Materi minggu ke- 6 Agama Hindu Kelas X
C. ITIHASA
Perdebatan panjang
tentang adanya sistem pengajaran dalam Veda merupakan suatu hal yang menjadi
pembicaraan yang menarik. Selanjutnya dalam arus modernitas dituntut adanya
sistem pembelajaran yang bersifat komprehensif namun dilain hal adanya banyak
tuntutan yang “memaksa” seseorang untuk melakukan tindakan yang biasanya
disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan orang tersebut.
Pada pembahasan ini akan diulas tentang sistem pendidikan Veda
yang mengacu pada pembelajaran Vedic Literature yang biasanya seorang guru
sering memberikan bahan pembelajaran yang berupa cerita baik itu dalam Itihāsa
maupun kesusasteraan lainnya. Akan tetapi, ada juga yang memberikan arahan
kepada anak didiknya untuk langsung membaca Veda itu sendiri yang biasanya
adalah kitab Catur Veda maupun Bhagavadgītā tanpa diajarkan terlebih dahulu
tentang konsep Itihāsa maupun Purana sebagai pondasi pengetahuan anak didik.
Selanjutnya untuk pembahasan tentang pendidikan agama Hindu
bahwa sejak dini sudah ada tentang materi mendongeng tentang agama Hindu yang
isinya adalah cerita kepahlawanan yang ada dalam epos Itihāsa baik itu Rāmāyana
dan Mahābhārata serta cerita tentang patriotisme dari Purana tentang kelahiran
para dewa. Untuk itu perlu adanya pembaharuan dalam kurikulum untuk memasukan
Itihāsa dan puraṇa sebagai materi pokok untuk mempermudah peserta didik
memahami ajaran Veda. Karena dalam metode pendidikan adanya yang dinamakan
dengan story telling yang memudahkan peserta didik dalam menyerap materi yang
diajarkan oleh guru melalui metoda cerita. Karena dalam hal ini Itihāsa dan
Puraṇa sebagai suhrita samhita sangat memungkinkan sekali untuk bisa dipahami
oleh anak-anak dan bahkan orang awam sekalipun.
Pengertian Itihāsa
Kitab Upaveda, Itihāsa ini merupakan kelompok kitab jenis epos,
wiracarita atau cerita tentang kepahlawanan. Pada umumnya pengertian Itihāsa
adalah nama sejenis karya sastra sejarah agama Hindu. Itihāsa adalah sebuah
epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja dan kerajaan Hindu dimasa
silam. Ceritanya penuh fantasi, roman, kewiraan dan di sana sini dibumbui
dengan mitologi sehingga memberi sifat kekhasan sebagai sastra spiritual. Di
dalamnya terdapat beberapa dialog tentang sosial politik, tentang filsafat atau
idiologi, dan teori kepemimpinan yang diikuti sebagai pola oleh raja-raja
Hindu. Kata Itihāsa terdiri atas tiga kata, yaitu iti-ha-asa, sesungguhnya
kejadian itu begitulah nyatanya.
Walaupun Itihāsa merupakan kitab sejarah agama, namun secara
materiil sangat sulit untuk dijadikan pembuktian sejarah. Sebagai kitab sejarah
banyak memuat hal-hal yang menurut fakta sejarah masih dapat dibuktikan,
termasuk sosial politik, pertentangan berbagai suku bangsa yang ada antara
berbagai kerajaan yang kontemporer pada masa itu, (Sudirga dan Yoga
Segara, 2014:50).
Oleh karena itu peranan dan fungsi Itihāsa tidak dapat diabaikan
begitu saja. Ketika hendak mempelajari Veda dan perkembangannya, mempelajari
sejarah agama Hindu dan kebudayaannya, berbagai konsep politik dan idiologi
yang relevan, maka kitab Itihāsa sangat penting artinya untuk dipelajari.
Secara tradisional jenis yang tergolong Itihāsa ada dua macam, yaitu Rāmāyana
dan Mahābhārata.
Kedua epos ini sangat terkenal di dunia dan memikat imajinasi
masyarakat Indonesia di masa silam hingga sekarang. Kedua kitab ini telah
digubah ke dalam sastra Jawa Kuno yang sangat indah. Ceritanya banyak diambil
dalam bentuk drama dan pewayangan. Demikian pula dalam seni pahat dan seni
lukis sangat gemar mengambil tokoh-tokoh dari cerita ini. Khusus dalam bab ini
akan meninjau kedua epos yang terbesar di dalam agama Hindu, yaitu: Rāmāyana
dan Mahābhārata.
