terdiri dari lima aspek yang prinsip, yaitu: ahimsa, satya, asteya, brahmacarya, dan aparigraha.
a. Ahimsa
Ahimsa berarti tidak menyakiti atau melukai perasaan orang lain baik melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Pengertian ahimsa banyak menyimpang dari segi makna yang sebenarnya. Pengertian tidak menyakiti atau melukai orang atau membunuh sesuatu yang hidup, janganlah ditafsirkan artinya yang sangat ekstrim. Pengertian yang sedemikian itu bukanlah didasari pengertian terhadap ahimsa yang benar, karena sikap sedemikian ini jelas mengakibatkan keresahan dimasyarakat.
b. Satya
Satya diartikan sebagai gerak pikiran yang patut untuk diambil menuju kebenaran, yang di dalam prakteknya meliputi penggunaan kata-kata yang tepat dan dilandasi kebijakan untuk mencapai kebaikan bersama. Jadi satyam tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan dengan “benar” atau “kebenaran” karena kedua kata ini dalam bahasa sansekerta disebut “rta”. Seorang sadhaka tidak selamanya dituntut untuk menempuh jalan rta tetapi tegas harus menempuh satya. Di dalam pelaksanaanya satya mempertimbangkan pula berbagai faktor situasi yang bersifat relative, walaupun yang ditujukan pada akhirnya adalah kebenaran mutlak di dalam penyatuan dengan param brahma. Brahma sendiri sering disebut “esensi satya” itu.
c. Asteya
Asteya artinya tidak mencuri. Menurut jenisnya perbuatan mencuri dibagi menjadi empat jenis, yaitu: mencuri barang nyata dalam bentuk apapun juga, mempunyai rencana untuk mencuri, mengambil kepunyaan orang lain tidak untuk kepentingan sendiri tetapi untuk membuat pemiliknya mengalami kerugian, upaya untuk merugikan orang lain baik belum atau tidak dilakukan tetapi rencana sudah direka-reka dalam pikiran.
d. Brahmacarya
Secara harafiah kata brahmacarya berarti tetap melekat kepada brahma. Ketika orang melakukan kegiatan, pikirannya tercurah menuju arah luar (ekstroversal) dan dirinya terlibat pada materi kasar yang sifatnya terbatas. Brahmacarya memandang dan memperlakukan benda-benda kasar yang dihadapi sebagai manifestasi brahma dan bukan semata-mata sebagai benda kasar.
e. Aparigraha
Aparigraha adalah tidak berlebihan dalam menikmati benda kesenangan untuk mempertahankan kehidupan. Sejumlah faktor perlu diperhatikan unutk menentukan batas minimal yang terbaik guna mempertahankan kehidupan ini.
2. Niyama
Niyama merupakan tahapan yang kedua dari delapan komponen astangga yoga. Niyama ini mengajarkan seseorang untuk mengikuti aturan – aturan tertentu sebelum melakukan yoga, seperti misalnya kejujuran, bebas dari rasa iri hati, pembujangan, kesucian, pemberian sedekah, dan melakukan puasa pada waktu yang ditentukan. Tahap ini merupakan tahap yang lebih dalam dari tahapan Yama, karena sudah menggunakan tingkat ketulus ikhlasan hati seseorang. Seperti diuraikan dalam Patanjali Yoga Sutra II.40-45, Niyama dibagi kedalam lima bagian yaitu:
a. Sauca
kebersihan lahir batin. Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip ini akan mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut. Sauca juga menganjurkan kebajikan Sattvasuddi atau pembersihan kecerdasan untuk membedakan (1) saumanasya atau keriangan hati, (2) ekagrata atau pemusatan pikiran, (3) indriajaya atau pengawsan nafsu-nafsu, (4) atmadarsana atau realisasi diri.
b. Santosa atau kepuasan
Santosa berasal dari kata Tosa yang artinya keadaan mental yang terbatas dari ketegangan dan tekanan. Oleh karena itu santosa berarti suatu keadaan yang menyenangkan dan wajar, tanpa tekanan dan tanpa kepura-puraan. Hal ini dapat membawa praktisi Yoga kedalam kesenangan yang tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasan terdapat tingkat kesenangan transendental.
