Materi Minggu Ke-7 Agama Hindu Kelas X
D. PURANA
Purana (Sanskerta: पुराण ; purāṇa, berarti "cerita zaman
dulu") adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman
dulu. Kata Purana berarti sejarah kuno atau cerita kuno. Ada 18 kitab Purana
yang terkenal dengan sebutan “Mahapurana”. Penulisan kitab-kitab Purana
diperkirakan dimulai pada tahun 500 SM.
Semua
umat Hindu diseluruh dunia pasti tak asing lagi dengan Kitab Purana, seperti
yang sering kita dengar kitab Purana ini berisikan tentang ramalan-ramalan
penciptaan bumi beserta isinya, seperti cerita-cerita Dasa Awatara yang sangat
melegenda dan umat Hindu percaya dengan segala kisah yang diceritakan dalam
kitab Purana tersebut.
Walaupun
kita sering dengar kutipan-kutipan cerita dari kitab Purana namun secara jelas
mungkin masih banyak yang belum tahu, nah bagi yang belum tahu tentang kitab
Purana berikut uraian dan sekaligus menjadi tulisan paling baru di situs ini :
Dikisahkan setelah menyusun MahaBharata Weda Vyasa yang ke 28 ( Maharsi Khrisna
Dvipayana ) menyusun 18 Mahapurana dan 18 Upapurana ( seperti halnya kitab2
Weda (Sruti; catur Weda.) Purana disusun dalam tulisan jauh setelah kisah
tersebut berkembang, sehingga tiap Purana banyak ditemukan Versinya ) agar umat
Hindu semakin tertuntun dan mendapat cerminan dalam melaksanakan Ajaran Weda.
Purana terdiri atas lima topik Utama ( Panca Laksana ) :
1. Tentang Penciptaan semesta ( pratisarga, sarga dan Pralaya),
2.
Geografi
3.
Kisah kisah Para Dewa dan berbagai kisah lainnya
4.
Manvantara (waktu, jaman yuga dan Manu )
5.
Silsilah (Suryawamsa dan Chandrawamsa)
Keseluruhan Mahapurana terdiri atas ± empat Laksa (400.000) Sloka. Dan Krsna
Dvipayana dipercaya sebagai penyusunnya ( ada lagi kepercayaan bahwa Mahapurana
yang disusun oleh Wedavyasa mempunyai satu crore Sloka, karena jumlah tersebut
sangat sulit untuk dibaca oleh manusia biasa. Beliau merangkum purana purana
tersebut dalam empat laksa Sloka saja; Siva Purana ). Atau dengan kata lain
Vedavyasa telah menyusun suatu Purana asli yang dikenal dengan nama Purana
Samhita, beliau kemudian mengajarkan Purana ini kepada muridnya Lomaharsana
atau Romaharsana yang kemudian menceritakan Purana Samhita itu kepada umum,
dari cerita Lomaharsana tersebut terbentuklah Mahapurana tersebut; [Roma (
rambut ) Harsana ( bergetar ), setiap orang yang mendengar cerita Romaharsana
membuat bulu tubuh (bulu roma ) orang yang mendengarkannya berdiri karena
terpengaruh oleh indah, seram dan sebagainya dari cerita Purana beliau]
Dengan demikian dinyatakan bahwa Purana tidak disusun oleh seorang pun
pengarang lain, pada setiap kurun waktu. Hanya saja beberapa pengarang telah menambahkan
cerita dan embel embel hingga naskah ini berkembang lebh banyak jadi sangatlah
mungkin beberapa bagian Purana disusun sekitar 500 tahun sebelum masehi
Kebanyakan Sarjana Menyetujui bahwa Mahapurana disusun dalam bentuk akhir
antara 1000-300 tahun sebelum masehi.
Karakter
Purana itu sendiri yg dalam penjabarannya akan selalu mengagungkan salah satu
Dewa Trimurti ( mengingat dalam manusia dipengaruhi 3 sifat dasar Tri Guna :
satwam = kebaikan, Rajas= Nafsu/gairah, Tamas= kegelapan (kebodohan)
Rajasika Purana : Mengagungkan Dewa Brahma
Sattwika Puranan : Mengagungkan Vishnu
Tamasika Purana : Mengagungkan Shiva
Hal yang menarik dalam Purana adalah satu Purana dengan Purana yang lain
mengisahkan peristiwa yang sama dengan versi yang berbeda ( sepintas seperti
kontradiksi, namun sebenarnya mengajarkan kita untuk menilai dan menganalisa
sesuatu dari sudut pandang yg berbeda.