1. Rāmāyana
Cerita Rāmāyana dalam sari patinya mengandung nilai-nilai
pendidikan tentang moral dan etika yang mengacu nilai-nilai agama atau nilai
tentang kebenaran agama yang hakiki yang artinya mengandung nilai-nilai
kebenaran yang bersifat kekal dan abadi. Cerita Rāmāyana dapat dibedakan
menjadi 7 bagian yang disebut Sapta Kanda. Rāmāyana adalah sebuah epos yang
menceritakan riwayat perjalanan Rāmā dalam hidupnya di dunia ini. Rāmā adalah
tokoh utama dalam epos Rāmāyana yang disebutkan sebagai awatara Visnu. Kitab
Purāna menyebutkan ada sepuluh awatara Visnu, satu diantaranya adalah Rāmā.
Kitab Rāmāyana adalah hasil karya besar dari Mahārṣi Vālmīki.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa Rāmāyana tersusun atas
24.000 stansa yang dibagi atas 7 bagian yang setiap bagiannya disebut kanda.
Ketujuh dari kanda Rāmāyana itu merupakan suatu cerita yang menarik dan
mengasyikkan, karena ceritanya disusun dengan sangat sistematis yang isinya
mengandung arti yang sangat dalam.
Karena cerita yang dikandung oleh kitab Rāmāyana itu sangat
mempesona dengan penuh idealisme pendidikan moral, kewiraan serta disampaikan
dalam gaya bahasa yang baik, menyebabkan epos ini sangat digemari di seluruh
dunia. Pengaruhnya yang sangat besar dirasakan di seluruh Asia dan ceritanya
dipahatkan sebagai hiasan candi-candi atau tempat-tempat persembahyangan umat
Hindu. Demikian pula nama-nama kota yang terdapat di dalamnya banyak ditiru
sebagai sumber inspirasi. Dengan demikian Rāmāyana menjadi sebuah Adikavya dan
Mahārṣi Vālmīki diberi gelar sebagai Adikavi.
Keahlian Vālmīki dalam kemampuannya memahami perasaan manusia
secara mendalam, menyebabkan kitab Rāmāyana dengan mudah dapat menguasai emosi
masyarakat dan sebagai apresiasi dari kata-kata tulis baru yang mengambil
tema dari Rāmāyana, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:51).
Di Indonesia misalnya gubahan yang dijumpai adalah Rāmāyana
kekawin yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Sampai saat ini kekawi Rāmāyana
oleh para peneliti dinyatakan sebagai karya sastra tertua di Indonesia. Kekawin
ini adalah kekawin yang paling besar dan paling panjang dalam kesusastraan Jawa
Kuno.
Sumber asli dalam kekawin Rāmāyana itu adalah kitab Ravanavadha
karangan Bhatti, kitab ini sering juga disebut Bhattikavya. Secara tradisional
kekawin Rāmāyana dikarang oleh Empu Yogisvara. Kitab-kitab gubahan Rāmāyana
sesungguhnya sangat banyak kita jumpai di India ataupun di luar India, tetapi
semua kitab gubahan tersebut pada hakikatnya mengambil materi langsung maupun
tidak langsung dari Rāmāyana karya Vālmīki.
Adapun isi singkat dari tiap-tiap kanda dari kitab Rāmāyana dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Bala Kanda
Negeri Kosala dengan ibukotanya Ayodhyā diperintah oleh raja
Daśaratha. Raja Dasaratha memiliki tiga orang istri, Kausalya yang berputra
Rāmā sebagai anak tertua, Kaikeyi yang berputra Bharata, dan Sumitra yang
berputra Laksmana dan Satrughna. Dalam sayembara di Wideha, Rāmā berhasil
memperoleh Sītā putri raja Janaka sebagai istrinya.
b. Ayodhyā Kanda
Dasaratha merasa sudah tua, maka ia hendak menyerahkan
mahkotanya kepada Rāmā. Datanglah Kaikeyi yang memperingatkan bahwa ia masih
berhak atas dua permintaan yang mesti dikabulkan oleh raja. Maka permintaan
Kaikeyi yang pertama ialah supaya bukan Rāmā melainkan Bharatalah yang menjadi
raja menggantikan Dasaratha. Permintaan kedua ialah supaya Rāmā dibuang ke
hutan selama 14 tahun.
