Materi ke-4 Agama Hindu kelas XII

  BAB 1 PANCA SRADDHA ( MOKSA)

        A. Pengertian Moksa


Moksa merupakan bagian terakhir dari Panca Srada yaitu lima keyakinan umat Hindu. Adapun bagian dari kelima panca Srada adalah percaya adanya Brahman, percaya adanya Atman, percaya adanya Karma Pala, percaya adanya Punarbhawa, dan percaya adanya Moksa. Moksa sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata “Muc” yang artinya “Membebaskan” atau “Melepaskan” (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 2).

Foto: Istimewa
Berdasarkan pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa Moksa adalah terbebasnya jiwa (atman) dari ikatan duniawi atau samsara (kelahiran kembali). Ngurah Nala dan Sudharta (2009: 41) menjelaskan apabila Atman itu sudah bersih, oleh karena Ia mentaati petujuk-petunjuk Sang Hyang Widhi (Tuhan), maka Atman itu tidak terikat dengan hokum karma, disebut Niskama Karma, dan Tidak lagi mengalami Punarbhawa, tidak mengalami Samsara. Keadaan inilah yang disebut Moksa atau kelepasan (pembebasan).

Moksa juga merupakan bagian dari Catur Purushàrtha yaitu empat tujuan hidup umat Hindu. Ada pun bagian-bagiannya adalah dharma (kebenaran), artha (kesejahteraan), kama (keinginan/kenikmatan duniawi), dan moksa (kebebasan sejati). Moksa dapat disamakan dengan nirwana, nisreyasa (keparamarthan) yang merupakan Brahman yang sangat gaib dan berada di luar pikiran manusia, dengan demikian Moksa dapat disamakan dengan Nirguna Brahman (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 2).
Alam Moksa tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, hanya orang yang mengalami yang bisa merasakan. Kata Moksa dapat juga disebut Mukti, yang berarti mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani selamanya. Orang-orang yang telah mencapai moksa (bebas dari reinkarnasi) akan mengalami kebenaran, kesadaran, kebahagian (Sat, Cit, Ananda).

Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Moksa adalah terbebasnya Atman (jiwa) dari ikatan duniawi (maya) sehingga menyatu dengan Brahman (Tuhan). Orang yang telah mencapai Brahman akan merasakan kebahagiaan tertinggi (Sat cit ananda). Semua orang dapat mencapai tingkatan ini asalkan mengikuti ajaran agama.

Kapan Saja Manusia Bisa Mencapai Moksa

Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 3) menjelaskan bahwa semua orang pada hakikatnya dapat mencapai moksa, bila mengikuti petunjuk-petunjuk agama. Hal ini dapat terwujud bilamana seseorang telah terbebas dari keterikatan. Upaya mencapai moksa dapat dilakukan dengan cara menyadari dan berupaya menumbuh-kembangkan usaha untuk melepaskan diri yang sejati dari keterikatan. Usaha-usaha itu diantaranya; dengan berperilaku yang baik, berdana-punya, beryajna, dan tirthayatra.

Selain itu dapat juga dilakuan dengan berusaha mengendalikan sifat-sifat tri Guna yang ada dalam diri manusia, yaitu sattwam, rajas dan tamas. Usaha untuk menyeimbangkan sifat-sifat tersebut memanng sangat sulit, namun yakinlah bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan disiplin diri. Menghayati dan pengamalan ajaran kitab suci, melakukan pemujaan, kerja secara tulus dan iklas, serta menanamkan keyakinan pada diri kita bahwa segala sesuatu berawal dan berakhir pada Tuhan. Orang mencapai moksa bila telah menyadari dirinya yang sejati. Moksa dapat dicapai di dunia maupun setelah hidup ini berakhir sepeti disebutkan dalam Bhagawadgita, XI. 54.
“Bhaktyā tv ananyayā úakya // ahaý evam-vidho ‘rjuna, // jñātuý draûþuý cha tattvena // praveûþuý cha paraýtapa”

Artinya :

“Tetapi, melalui jalan bakti yang tak tergoyahkan Aku dapat dilihat dalam realitasnya dan juga memasukinya, wahai penakluk musuh (Arjuna) Paramtapa”.