18 Mahapurana masing-masing :
Rajasika Puranas :
Brahma Purana 9.000
Brahmānda Purana 18.000
Brahma Vaivarta Purana 18.000
Mārkandeya Purana 9.000
Bhavishya Purana 14.000
Vāmana Purana 10.000
Sattwika Puranas :
Vishnu Purana 23.000
Bhagavata Purana 18.000
Nārada Purana 25.000
Garuda Purana 19.000
Padma Purana 55.000
Varaha Purana 24.000
Tamasika Puranas :
Shiva Purana 24.000
Vāyu purana 24.000
Skanda Purana 81.000
Agni Purana 15.000
Matsya Purana 15.000
Kūrma purana 17.000
Kitab Purana merupakan kumpulan
cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang
memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita
mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan
Candrawangsa serta memuat cerita-cerita yang menggambarkan
pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan.
Selain itu Kitab Purana juga
memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang cerita kejadian alam
semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara
upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau
berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana
adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme(Ketuhanan) yang dianut
menurut berbagai paham Hindu.
Purana juga dikenal dengan nama
“pancama Weda” yaitu Weda kelima karena kitab ini memberikan penjelasan ajaran
veda di dalam bentuk cerita yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat umum
khususnya di jaman Kali yuga ini. Di dalam bahasa sansekerta, kata Purana
berarti “tua atau kuno”. Dalam hal ini kata Purana berarti kitab yang
menguraikan suatu kejadian di masa lampau yang disajikan di dalam bentuk cerita
da ajaran ajran mulia kemanusyaan. Jika ditinjau dari pengertian puitis, kata
Purana juga bisa diambil dari kata ”purä –nawa” ( kuno-baru ). Dengan kata lain
Purana adalah suatu kitab yang menguraikan suatu kejadian yang telah terjadi
dimasa lampau di dalam bentuk cerita yang berisi ajaran ajaran yang sesuai
dengan ajaran Weda yang selalu baru dan bersifat segar serta tidak pernah
membosankan.
Selalu segar dan tidak pernah
membosankan maksudnya adalah meskipun jika cerita ini didengarkan atau
diceritakan berulang kali, namun kisah kisah di dalam Purana selalu akan
menarik karena didalam kisah tersebut terkandung nilai rohani yang sangat kuat
dan memberikan kepuasan kepada sang roh yang bersemayam di dalam badan.
Secara umum, ketika seseorang
membaca atau mendengarkan sebuah novel material atau menulis novel material,
fakta telah membuktikan bahwa novel tersebut suatu hari akan membosankan si
pembaca sehingga pada akhirnya hilang tanpa jejak. Maksimal novel-novel seperti
itu akan tenar atau tersedia di pasaran selama 100 tahun atau mungkin sedikit
lebih dan setelah itu tidak akan laku lagi alias kadaluwarsa. Tetapi purana,
meskipun sudah dibacakan dan di dengar oleh orang orang sejak beribu ribu tahun
silam, namun kisah di dalam Purana tidak pernah membosankan para pembaca yang
serius untuk mempelajari Purana.
Mereka yang dengan serius untuk
mempelajari Purana dibawah bimbingan yang benar akan selalu mendapat keinsafan
baru yang dikupas dari kalimat kalimat di dalam purana. Keinsafan baru bukan
berarti menemukan teori baru seperti para ilmuwan modern tetapi suatu hal yang
sebenarnya sudah ada namun belum pernah dirasakan atau dipahami oleh si
pembaca. Hal ini disebabkan oleh kekuatan rohani sang penulis. Selain itu, hal
yang paling utama yang menyebabkan Purana tidak pernah kadaluwarsa adalah
karena cerita ini mengandung kegiatan Tuhan yang maha kuasa yang selalu
bersifat segar dan baru. Meskipun yang maha kuasa merupakan kepribadian tertua
atau orang pertama yang ada di alam semesta namun beliau selalu segar.