Demikianlah Rāmā, Lakṣmaṇa dan Sītā istrinya meninggalkan
Ayodhyā. Tak lama kemudian Dasaratha meninggal dan Bharata menolak untuk
dinobatkan menjadi raja. Ia pergi ke hutan mencari Rāmā. Bagaimana pun ia
membujuk kakaknya, Rāmā tetap pada pendiriannya untuk mengenbara terus sampai
14 tahun. Pulanglah Bharata ke Ayodhyā dengan membawa terompah Rāmā. Terompah
inilah yang ia letakkan di atas singgasana, sebagai lambang bagi Rāmā yang
seharusnya menjadi raja yang sah. Ia sendiri memerintah atas nama Rāmā.
c. Aranyaka Kanda
Di dalam hutan Rāmā berkali-kali membantu para pertapa yang
tidak habis-habisnya diganggu oleh raksasa. Suatu ketika ia berjumpa dengan
raksasa perempuan Surpanaka namanya, ia jatuh cinta padanya. Oleh Laksmana
raksasa ini dipotong telinga dan hidungnya. Kemudian ia melaporkan peristiwa
ini kepada kakaknya Ravana, seorang raja raksasa yang berkepala sepuluh dan
memerintah di Alengka. Diceritakan pula betapa cantiknya istri Rama.
Ravana pergi ke tempat Rāmā, dengan maksud menculik Sītā sebagai
pembalasan terhadap penghinaan adiknya. Marica seorang raksasa teman Ravana,
menjelma sebagai kijang emas, dan berlari-lari kecil di depan kemah. Rama dan
Sītā sangat tertarik, dan Sita meminta kepada suaminya untuk menangkap kijang
itu., (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:52).
Ternyata kijang itu tidak sejinak nampaknya, dan Rama makin jauh
dari tempat tinggalnya. Akhirnya kijang itu dipanahnya. Seketika kijang itu
menjelma menjadi raksasa dan menjerit keras.
Jeritan itu dikira oleh Sītā berasal dari Rama, maka
disuruhnyalah iparnya memberi pertolongan. Sītā tinggal sendirian. Datanglah
seorang Brahmana kepadanya untuk berpura-pura meminta nasi. Sītā dilarikannya.
Dengan sangat bersedih hati, Rama dan Laksmana mencari jejak Sītā. Dalam
pengembaraan yang tidak menentu itu, mereka bertemu dengan burung Jatayu.
Burung tersebut merupakan bekas kawan baik Dasaratha, dan ketika ia melihat
Sītā dibawa terbang oleh Rawana, ia mencoba mencegahnya. Dalam pertempuran yang
terjadi, Jatayu kalah. Setelah memberikan penjelasan itu, Jatayu mati.
d. Kiskindha Kanda
Rāmā berjumpa dengan Sugriva, seorang raja kera yang kerajaan
serta istrinya direbut oleh saudaranya sendiri yang bernama Walin. Rāmā
bersekutu dengan Sugriwa untuk memperoleh kerajaan dan istrinya dan sebaliknya
Sugriwa akan membantu Rāmā untuk mendapatkan Sītā dari negeri Alengka.
Khiskinda digempur. Walin terbunuh oleh panah Rāmā. Sugriwa
kembali menjadi raja Kiskinda dan Anggada, anak Walin dijadikan putra mahkota.
Tentara kera berangkat ke Alengka. Di tepi pantai selatan yang memisahkan
Alengka dari daratan India, tentara itu berhenti. Dicarilah akal bagaimana
untuk dapat menyeberangi lautan.
e. Sundara Kanda
Hanuman, kera kepercayaan Sugriwa, mendaki gunung Mahendra untuk
melompat ke negeri Alengka. Akhirnya ia dapat menemukan Sītā. Kepada Sītā dijelaskan
bahwa tak lama lagi Rāmā akan datang menjemput. Hanuman ditahan oleh tentara
Lengka. Ia diikat erat-erat dan kemudian dibakar. Ia meloncat ke atas rumah
dengan ekornya yang menyala menimbulkan kebakaran di kota Lengka. Kemudian
Hanuman melompat kembali menghadap Rāmā untuk memberi laporan.
f. Yudha Kanda
Dengan bantuan Dewa Laut tentara kera berhasil membuat jembatan
ke Lengka. Rawana yang mengetahui bahwa negaranya terancam musuh menyusun
pertahanannya. Adiknya, Wibisana menasihatkan untuk mengembalikan Sītā kepada
Rāmā dan tidak usah berperang. Rawana bukan main marahnya. Adiknya itu diusir
dari Alengka dan menggabungkan diri dengan Rāmā.