c. Tapah atau mengekang
Tapah artinya melakukan usaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai suatu tujuan. Seperti dalam sauca sadana, maka dalam melakukan tapah tidak boleh sedikitpun didasari oleh keinginan mendapat keuntungan. Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan terbebas dari noda dalam aspek spiritual.
d. Svadhyaya atau mempelajari kitab-kitab suci
Svadhyaya diartikan sebagai pemahaman dengan sebaik-baiknya setiap permasalah kerohanian. Melakukan japa (pengulangan pengucapan nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya “istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakannya.
e. Isvarapranidhana
Secara umum iisvarah diartikan sebagai pengendalian alam semesta raya, dengan kata lain dia itu adalah Tuhan. Tuhan atau ishvara itu mengendalikan berbagai gelombang pikiran di alam raya ini. Penyerahan dan pengabdian kepada Tuhan yang akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan samadhi.
2. Asana
Asana merupakan anggota atau unsur yang ketiga dari astangga yoga. Asana ini adalah sikap pada waktu melaksanakan yoga. Dalam melaksanakan yoga, sikap duduk yang baik adalah sikap duduk yang paling disenangi dan rileks, asalkan dapat menguatkan konsentrasi dan pikiran serta tidak terganggu karena badan terasa sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan. Selain itu sikap duduk yang dipilih agar dapat berlangsung lama, serta mampu mengendalikan sistem saraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran.
Patanjali menganggap setiap asana sebagai sukha asana (asana yang menyenangkan), bilamana tidak memaksa dan membantu untuk menstabilkan badan dan budi.
4. Sarvangasana
Dalam hatha yoga ada beberapa jenis yoga asana yang dapat dipraktekan. Masing-masing yoga asana ini memiliki tingkat kesulitannya sendiri-sendiri. Jika anda ingin melaksanakan yoga maka sangat penting untuk memilih jenis yoga asanas yang menurut anda nyaman sehingga membuat anda bisa berkonsentrasi karena kenyamanan sangat mempengaruhi pikiran disamping juga pengaturan nafas. Setiap asanas memberikan manfaat positif bagi tubuh sehingga dapat juga dijadikan sebagai solusi dalam pengobatan, namun harus dilakukan secara berkelanjutan dan teratur. Nah berikut ini ada beberapa jenis yoga asana beserta dengan manfaatnya.
1.Padmasana Kedua kaki diluruskan ke depan lalu tempatkan kaki kanan di atas paha kiri, kemudian kaki kiri di atas paha kanan. Kedua tangan boleh ditempatkan di lutut.Manfaat: Dapat menopang tubuh dalam jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena tubuh mulai dapat dikendalikan oleh pikiran.
2. SiddhasanaLetakkan salah satu tumit di pantat, dan tumit yang lain di pangkal kemaluan. Kedua kaki diletakkan begitu rupa sehingga kedua ugel-ugel mengenai satu dengan yang lain.Manfaat: Memberikan efek ketenangan pada seluruh jaringan saraf dan mengendalikan fungsi seksual.
![]() |
| siddhasana |
3. Swastikasana
Kedua kaki lurus ke depan kemudian lipat kaki dan taruh dekat otot paha kanan, bengkokkan kaki kanan dan dorong telapak kaki dalam ruang antara paha dengan otot betis.
Manfaat: Menghilangkan reumatik, menghilangkan penyakit empedu dan lendir dalam keadaan sehat, membersihkan dan menguatkan urat-urat kaki dan paha.
BACA JUGA:
4. Sarvangasana
Berbaring dengan punggung di atas selimut, angkat kedua kaki perlahan kemudian angkat tubuh bagian atas, pinggang, paha, dan kaki lurus ke atas. Punggung ditunjang oleh kedua tangan.
Manfaat: Memelihara kelenjar thyroid.