Tingkatan-Tingkatan Moksa

Berdasarkan beberapa sumber, moksa dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan. Ada pun tingkatan-tingkatannya adalah sebagai berikut;

Menurut Sudirga (2002: 89), tingkatan moksa dapat dibedakan menjadi tiga yakni Jiwa Mukti, Wideha Mukti dan Purna Mukti. Adapun maksud dari ketiganya adalah sebagai beriku:
  1. Jiwa Mukti, yaitu moksa yang diperoleh semasa masih hidup, dimana atman manusia tidak terpengaruh oleh gejolak indria dan maya. Moksa ini, dapat disamakan Sarupya (sadharmya) dan Samapya.
  2. Wideha Mukti yaitu moksa yang dicapai oleh manusia semasa hidupnya, di mana atmanya telah meninggalkan badan wadagnya (jasadnya), tetapi roh yang bersangkutan masih terkena pengaruh maya yang tipis. Moksa pada tingkatan ini, atma dinyatakan setarakan dengan Brahman, tetapi belum dapat menyatu dengan-Nya, hal ini diakibatkan masih ada pengaruh maya. Moksa Widehamukti dapat disejajarkan dengan salokya.
  3. Purna Mukti yaitu moksa yang paling sempurna, dimana atman manusia sudah bisa bersatu dengan Brahman. Moksa ini dapat diperoleh setelah meninggal. Istila Purna Mukti sejajar dengan Sayujya.
  4. Kemudian Supartha (1991: 27) menjelaskan bahwa tingkatan moksa jika dilihat dari segi kebebasan yang dicapai Atman, maka moksa dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu:
    1. Moksa yaitu kelepasan yang masih meninggalkan badan bekas berupa jenazah atau badan kasar
    2. Adi Moksa yaitu kelepasan dengan meninggalkan bekas berupa abu.
    3. Parama Moksa ayitu kelepasan tanpa meninggalka bekas.

    Penjelasan mengenai moksa juga terdapat dalam Brahma Purana. Titib (2006: 20) menyebutkan bahwa ada tiga tingkatan moksa yakni Moksa dari keterikatan Ajnana (kebodohan), Keselamatan lepas dari ragasamksaya (sehancurnya keterikatan yang sangat mendalam atau amat melekat, dan Trsnaksaya (mengancurkan kehausan seperti Sangat terikat denga keduniawian (Suhardana, 2010: 25).

    Mudana dan Ngurah Dwaja, (2015: 7) menjelaskan bahwa moksa dibagi menjadi empat. Adapun keempatnya adalah sebagai berikut:
    1. Samipya yaitu moksa yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya di dunia ini. Moksa seperti ini dapat dilakukan oleh para Maharsi dan Yogi dengan cara melakukan Yoga Samadhi sehingga terlepas dari unsur-unsur maya, sehingga beliau dapat mendengar wahyu Tuhan. Dalam posisi moksa seperti ini Atman (jiwa) berada sangat dekat dengan Tuhan. Setelah Beliau selesai melakukan samadhi, maka keadaan para Maharsi dan Yogi kembali sebagai biasa, di mana , ikiran emosi, dan organ jasmaninya aktif kembali.
    2. Sarupya (Sadharmya) yaitu moksa yang didapat oleh seseorang di dunia ini, karena kelahiran orang tersebut, di mana kedudukan Atman (jiwa) merupakan pancaran dari kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya awatara Wisnu yakni Sri Rama, Buddha dan Sri Kresna. Walaupun Atman telah mengambil suatu perwujudan tertentu, namun ia tidak terikat oleh segala sesuatu yang ada di dunia ini (maya).
    3. Salokya yaitu moksa yang dapat dicapai oleh Atman (jiwa), di mana Atman itu sendiri telah berada dalam posisi dan kesadaran yang sama dengan Sang Hyang Widhi (Brahman). Ketika ataman mecapai posisi Moksa ini, Atman telah mencapai tingkatan Deva (Dewa) merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi itu sendiri.
    4. Sayujya yaitu moksa yang tertinggi di mana Atman (jiwa) telah dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Dalam keadaan seperti inilah sebutan Brahman Atman Aikyam yang artinya “Atman dan Brahman sesungguhnya tunggal (satu)”.