Setelah itu terjadilah pertempuran yang sengit, setelah Indrajit
dan Kumbakarna gugur, Rawana terjun ke dalam kancah peperangan yang diakhiri
dengan kemenangan dipihak Rāmā dan Ravana terbunuh dalam peperangan tersebut.
Setelah peperangan selesai Vibhisana adik Ravana yang memihak Rāmā diangkat
menjadi raja di negeri Lengka serta Sītā bertemu kembali dengan Rāmā.
Rāmā tidak mau menerima kembali istrinya, karena sudah sekian
lamanya tinggal di Alengka dan tidak mungkin masih suci. Sītā sedih sekali
kemudian ia menyuruh para abdinya membuat api unggun. Kemudian ia terjun ke
dalam api. Nampaknya Dewa Agni di dalam api tersebut menyerahkan Sītā kepada
Rāmā, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:53).
Rāmā menjelaskan, bahwa ia sama sekali tidak sanksi dengan
kesucian Sītā, akan tetapi sebagai permaisuri kesuciannya harus terbukti di
depan mata rakyatnya. Diiringi oleh tentara kera Rāmā beserta istri dan adiknya
kembali ke Ayodhyā. Mereka disambut oleh Bharata yang segera menyerahkan tahta
kerajaan kepada Rāmā.
g. Uttara Kanda
Dalam bagian ini diceritakan bahwa kepada Rāmā terdengar
desas-desus bahwa rakyat menyangsikan kesucian Sītā. Maka untuk memberi contoh
yang sempurna kepada rakyat diusirlah Sītā dari istana. Tibalah Sītā di
pertapaan Vālmīki, yang kemudian mengubah riwayat Sītā itu wiracarita Rāmāyana.
Di pertapaan itu Sītā melahirkan dua anak laki-laki kembar, Kusa dan Lava.
Kedua anak ini dibesarkan oleh Vālmīki.
Waktu Rāmā mengadakan Aswamedha, Kusa dan Lava hadir di istana
sebagai pembawa nyanyi-nyanyian Rāmāyana yang digubah oleh Vālmīki. Segeralah
Rāmā mengetahui, bahwa kedua anak laki-laki itu adalah anaknya sendiri. Maka
dipanggilah Vālmīki untuk mengantarkan kembali Sītā ke istana.
Setiba di istana, Sītā bersumpah, janganlah hendaknya raganya
diterima oleh bumi seandainya ia memang tidak suci. Seketika itu, tanah
terbelah dan muncul Dewi Pertiwi di atas singasana emas yang didukung oleh
ular-ular naga. Sītā dipeluknya dan dibawanya lenyap ke dalam bumi. Rāmā sangat
sedih dan menyesal, tetapi tidak dapat memperoleh istrinya kembali. Ia
menyerahkan mahkotanya kepada kedua anaknya, dan kembali ia ke kahyangan
sebagai Visnu.
2. Mahābārata
Kitab Mahābhārata
ditulis oleh Rsi Wiyasa. Kitab ini terdiri atas Asthadasaparwa artinya 18 parwa
atau 18 bagian atau jilid dan digubah dalam bentuk syair sebanyak 100.000 sloka
yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirathaparwa, Udyogaparwa, Bismaparwa, Dronaparwa,
Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa,
Aswamedaparwa, Asrāmāwasanaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa, dan
Swargarohanaparwa.
a. Adi Parwa
Dalam parwa yang pertama yaitu Adi Parwa, dimuat beberapa macam
cerita, misalnya matinya Arimba, burung dewata mengaduk laut susu yang
menyebabkan keluarnya air hidup dan juga timbulnya gerhana matahari dan bulan
yang dalam ceritanya terungkap bulan yang ditelan oleh raksasa yang hanya
berwujud kepala. Ada juga cerita tentang Pandawa dan Kurawa ketika masih kecil
misalnya lakon Dewi Lara Amis, Bale si Gala-gala dan cerita Santanu, (Sudirga
dan Yoga Segara, 2014:54).
Negeri Hastina yang rajanya bernama Prabu Santanu mempunyai anak
bernama Prabata atau disebut juga Bisma yang artinya teguh janji. Suatu saat
Prabu Santanu tertarik dengan kecantikan Dewi Satyawati. Padahal Prabu Santanu
sudah pernah sumpah tak akan kawin lagi, hanya akan mengasuh sang Prabata saja.