Di
dalam kitab Brahma Samhita diuraikan “advaitam
acyutam anädim ananta-rüpam ädyam puräna-purusam nava-yauvanam ca.” “Beliau
adalah tiada duanya, tidak pernah gagal, tanpa awal, yang memiliki bentuk yang
tak terhingga, awal dari segala sesuatu dan meskipun beliau adalah kepribadian
tertua ( purana purusa) namun beliau selalu segar dan kelihatan muda ( nava
yauvanam ).”
Berdasarkan beberapa sumber
termasuk kamus ‘amara kosa’, secara umum Purana menguraikan 10 pokok bahasan
namun ada beberapa Purana yang hanya menguraikan 5 dari sepuluh pokok bahasan
tersebut. Menurut Matsya Purana bab 53 ayat 65, suatu kitab bisa disebut
sebagai Purana jika kitab tersebut menguraikan paling tidak lima pokok bahasan
sebagai berikut :
Sargasca
pratisargas ca
vamso manvantaräni ca
vamsyänucaritam caiva
puränam panca-laksanam
lima pokok bahasan yang
memenuhi syarat sebagai purana adalah :
1. Proses ciptaan (Sargah)
2. Peleburan (Pratisargah)
3. Silsilah keturunan raja raja yang mulia (Vamsah)
4. Masa pemerintahan para manu (Manvantara)
5. Kegiatan para raja yang agung (Vamsya anucarita)
Ketika kitab menguraikan kelima
pokok bahasan, maka kitab tersebut bisa dimasukan kedalam katagori Upa-purana.
Jika sebuah Purana mengandung lebih dari lima pokok bahasan ini, yaitu sepuluh
pokok bahasan maka purana tersebut digolongkan kedalam golongan Maha-Purana.
Sepuluh pokok bahasan Purana diuraikan didalam Srimad Bhagavata Purana skanda
dua belas bab tujuh sloka nomor sembilan dan sepuluh sebagai berikut :
sargo
‘syätha visargas ca
vrtti-raksantaräni ca
vamso vamsänucaritam
samsthä hetur apäsrayah
dasabhir laksanair yuktam
puränam tad-vido viduh
kecit panca-vidham brahman
mahad-alpa-vyavasthayä
Para otoritas dalam sastra
mengerti bahwa purana mengandung sepuluh pokok bahasan. Beberapa ahli
menguraikan bahwa maha purana menguraikan sepuluh sedangkan yang menguraikan
kurang dari sepuluh di sebut alpa-purana atau upa-purana. Sepuluh pokok bahasan
yang disebutkan didalam sloka diatas adalah sebagai berikut:
1.Proses
Ciptaan Alam Semesta ( Sargah )
Proses ciptaan ini maksudnya adalah proses ciptaan yang diciptakan oleh tuhan
yang maha esa Sri Wisnu atau Narayana. Pada awalnya yang ada hanya Kepribadian
Tuhan yang maha esa, Sri Wisnu. Kemudian beliau menciptakan unsur dari alam
semesta material. Saat ini yang tercipta adalah bahan bahan dari alam semesta
yaitu Maha Tatva termasuk Panca Mahabhuta.
2.
Proses Ciptaan Kedua ( Visarga )
Proses ciptaan kedua yang dimaksud disini adalah ciptaan yang dilakukan oleh
Dewa Brahma. Pertama-tama Tuhan yang maha esa Sri Wisnu menciptakan unsur dasar
dari alam semesta (Sarga). Beliau juga menciptakan dewa Brahma yang lahir dari
bungan padma yang keluar dari pusar padma beliau. Karena itu Sri Wisnu juga
dikenal dengan nama “Padma Nabha”. Kemudian dewa Brahma yang dikenal sebagai
Widhi (Hyang Widhi) yang artinya makhluk hidup pertama yang diciptakan oleh
yang maha kuasa, mulai merancang unsur unsur tersebut kedalam berbagai bentuk
dibawah bimbingan yang maha kuasa, Sri Narayana.