    Demikianlah tingkatan-tingkatan moksa dan pengertiannya serta keberadaan orang yang dapat mencapai moksa, dan perlu diikuti dengan kesungguhan hati. “Karena itu penderitaan pikiran hendaklah diusahakan untuk dimusnahkan dengan kebijaksanaan, sebab tentunya lenyap oleh kebijaksanaan, seperti misalnya api yang menyala, pasti padam oleh air, jika telah musnah penderitaan pikiran, maka lenyaplah pula sakitnya badan (Sarasamuscaya, 503).”

 C. JALAN MENCAPAI MOKSA

4 (empat ) mencapai Moksa


Pada postingan sebelumnya yakni Pengertian dan Tingkatan Moksa, penulis telah membahas bahwa moksa merupakan tujuan akhir dari umat Hindu. Moksa juga merupakan bagian dari Catur Purusa Artha yaitu dharma, artha, kama, dan Moksa. Bahandur dalam Kondra (2015:38) menjelaskan bahwa moksa atau manunggalnya Atman dengan Brahman, menurut kitab-kitab Upanisad dapat dicapai dalam kehidupan di dunia atau pada saat penjelmaan ini ataupun setelah seseorang meninggal dunia.

Foto; Istimewa
Dalam ajaran agama disebutkan ada empat jalan untuk mencapai “moksartham jagadhita ya ca iti dharma” atau mencapai jagadhita (kesejahteraan jasmani) atau moksa (ketentraman abadi atau kehidupan abadi) (Suhardana, 2010: 65). Ada pun ke empat cara tersebut dikenal dengan Catur Marga Yoga. Catur marga yoga yaitu empat jalan (cara) umat Hindu untuk menuju Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman).

1. Bhakti Marga (Bhakti Yoga) 

Adalah jalan menuju moksa dengan cara melakukan kebaktian yang tekun Kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman) dengan landasan pengabdian yang tulus iklas, pasra, penuh cinta kasih serta menyerahkan diri kepada Hyang Widhi sepenuhnya.

Jalan Bhakti Marga dikenal juga dengan nama Bhakti Marga Yoga. Bakti sendiri berarti hormat, taat, sujud, menyembah, persembahan, kasih (Ngurah Dwaja dan Mudana, 2015: 12). Orang yang menempu jalan ini disebut Bhakta. Untuk mencapai jalan ini maka dia wajib memegang teguh ajaran Tat Twam Asi, menebarkan rasa kasih sayang tanpa batas kepada semua mahkluk hidup, dan menghilangkan rasa kebencian, kekejaman, iri dengki dan kegelisahan atau keresahan. Semua hal-hal negatif harus dihilangkan.

Suhardana (2010 : 35 - 36) dalam bukunya “Moksa Brahman Atman Aikhyam” mengutip Bhagavadgita bab 12 sloka 19, 20 dan 55 mengatakan bahwa “ia yang menganggap sama celaan dan pujian, menerima apa saja yang datang tanpa diikuti oleh tempat yang tetap dan teguh dalam pikiran, yang berbakti demikian adalah kecitaan Ku (tuhan).
Mereka yang penuh kepercayaan menetapkan Tuhan (Brahman) sebagai tujuannya yang tertinggi, mengikuti pengetahuan yang abadi, berbakti, mengetahui Tuhan yang sebenarnya, pada hakekatnya akan mencapai moksa dikemudian hari.

Dapat disimpulkan bahwa seorang bhakta hendaknya selalu berusaha melenyapkan kebenciannya kepada semua makhluk dan selalu berusaha mengembangkan sifat-sifat Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa (Catur Paramita) sehingga terbebas dari belenggu keakuan (ahamkara).