Bisma pun mengetahui bahwa sang ayah telah bersumpah tak akan
kawin lagi. Namun demikian Bisma sangat iba hati melihat sang ayah Prabu
Santanu jatuh cinta kepada Dewi Satyawati yang hanya mau dikawini bila
keturunannya dapat naik tahta. Melihat gelagat yang kurang pas itu, Bisma rela
untuk melepaskan haknya sebagai raja pengganti sang ayah. Bisma kemudian
bersumpah akan hidup sendiri dan tidak menikah selamanya (wadat). Ini berarti
Bisma tidak menggantikan tahta ayahnya, agar sang ayah bisa kawin dengan
Satyawati. Pernikahan Santanu dengan Dewi Satyawati berputra dua yaitu
Citragada dan Wicitrawirya.
Citranggada tidak lama hidup dia mati muda maka Wicatrawirya
yang menggantikan sang prabu sebagai raja Hastina dengan istri dua Dewi Ambika
dan Ambalika dari negara Kasi. Belum sampai punya keturunan prabu Wicitrawirya
meninggal. Oleh Satyawati Bisma disuruh mengawini kedua janda itu, tetapi
dengan tegas Bisma menolak. Kemudian Dewi Satyawati menyuruh anaknya, Abiyasa
(Wiyasa) hasil perkawinannya dengan begawan Parasara untuk mengawini janda
Ambika dan Ambalika dengan harapan ada keturunan dari silsilah Bharata yang
meneruskan menjabat sebagai raja di negara Astina.
Dewi Ambika yang menikah dengan resi Wiyasa punya keturunan
laki-laki bernama Dretharastra yang sejak lahir menderita buta dan tidak bisa
menjadi raja. Sedangkan pernikahan antara Wiyasa dengan Dewi Ambalika
menurunkan anak laki-laki bernama Pandhu si muka pucat. Pandhulah yang kemudian
menduduki singgasana kerajaan Hastina. Pandhu menikah dengan dua wanita yaitu
Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Pernikahanya dengan Dewi Kunthi berputra 3
laki-laki, yaitu Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Sedangkan pernikahanya dengan
Dewi Madrim berputra 2 laki-laki, yaitu Nakula dan Sadewa. Sehingga Prabu
Pandhu mempunya 5 orang anak, dan kelima anak tersebut disebut Pandawa.
Drestharastra akhirnya menikah dengan kakak perempuan Sangkuni
yang bernama Dewi Gandari dan mempunyai keturunan 100 orang. Ketika Pandhu
meninggal, Drestharastra terpaksa menggantikan raja sementara meskipun buta.
Drestharastra menjabat raja hanya sementara, inilah yang menimbulkan perang
besar Bharatayuda selama 18 hari yang memakan korban sangat banyak.
b. Sabha Parwa
Pada parwa yang kedua yaitu Sabha Parwa menceritakan tentang
permainan dadu hingga Pandawa menjalani hukuman. Usaha Kurawa untuk menghancurkan
Pandawa tidak pernah mau berhenti. Kali ini Pandawa yang sudah menempati
Indraprastha sebagai tempat berteduh diajak main dadu. Ternyata atas kelicikan
orang Kurawa, meskipun Yudhistira ahli main dadu, tetapi tetap kalah karena
tipu muslihat Sengkuni. Dalam permainan tersebut Yudhistira juga menyerahkan
dirinya untuk dijadikan taruhan, hingga Yudhistira kalah dan menerima hukuman.
Tetapi karena usaha Drestharastra para Pandawa menjadi bebas, (Sudirga dan Yoga
Segara, 2014:55).
Kurawa tetap menginginkan kehancuran Pandawa dan diajaknya main
dadu lagi dengan taruhan bila Pandawa kalah harus menjalani pembuangan selama
12 tahun dan tahun ke 13 dan mereka harus menyelinap atau bersembunyi tanpa
diketahui orang dan baru pada tahun ke 14 kembali ke istana. Jika dalam
penyelinapannya diketahui para Kurawa, Pandawa harus kembali ke hutan selama 12
tahun lagi dan menyelinap pada tahun ke 13 dan seterusnya.
c. Wana Parwa
Dalam Wana Parwa yaitu bagian yang ketiga ini mengisahkan
pengalaman-pengalaman Pandawa ketika berada dalam hutan buangan selama 12
tahun. Pernah para Pandawa menolong seorang desa yang akan dimakan oleh seorang
raja raksasa bernama prabu Baka dari negeri Ekacakra. Prabu Baka mati terkena
kuku Pancanaka Bratasena, perutnya sobek usus keluar. Negeri Ekacakra tentram
dan seorang yang tertolong itu berjanji akan sanggup menjadi korban saji
(tawur) ketika perang besar nanti terjadi.