5. Halāsana
Posisi tubuh rebah dengan telapak tangan telungkup di samping badan. Kedua kaki rapat lalu diangkat ke atas dengan posisi lurus. Tubuh jangan bengkok. Kaki dan tubuh buat siku lebar. Turunkan kedua kaki melalui muka sampai jari kaki mengenai lantai. Paha dan kaki membentuk garis lurus.
Manfaat: Menguatkan urat dan otot tulang belakang dan susunan urat-urat di sisi kanan kiri tulang punggung.
6. Matsyāsana
Rebahkan diri di atas punggung, dengan kepala diletakkan pada kedua tangan yang disalipkan.
Manfaat: Membasmi bermacam penyakit seperti asma, paru-paru, bronchitis.
7. Paschimottanāsana.
Duduk di lantai dengan kaki menjulur lurus, pegang jari kaki dengan tangan, tubuh dibengkokkan ke depan.
Manfaat: Membuat nafas berjalan di brahma nadi (sungsum) dan menyalakan api pencernaan, dan untuk mengurangi lemak di perut.
![]() |
| Paschimottanasana |
8. Mayurāsana (Burung Berlutut di atas lantai, Merak).
jongkok di atas jari kaki, angkat tumit ke atas dengan kedua tangan berdekatan, dengan telapak tangan di atas lantai, ibu jari kedua tangan harus mengenai lantai dan harus berhadapan dengan kaki.
Manfaat: Menguatkan pencernaan, membetulkan salah pencernaan dan salah perut seperti kembung, juga murung hati dan limpa yang bekerja lemah akan baik kembali.
9. Ardha Matsyendrāsana
Letakkan tumit kiri di dekat lubang pantat dan di bawah kemaluan mengenai tempat di antara lubang pantat dan kemaluan. Belokkan lutut kanan dan letakkan ugel-ugel kanan di pangkal paha kiri, dan kaki kanan diletakkan di atas lantai berdekatan dengan sambungan kiri, letakkan ketiak kiri di atas lutut kanan kemudian dorong sedikit ke belakang sehingga mengenai bagian belakang dari ketiak. Pegang lutut kiri dengan telapak tangan kiri perlahan punggung belokkan ke sisi dan putar sedapat mungkin ke kanan, belokkan jidat ke kanan sehingga segaris dengan pundak kanan, ayunkan tangan kanan ke belakang pegang paha kiri dengan tangan kanan, tulang punggung lurus.
Manfaat: Memperbaiki alat-alat pencernaan, menambah nafsu makan. Kundalini akan dibangunkan juga dan membuat candranadi mengalir tetap.
10. Salabhāsana
Rebahkan diri dengan telungkup, kedua tangan di sisi badan terlentang. Tangan diletakkan di bawah perut, hirup nafas seenaknya kemudian keluarkan perlahan. Keraskan seluruh badan dan angkat kaki ke atas + 40 cm, dengan lurus sehingga paha dan perut bawah dapat terangkat juga.
Manfaat: Menguatkan otot perut, paha, dan kaki, Menyembuhkan penyakit perut dan usus juga penyakit limpa dan penyakit bungkuk dapat dikurangi.
11. Bhuyanggāsana.
Merebahkan diri dengan telungkup, lemaskan otot, dan tenangkan hati, letakkan telapak tangan di lantai di bawah bahu dan siku, tubuh dan pusar sampai jari-jari kaki tetap di lantai. Angkat kepala dan tubuh ke atas perlahan seperti kobra ke atas, bengkokkan tulang punggung ke atas.
Manfaat: Istimewa untuk wanita, dapat memberi banyak faedah, rahim dan kantung kemih akan dikuatkan, menyembuhkan amenorhoea (datang bulan tidak cocok), dysmenorhoea (merasa sakit pada waktu datang bulan, leucorrhoea (sakit keputihan), dan macam penyakit lain di kantung kemih, indung telur dan peranakan.
![]() |
| Bhujanga asana (Sikap kobra) |
12. Dhanurāsana.
Rebahkan diri dengan dada dan muka di bawah, kedua tangan diletakkan di sisi, kedua kaki ditekuk ke belakang, naikkan tangan ke belakang dan pegang ugel-ugel, angkat dada dan kepala ke atas, lebarkan dada, tangan dan kaki kaku dan luruskan, tahan nafas dan keluarkan nafas perlahan.