Seperti halnya bahan bangunan
sudah disediakan oleh alam namun para arsitek mengolah bahan tesebut menjadi
bentuk sebuah rumah dan sebagainya. Seperti itu pula dewa Brahma menciptakan
alam semesta dari bahan bahan yang sudah disediakan oleh Tuhan. Proses ciptaan
kedua yang dilakukan oleh dewa Brahma yang di sini disebut Visarga.
3.
Pemeliharaan dan Perlindungan Alam Semesta Beserta Isinya (Vrtti)
Setelah alam semesta diciptakan kedua kalinya atau dengan kata lain setelah
alam semesta dirancang sedemikian rupa oleh dewa Brahma, maka alam semesta tersebut
perlu dipelihara. Didalam kehidupan sehari hari kita mengalami bahwa untuk
memelihara sesuatu adalah hal yang paling sulit. Untuk membuat dan
menghancurkan adalah hal yang tidak begitu sulit tetapi untuk memelihara
memerlukan keahlian dan kesabaran. Hanya Tuhan yang mampu untuk memelihara,
karena itu beliau mengekspansikan diri beliau sebagai Ksirodakasayi Visnu
(Paratmatma) dan memelihara semua makhluk hidup. Kepribadian Tuhan dalam bentuk
ini dikenal dengan nama Sri Wisnu di dalam Tri Murti. Di dalam Upanisad, ada
sebuah sloka yang sangat umum yang menguraikan pemeliharaan yang dilakukan oleh
Tuhan kepada para makhluk hidup. “ nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam
vyadadati kaman” beliau seorang yang memenuhi keperluan dari semua makhluk hidup
di dalam berbagai bentuk. Diulas dari kata Narayana sendiri, kata tersebut bisa
diartikan sebagai berikut, “narasya ayanam pravrttih yasmat sah iti narayanah”
“Narayana adalah beliau yang merupakan tempat perlindungan (ayana) bagi para
makhluk hidup atau beliau yang merupakan sumber dari makhluk hidup.
4.
Perlindungan (Posana)
Posana dengan Vrtti mempunyai kemiripan yaitu sama sama memelihara dan
melindungi. Tetapi didalam hal ini, proses perlindungan yang diuraikan di dalam
purana maksudnya adalah perlindungan yang diberikan oleh Tuhan kepada para
penyembahnya yang murni. Sedangkan Vrtti merupakan perlindungan secara umum
kepada setiap makhluk hidup seperti yang diuraikan di atas.
Seperti misalnya Prahlada yang
dilindungi oleh Sri Narasimha dari cengkraman raksasa Hiranyakasipu. Uraian ini
disebut Posana di dalam Purana. Kenapa perlindungan kepada penyembah murni
dipisahkan dengan perlindungan secara umum karena penyembah murni memiliki
peran yang sangat penting di dalam kemunculan Tuhan ke bumi ini sebagai
Awatara. Tujuan Tuhan berawatara bukan hanya untuk menegakkan dharma dan
menghancurkan adharma tetapi hal yang lebih penting dari itu semua adalah untuk
memuaskan keinginan penyembah beliau yang tulus dan murni.
5.
Penyebab Kehidupan yang Berupa Keinginan Material (Hetu)
Para makhluk hidup ( sang roh ) berkeliling dari satu badan yang satu ke badan
yang lain di sebabkan oleh keinginan mereka yang material untuk menikmati di
dunia mateial ini. Namun sangat disayangkan sekali bahwa dunia material ini
bukanlah tempat untuk kenikmatan yang sejati bagi sang roh.
Seperti halnya ikan tidak akan
bisa menikmati kemewahan daratan sama halnya sang roh tidak akan bisa menikmati
kemewahan hidup di dunia material karena kedudukan dasar dari sang roh adalah
sebagai percikan terkecil Tuhan Yang Maha Esa seperti uraian Bhagavad Gita
“mama eva amsah jiva loke jiva bhuta sanatanah” Karena itu untuk mencapai
kenikmatan sejati, sang roh harus kembali pulang ke alam Tuhan. Dengan kata
lain, mereka harus mencapai moksa. Jadi hetu (penyebab) mempunyai peranan yang
sangat penting di dalam kehidupan semua makhluk hidup yang sangat berhubungan
erat dengan hukum Karmaphala.
6.