Di samping itu dikisahkan pula bahwa Arjuna juga pernah
merukunkan suami istri yang belum akur menjadi satu selama perkawinannya.
Setelah Raden Arjuna yang merukunkannya, maka orang tersebut sanggup menjadi
tawur pada perang besar nanti. Pada saat Pandawa dalam hutan buangan sering
menerima kehadiran para Brahmana yang hadir untuk mendoakannya. Mahārṣi Wiyasa
datang untuk memberikan nasehat-nasihatnya agar Arjuna mau bertapa di gunung
Mahameru untuk memohon senjata-senjata yang ampuh dan sakti. Tapa Arjuna inilah
yang menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
d. Wiratha Parwa
Parwa yang ke empat yaitu Wiratha Parwa mengisahkan Pandawa
sudah selesai menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan. Maka mereka keluar
dari hutan ingin menyelinap sesuai perjanjian. Para Kurawa berpendapat bahwa
Pandawa pasti sudah mati dimakan binatang buas. Tetapi ternyata mereka sudah
berada di negeri Wiratha sebagai budak sang Prabu Matsyapati.
Penyamaran yang dilakukan para Pandawa adalah sebagai berikut:
Yudhistira sebagai kepala pasar berpangkat tandha bernama Dwijangkangka, Bhima
sebagai tukang menyembelih sapi (jagal) dengan nama Ballawa dan ikut seorang
jagal Walakas di desa Pajagalan. Arjuna diterima sebagai abdi sang permaisuri
Dewi Sudisna bersama putri mahkota Dewi Utari, tugasnya mengajar tari dan
Sinden bernama Kandhi Wrehatnala dengan watak banci (wandu). Sedangkan Nakula
dan Sadewa sebagai tukang memelihara kuda dan tukang rumput (Gamel), bernama
Grantika dan Tantripala. Drupadi bernama Salindri sebagai pelayan sang
permaisuri Dewi Sudesna dan merangkap sebagai penjual kinang di pasar.
Penyamaran Ini memang strategi mereka biar tidak jauh dengan Kandhi Wrehatnala,
dan pada saat keluar supaya mudah berhubungan dengan tandha Dwijangkangka dan
Jagal Ballawa serta Grantika dan Tantripala.
Meskipun di Wiratha sering mendapat marah dari sang Prabu
Matsyapati, tetapi Pandawa sadar itu suatu perjalanan penuh kesabaran dan
tawakal (laku prihatin) yang harus dijalani. Mengabdi sebagai budak kerajaan
harus mau menerima apa adanya meskipun menerima siksa, dihina, dicerca,
meskipun benar dianggap salah toh mereka beranggapan bahwa kebenaranlah yang
akan mendapat anugerah, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:56).
Sabagai abdi mereka berenam dalam strateginya mampu mengamankan
negara Wiratha yang sedang terancam bahaya, misalnya jagal Billawa mampu membunuh
tritunggal Kencakarupa-Praupakenca dan Rajamala. Sedangkan Arjuna si Kandhi
Wrehatnala mampu membunuh beribu-ribu tentara sekutu Astina bersama para
senapatinya sehingga negeri itu menjadi tenang dan tentram. Setelah para budak
bersembunyi dan menyelinap di Wirataha selama satu tahun, barulah Prabu
Matsyapati menyadari bahwa keenam bersaudara tersebut adalah para Pandawa yang
terhitung masih cucunya sendiri. Demikianlah kata para budak si Pandawa. “Kakek
Matsyapati, akulah cucu-cucumu Pandawa.” Seketika itu kemarahan Matsyapati
menjadi kesabaran dan berjanji akan mengutamakan kebijaksanaan.
e. Udyoga Parwa
Udyoga Parwa adalah parwa yang kelima mengisahkan bahwa pada
tahun ke 14 Pandawa tak bisa dicari orang Hastina, apalagi para Kurawa yakin
bahwa Pandawa sudah mati. Maka orang Hastina cemas bahwa Pandawa kembali ke
Indraprastha. Di dalam bagian ke 5 ini Sri Kresna sebagai perantara minta
separuh negara, tetapi Kurawa tidak rela. Oleh karena itu tidak ada jalan lain,
kecuali harus mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan.
f. Bhisma Parwa
Pada Bisma Parwa dikisahkan bahwa perang Bharatayuda sudah dimulai
dan Bisma sebagai panglima perang Hastina dan Dhresthadyumna sebagai panglima
perang Pandawa akan berhadapan di medan perang Tegalkurukasetra. Pembela
Pandawa yang lain adalah dari negara Wirata diantaranya adalah Seta, Utara,
Wratsangka yang akhirnya ketiga kesatriya tersebut gugur terkena panah Bisma.
