Materi Minggu Ke-6 Agama Hindu Kelas XI
B. Yadnya Dalam Mahabharata Dan Masa Kini
Pada zaman Mahabharata dikisahkan Panca Pandawa melaksanakan
Yajña Sarpa yang sangat besar dan dihadiri seluruh rakyat dan undangan yang
terdiri atas raja-raja terhormat dari negeri tetangga. Bukan itu saja, undangan
juga datang dari para pertapa suci yang berasal dari hutan atau gunung. Tidak
dapat dilukiskan betapa meriahnya pelaksanaan upacara besar yang mengambil
tingkatan utamaning utama.
Baca: Pengertian dan Hakikat Yajña
dalam Ajaran Agama Hindu
Menjelang puncak pelaksanaan yajña, datanglah seorang brahmana
suci dari hutan ikut memberikan doa restu dan menjadi saksi atas pelaksanaan
upacara yang besar itu. Seperti biasanya, setiap tamu yang hadir dihidangkan
berbagai macam makanan yang lezat dalam jumlah yang tidak terhingga. Kepada
brahmana utama ini diberikan suguhan yang enak-enak. Setelah melalui perjalanan
yang sangat jauh dari gunung ke ibu kota Hastinapura, ia sangat lapar dan
pakaiannya mulai terlihat kotor.
Begitu dihidangkan makanan oleh para dayang kerajaan, Sang
Brahmana Utamapun langsung melahapnya dengan cepat bagaikan orang yang tidak
pernah menemukan makanan. Bersamaan dengan itu melintaslah Dewi Drupadi yang
tidak lain adalah penyelenggara yajña besar tersebut. Melihat cara Brahmana
Utama menyantap makanan dengan tergesa-gesa, berkomentarlah Drupadi sambil
mencela. “Kasihan Brahmana Utama itu, seperti tidak pernah melihat makanan,
cara makannya tergesa-gesa,”kata Drupadi dengan nada mengejek. Walaupun jarak
antara Dewi Drupadi dengan Sang Brahmana Utama cukup jauh, tetapi karena
kesaktiannya ia dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Drupadi.
Sang Brahmana Utama diam, tetapi batinnya kecewa. Drupadi pun melupakan
peristiwa tersebut, (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2014:33).
Dalam ajaran agama
Hindu, disampaikan bahwa apabila kita melakukan tindakan mencela, maka
pahalanya akan dicela dan dihinakan. Terlebih lagi apabila mencela seorang
Brahmana Utama, pahalanya bisa bertumpuk-tumpuk. Dalam kisah berikutnya, Dewi
Drupadi mendapatkan penghinaan yang luar biasa dari saudara iparnya yang tidak
lain adalah Duryadana dan adik-adiknya.
Di hadapan Maha Raja Drestarata, Rsi Bisma, Begawan Drona,
Kripacarya, dan Perdana Menteri Widura serta disaksikan oleh para menteri
lainnya, Dewi Drupadi dirobek pakaiannya oleh Dursasana atas perintah Pangeran
Duryadana. Perbuatan biadab merendahkan kehormatan wanita dengan merobek
pakaian di depan umum, berdampak pada kehancuran bagi negeri para penghina.
Terjadinya penghinaan terhadap Drupadi adalah pahala dari perbuatannya yang
mencela Brahmana Utama ketika menikmati hidangan.
Dewi Drupadi tidak
bisa ditelanjangi oleh Dursasana, karena dibantu oleh Krisna dengan memberikan
kain secara ajaib yang tidak bisa habis sampai adiknya Duryadana kelelahan lalu
jatuh pingsan. Krisna membantu Drupadi karena Drupadi pernah berkarma baik
dengan cara membalut jari Krisna yang terkena Panah Cakra setelah membunuh
Supala. Pesan moral dari cerita ini adalah, kalau melaksanakan yajña harus
tulus ikhlas, tidak boleh mencela dan tidak boleh ragu-ragu, (Mudana dan Ngurah
Dwaja, 2014:34).
Renungan Yajur Veda XXIII.62
"yajñam ye vi vatodharam, savidvamso vitenire”.
Terjemahan:
"Para sarjana yang
terkenal yang melaksanakan pengorbanan, mencapai kahyangan (sorga) tanpa suatu
bantuan apa pun. Mereka membuat jalan masuk dengan mudah ke kahyangan (sorga),
yang menyeberangi bumi dan wilayah-pertengahan”.
Referensi
Mudana dan Ngurah
Dwaja. 2014. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Pendidikan Agama Hindu
dan Budi Pekerti : Buku Siswa / Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. --
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.vi, 190 hlm.; 25 cm
Untuk SMA/SMK Kelas XI
Kontributor
Naskah : I Nengah Mudana dan I Gusti Ngurah Dwaja.
Penelaah : I Wayan Paramartha. – I Made Sutrisna.
Penyelia
Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
Cetakan Ke-1, 2014

Komentar
Posting Komentar