Masa Pemerintahan Manu (Manvantara/Antarani)
Di dalam satu kalpa ( satu hari bagi deva Brahma) diuraikan terjadi pergantian
manu sebanyak 14 kali. Satu hari bagi Brahma diuraikan di dalam bhagavad gita
sebagai berikut :
sahasra-yuga-paryantam
ahar yad brahmano viduh
rätrim yuga-sahasräntäm
te ‘ho-rätra-vido janäh
“Berdasarkan perhitungan
manusia, seribu kali perputaran jaman ( satya, treta, dvapara, kali yuga)
merupakan satu hari bagi brahma. Dan satu malam juga mempunyai masa yang sama”.
Berdasarkan perhitungan di
dunia ini, setiap kali yuga berlangsung selama 432.000 tahun, dvapara yuga
selama 864.000 tahun, treta yuga selama 1.296.000 tahun dan satya yuga
1.728.000 tahun. Jika keempat jaman ini berputar sebanyak seribu kali maka itu
merupakan satu hari bagi dewa Brahma dan satu malam juga mempunyai waktu yang
sama. Jika dipikirkan berdasarkan pemikiran kita yang terbatas, kelihatannya
ini hanyalah sekedar suatu hayalan. Mana mungkin ada orang yang hidup sekian
lama? Pemikiran seperti ini sama seperti pemikiran seekor nyamuk yang hidup
selama satu minggu. Kalau misalnya kita bisa berbicara dengan si Nyamuk dan bilang
bahwa kami manusia hidup 1 x 4 x 12 x 100 minggu, maka nyamuk itu tidak akan
percaya dengan pembicaraan kita karena mereka tidak pernah mengalami hidup
sepanjang itu. Bagi kita mungkin seratus tahun sudah cukup lama tapi di planet
lain, seratus tahun di bumi ini bagi mereka hannya sekejap mata. Kalkulasi dari
kehidupan dewa Brahma ini bukan kalkulasi oleh seorang yang berspekulasi
pikiran tetapi kalkulasi yang dibenarkan oleh berbagai sastra paling tidak
berdasarkan Bhagavad Gita yang merupakan himpunan inti sari dari semua ajaran
kitab suci Weda.
Berdasarkan uraian sastra yang
sama, saat sekarang ini, pemerintahan berada di bawah Vaivasvata manu yang
merupakan manu yang ke-7 dari empat belas manu. Uraian manu manu lainya
diuraikan lebih mendalam didalam Purana. Karena Purana menguraikan kejadian di
dalam berbagai pemerintahan manu, maka kadang kadang ada beberapa cerita yang
tidak cocok antara Purana yang satu dengan purana yang lain . Seperti contoh,
di dalam beberapa Purana mungkin diuraikan bahwa begitu Pariksit dikutuk oleh
brahmana Srengi, Pariksit menjadi marah dan mulai membangun bangunan dari batu
untuk menghindari masuknya ular Taksaka sedangkan di Purana lain diuraikan
bahwa maharaja Pariksit menerima kutukan itu dan duduk di tepi sungai Gangga mendengarkan
Bhagavata Purana dari Sri Sukadeva Gosvami.
Menurut para acarya dan resi
penerima wahyu Weda menguraikan bahwa dalam hal ini, perbedaan terjadi karena
kejadian tersebut terjadi didalam waktu berbeda. Dengan demikian, kepribadian
Pariksit pun merupakan kepribadian berbeda antara yang satu dengan yang lain
dilihat dari sudut pandang perbedaan manvantara dan perbedaan yuga. Kepribadian
yang berbeda tetapi mengambil posisi yang sama. Seperti misalnya permainan
drama, saat ini si A berperan sebagai Pariksit dan besok si B yang berperan
sebagai Pariksit. Karena karakter yang berbeda maka aksi pun sedikit berbeda
namun tujuan dari kemunculan kepribadian itu semua adalah sama yaitu untuk
memberikan jalan kepada yang maha kuasa untuk ikut berperan di dalam suatu
kejadian untuk menegakan dharma. Perbedaan seperti ini biasanya terjadi didalam
Purana yang berbeda judul dan biasanya tidak di dalam Purana dalam satu judul.
7.