Dalam perang besar Bharatayuda, kedudukan Sri Kresna sebagai
penasehat Pandawa dan pengatur siasat perang serta menjadi kusir atau
pengendara kereta Arjuna. Dikala Arjuna bimbang menghadapi musuhnya yaitu
saudara-saudara, guru, kakek, kakak, maka Sri Kresna memberikan nasihat
(wejangan) tentang hakikat dan kewajiban manusia secara mendalam. Wejangan yang
mendalam dan panjang itu merupakan bagian yang disebut Nyanyian Tuhan
(Baghawadgita).
Sepuluh hari pertempuran berlangsung, maka gugurlah Bisma. Ia
tidak terus mati, melainkan masih hidup beberapa lama lagi. Kemudian masih
mampu memberikan wejangan kepada kedua belah pihak yang bertikai.
g. Drona Parwa
Drona Parwa adalah bagian yang ketujuh mengisahkan tentang
begawan Drona sebagai senapati Kurawa dan gugurnya Gathotkaca. Drona telah
menjadi panglima perang Kurawa, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:57). Sedangkan
Karna mengamuk telah ditantang Gathotkaca namun Gathotkaca gugur, Abimanyu anak
Arjuna juga gugur oleh Jayajerata. Raja Drupada pun gugur, sebagai seorang anak
maka Dhresthadyumna mengamuk dan pada hari ke 15 Drona gugur oleh
Dhresthadyumna.
h. Karna Parwa
Karna Parwa adalah
parwa yang kedelapan. Pada bagian ke-8 ini juga diceritakan Bima merobek dada
Dursasana secara sadis dan meminum darah Dursasana. Pada hari ke 17, Karna
terbunuh oleh Arjuna hingga terpenggal kepalanya.
i. Salya Parwa
Salya Parwa adalah bagian yang kesembilan mengisahkan tentang
Prabu Salya raja Mandraka menjadi panglima perang Kurawa namun hanya setengah
hari gugur oleh tipu muslihat Nakula dan Sadewa. Hal tersebut dilakukan oleh
Nakula dan Sadewa karena perintah Sri Kresna sebagai dalang Pandawa.
j. Sauptika Parwa
Dalam parwa yang
kesepuluh yaitu Sauptika Parwa, menceritakan perihal Aswatama putra Drona.
Karena dendam, maka pada malam hari yang dinyatakan tidak perang itu, Aswatama
masuk ke kemah-kemah membunuh semua yang ditemuinya, di antaranya
Dresthadyumna. Dalam parwa ini diungkapkan bahwa Aswatama lari ke hutan dan
berlindung di pertapaan Wiyasa. Keesokan harinya datanglah Pandawa ke pertapaan
Wiyasa. Dalam pertemuan itu terjadi perang ramai antara Pandawa dan Aswatama
yang kemudian dilerai oleh resi Wiyasa dan Kresna. Aswatama menyerahkan senjata
dan kesaktiannya. Akhirnya Aswatama pergi menjadi pertapa.
k. Stri Parwa
Stri Parwa adalah bagian yang kesebelas, mengisahkan tentang Prabu Dhrestharastra,
Pandawa, Kresna dan semua istri pada pahlawan datang di medan Tegal
Kurukasetra. Mereka mencari suaminya masing-masing dan hari itu adalah hari
tangis. Mereka menyesali kejadian itu. Semua jenazah para pahlawan yang
ditemukan dibakar bersama. Yudhistira menyelenggarakan upacara pembakaran mayat
mereka yang tewas di medan perang dengan mempersembahkan ais suci kepada para
arwah leluhur dan pada saat itu pulalah Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna
yang dari semula menjadi rahasia pribadinya.
l. Santi Parwa
Pada bagian yang ke duabelas yaitu Santi Parwa menceritakan para
Pandawa mencari pencerahan jiwa dan pembersihan diri. Sebulan lamanya Pandawa
tinggal di hutan untuk membersihkan diri. Atas petunjuk Rsi Wyasa dan Kresna,
diharapkan agar Yudhistira mau memerintah di Hastina dan didukung oleh
adik-adiknya, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:58).