MANFAAT: Menghilangkan sakit bungkuk, reumatik di kaki, lutut, dan tangan. Mengurangi kegemukan, dan melancarkan peredaran darah.
13. Gomukhāsana
Tumit kaki kiri diletakan di bawah pantat kiri, kaki kanan diletakkan sedemikian rupa, sehingga lutut kanan berada di atas lutut kiri dan telapak kaki kanan ada di sebelah paha kiri berdekatan.
MANFAAT: Menghilangkan reumatik di kaki, ambeen, sakit kaki dan paha, menghilangkan susah BAB (Buang Air Besar).
14. Trikonāsana.
Berdiri tegak, kedua kaki terpisah, + 65 – 70 cm, kemudian luruskan tangan dengan lebar, segaris dengan pundak, tangan sejajar dengan lantai.
MANFAAT: Menguatkan urat-urat tulang punggung dan alat-alat di perut, menguatkan gerak usus dan menambah nafsu makan.
15. Baddha Padmāsana.
Duduk dengan sikap padmasana, tumit mengenai perut, tangan kanan ke belakang memegang ibu jari kanan, begitu juga tangan kiri. Tekan janggut ke dada, lihat pada ujung hidung dan bernafas pelan- pelan.
MANFAAT: Asana ini bukan untuk bermeditasi tetapi untuk memperkuat kesehatan dan menguatkan badan. Dapat menyembuhkan lever, uluhati, usus.
16. Padahasthāsana.
Berdiri tegak, tangan digantung di sebelah badan, kedua tumit harus rapat tapi jari harus terpisah, angkat tangan kedua-duanya ke atas kepala. Perlahan bengkokkan badan ke bawah, jangan bengkokkan siku lalu pegang jari kaki dengan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.
MANFAAT: Menghilangkan hawa nafsu, tamas, menghilangkan lemak.
17. Matsyendrāsana.
Duduk dengan kaki menjulur, letakkan kaki kiri di atas pangkal paha kanan dan letakkan tumit kaki kiri di pusar. Kaki kanan letakkan di lantai di pinggir lutut kiri. Tangan kiri melalui lutut kanan di luarnya memegang jari kaki kanan dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah lalu tekankan pada lutut kanan dan kiri.
MANFAAT: Menghilangkan reumatik, menguatkan prana shakti (gaya batin) dan menyembuhkan bayak penyakit.
![]() |
| matsyendrasana |
18. Chakrāsana.
Berdiri dengan tangan diangkat ke atas, perlahan- lahan turunkan ke belakang dengan membengkokkan tulang punggung.
MANFAAT: Melatih kegesitan, tangkas, segala pekerjaan akan dilaksanakan dengan cepat.
19. Savāsana.
Tidur terlentang, tangan lurus di samping badan, luruskan kaki dan tumit berdekatan. Tutup mata bernafas perlahan, lemaskan semua otot.
MANFAAT: Memberikan istirahat pada badan, pikiran, dan sukma.
BACA JUGA:
20. Janusirāsana
Letakkan tumit kiri di antara lubang pantat dan kemaluan, dan tekanlah tempat itu. Kaki kanan menjulur dengan lurus. Pegang jari kaki kanan dengan dua tangan.
MANFAAT: Menambah semangat dan menolong pencernaan. Asana ini menggiatkan surya chakra.
21. Garbhāsana.
Kedua tangan di antara paha dan betis, keluarkan kedua siku lalu pegang telinga kanan dengan tangan kanan dan sebaliknya.
MANFAAT: Menguatkan otot perut dan membakar lemak di seputar perut.
22. Kukutāsana.
Lebih dulu membuat padmasana. Masukkan tangan satu per satu dalam betis hingga sampai kira- kira di siku, telapak tangan diletakkan di lantai dengan jari terbuka ke depan, angkat badan ke atas salib kaki kira-kira sampai di siku.
MANFAAT: Menguatkan otot-otot dada dan pundak.
![]() |
| kukutasana |





Komentar
Posting Komentar