2. Karma Marga (Karma Yoga) 

Adalah jalan menuju moksa dengan cara bekerja atau berkarya. Jalan ini dikenal juga dengan nama Karma Marga Yoga. Seseorang yang menempuh jalan ini, harus bekerja dengan ketulusan hati tanpa terikat pada pahala yang dikerjakan atau kerja tanpa pamrih (tyaga-bhakti) (Kondra, 2015 : 28).

Inti dari ajaran Karma Marga Yoga adalah melepaskan semua hasil dari segala perbuatan. Dalam Bhagawadgita III.19 dijelaskan bahwa orang yang melaksanakan segala pekerjaan sebagai bentuk dari kewajiban tanpa terikat pada hasilnya, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama (Brahman).

Ngurah Dwaja dan Mudana, (2015: 14-15), mengatakan bahwa seorang karma yogi dengan menyerahkan keinginan akan pahala, ia akan menerima pahala yang berlipat ganda. Masyarakat yang tinggal bersamanya akan merasa bahagia. Sebab orang yang telah mencapai tingkatan tersebut, memiliki aura kesucian yang dapat memancar dari segala tubuhnya. Karma Yoga adalah aktivitas kerja yang positif di dasari dengan niat yang tulus iklas tanpa pamrih. 

3. Jnana Marga (Jnana Yoga) 

Adalah jalan menuju moksa dengan cara menekuni ilmu pengetahuan kerohanian. Jalan ini dikenal juga dengan Jnana Marga Yoga. Jalan ini dilaksanakan oleh mereka yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan daya cinta kasih yang mendalam kepada Tuhan (Suhardana, 2010: 34).

Dalam Bhagavad Gita IV.33 dijelaskan bahwa orang yang mempersembahkan ilmu pengetahua, lebih bermutu dari pada persembahan materi. Secara keseluruhan, semua kerja berpusat pada ilmu pengetahuan. Sebab, dengan pengetahuan seseorang dapat mengarungi lautan kejahan (BG. IV.36). Bahkan dalam Bhagawadgita V.38 dikatakan bahwa tidak ada di dunia ini menyamai kesucian kebijaksanaan (ilmu pengetahuan).

Jnana Yoga sendiri berasal dari kata Jnana yang artinya pengetahuan (kebijaksanaan filsafat) sedangkan Yoga berasal dari kata Yuj yang artinya menghubungkan. Jadi Jnana Yoga artinya mempersatukan Atman (jiwatman) dengan Brahman (paramatman) yang dicapai dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan (Ngurah Dwaja dan Mudana, 2015: 15).

Kebebasan ikatan keduniawian dengan menempu jalan ini dapat dilakukan dengan mengarahkan segala pikiran kita, memaksanya kepada kebiasaan-kebiasaan suci, dan memusatkan pikiran kepada-Nya (dhyana yoga).

4. Yoga Marga (Raja Yoga) 

Adalah jalan menuju moksa dengan cara melalui pengendalian diri dan melaksanakan ajaran Astangga Yoga. Jalan ini dikenal juga dengan nama Raja Marga Yoga. Inti dari ajaran ini adalah pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan), melalu meditasi dan Samadhi. Pelaksanaan Yoga Marga melalui tahapan-tahapan Astangga Yoga (Suhardana, 2010: 35). Sloka yang berkaitan dengan Raja Yoga dapat dilihat pada Bhagavadgita VI.31 dan 32.

Seseorang yang ingin menempuh jalan ini diwajibkan memiliki guru, sebab jalan Raja Yoga sangat berat dan mistik (rohani). Untuk mencapai ajaran ini, ada tiga jalan pelaksanaan yang ditempuh oleh para Yogin yaitu melakukan tapa-brata (pengedalian emosi atau nafsu yang ada dalam diri kita ke arah yang positif) dan  samadhi yaitu latihan untuk dapat menyatukan sang Jiwa dengan Brahman.

Demikianlah ke empat jenis Yoga di atas mempunyai nilai yang sama, artinya bahwa tidak ada yang lebih dominan atau lebih rendah. Semuanya dapat dipilih sesuai dengan kemampuan masing-masing orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Ke-3 Agama Hindu Kelas XII

Kelas XII Bab IV ASHTANGGA YOGA DAN MOKSHA

Materi : C. SAD DARSANA