Wiyasa dan Kresna memberi wejangan tentang
kewajiban dan kesanggupan manusia dan para ksatria sebagai generasi penerus.
Akhirnya Yudhistira mau menjadi raja di istana Hastina serta mereka menunaikan
tugas bersama.
m. Anusasana Parwa
Anusasanaparwa adalah bagian yang ketigabelas. Parwa ini
mengisahkan kejadian-kejadian sebagai penutup Bharatayuda dan wejangan dari
Bisma terhadap Yudhistira. Dengan detail Bisma mengajarkan ajaran Dharma.
Artha, aturan kedarmawanan, aturan luhur permasalahan, dan sebagainya. Juga
dijelaskan tentang berbagai jenis upacara dan tentang kewajiban yang
berhubungan dengan waktu. Akhirnya Bisma meninggal dengan tenang sesudah
perang.
n. Aswamedha Parwa
Dalam bagian yang keempatbelas yaitu Aswameda Parwa mengisahkan
Prabu Yudhistira pada saat mengadakan upacara untuk naik tahta kerajaan dengan
cara membiarkan dan membebaskan kuda. Pembebasan kuda tersebut dilakukan selama
satu tahun dengan penjagaan ketat. Siapa saja yang mengganggu kuda tersebut
akan dihukum. Pada bagian ini juga diceritakan kisah seekor tikus yang
mengunjungi upacara Aswamedha itu, serta menguraikan tentang hakikat Yajna.
o. Asramawasika Parwa
Asramawasana Parwa adalah bagian yang kelimabelas. Parwa ini
mengisahkan tentang Drestharastra yang menarik diri dari keramaian dan ingin
hidup di hutan dengan Gandari dan Kunthi yang juga ingin menjadi pertapa.
Tetapi setelah hidup di hutan selama satu tahun lalu mereka mati karena hutan
terbakar oleh api Drestharastra sendiri.
p. Mausala Parwa
Mausala Parwa adalah parwa yang keenambelas. Parwa ini
menceritakan musnahnya kerajaan Dwarawati akibat berkobarnya perang saudara
antara kaum Yadawa atau bangsa kulit hitam (Wangsa Wresni). Wangsa ini lenyap
karena saling perang dengan menggunakan gada alang-alang. Baladewa mati, Kresna
lari ke hutan dan mati terbunuh dengan tidak sengaja oleh seorang pemburu.
Wyasa menyarankan Pandawa mengundurkan diri pula, melakukan kehidupan sanyasa.
q. Mahaprastanika Parwa
Parwa ini menceritakan sesudah pemerintahan diserahkan ke cucunya
Pandawa yang bernama Prabu Parikesit, maka Pandawa lima bersama-sama Dropadi
menarik diri untuk menuju pantai. Satu demi satu mereka meninggal secara
berurutan dari Dropadi, kemudian dari yang muda Sadewa, Nakula, Arjuna, dan
Bima.
Tinggal Yudhistira dengan seekor anjing yang selalu mengikuti
pengembaraan pada Pandawa. Batara Indra datang menjemput Yudhistira tetapi
ditolak bila anjing tidak boleh ikut serta. Akhirnya anjingnya pun
diperbolehkan ikut. Maka masuklah Yudhistira ke Indraloka bersama Batara Indra.
Sedangkan anjing itu masuk ke Sorgaloka berubah menjadi Sang Hyang Batara
Darma/Hyang Suci, (Sudirga dan Yoga Segara, 2014:59).
r. Swargarohana Parwa
Swargarohana Parwa adalah bagian yang kedelapanbelas atau parwa
yang terakhir. Parwa ini menceritakan sewaktu Yudhistira ke Surga tidak bertemu
dengan saudara-saudaranya dan juga dengan Dropadi. Justru malah bertemu dengan
kakak-kakaknya dari Hastina. Oleh karena itu dia mencari ke neraka dan bertemu
dengan adiknya-adiknya dalam penyiksaan. Namun dengan masuknya Yudhistira ke
neraka maka berbaliklah keadaannya. Neraka dibalik menjadi Surga. Sedangkan
Surganya orang-orang Kurawa telah berbalik menjadi neraka, (Sudirga dan Yoga
Segara, 2014:60).
Referensi:
Sudirga, Ida Bagus dan Yoga Segara, I Nyoman. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekerti Untuk
SMA/SMK Kelas X (cetakan ke-1). Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,
Balitbang, Kemdikbud.

Komentar
Posting Komentar