Uraian Dynasti Raja-Raja yang Agung dan Kegiatannya (Vamsänucarita)
Vamsanucarita adalah kisah para raja yang memerintah di berbagai tempat di bumi
ini. Ini juga menyangkut keterunan dan kegiatan dari masing masing keturunan
raja-raja yang mulia tersebut.
8.Peleburan
(Samstha)
Ada beberapa jenis peleburan. Peleburan pertama disebut dengan Kanda Pralaya
yaitu peleburan yang terjadi di malam hari bagi dewa Brahma. Saat ini peleburan
yang terjadi hanya dari planet bumi sampai ke tujuh susunanan planet bagaian
bawah sedangkan tujuh susunan planet keatas tidak akan terlebur. Kanda Pralaya
terjadi setiap malam hari Brahma tiba dan kemudian setelah dewa Brahma
terbangun dari tidur di pagi hari ( setelah tertidur selama seribu perputaran
yuga ) maka beliau melihat segala sesuatu telah terlebur dan beliau mulai
menciptakan lagi bagian alam semesta yang terlebur tersebut sehingga para
makhluk hidup memiliki tempat untuk hidup kembali.
Kemudian yang kedua adalah Maha
Pralaya. Maha Pralaya terjadi setelah dewa Brahma mencapai umur 100 tahun.
Ketika dewa Brahma mencapai umur seratus tahun, maka beliau harus mengakhiri
pos beliau sebagai dewa Brahma dan kembali pulang ke alam rohani melayani
kepribadian Tuhan yang maha esa Sri Narayana. Saat ini terjadi peleburan
seluruh alam semesta yang berada di bawah tinjauan dewa Brahma masing masing.
Kedua peleburan Bhuana Agung ini dilakukan oleh dewa Siwa yang berfungsi
sebagai pelebur di dalam Tri Murti.
Itu merupakan peleburan di
dalam bhuana agung alam semesta. Kemudian Purana juga menguraikan peleburan
Bhuana Alit yang juga dibagi menjadi dua. Peleburan pertama (Khanda Pralaya
bagi Bhuana Alit) adalah perpindahan sang roh dari masa kanak kanak ke masak
devasa dan ke masa tua. Berdasarkan sastra, perubahan ini termasuk kedalam
katagori perpindahan badan karena badan yang sebelumnya sudah diangap
meninggal. Hal ini bahkan dibuktikan oleh para ilmuwan secara ilmiah bahwa
setiap 7 tahun, tidak satu sel pun yang menyusun badan kita masih hidup. Dengan
demikian sel penyusun badan kita yang sekarang adalah berbeda dengan sel
penyusun badan kita tujuh tahun yang lalu. Srimad Bhagavad gita juga
menguraikan :
Dehino
‘smin yathä dehe
kaumäraà yauvanaà jarä
tathä dehäntara-präptir
dhéras tatra na muhyati
“sang roh yang berada di dalam
badan secara terus menerus berpindah dari masa kanak kanak ke masa remaja dan
dari masa remaja ke usia tua. Sama halnya, sang roh juga berpindah dari badan
yang satu ke badan yang lain setelah meningal. Orang bijaksana tidak
terbingungkan oleh pergantian seperti ini”.
Kemudian Maha Pralaya bagi
Bhuana Alit adalah seperti bagian terakhir dari sloka di atas yaitu perpindahan
dari satu badan ke badan yang lain setelah meninggal dunia. Sang roh akan
menerima badan sesuai dengan keinginan yang mereka kembangkan selama berada di
badan sebelumnya. Maka dari itu ada proses punar janma. Kadang kadang sang roh menerima
badan binatang, kadang kadang menerima badan tumbuh tumbuhan dan kadang kadang
menerima badan manusia dan bahkan kadang kadang sebagai Apsara dan Gandharva (
bidadari bidadara ) dan bahkan kadang kadang sebagai para deva. Ini tergantung
pada perkembangan keinginan dan aktivitas di dalam badan sebelumnya. Namun di
dalam hal ini, badan halus yang sama ( Pikiran, kecedasan dan ego ) masih
selalu bersama sang roh di dalam setiap badan. Yang terlebur hanyalah badan
kasar yang tersusun dari lima unsur alam.
9.
Pembebasan (mukti/moksa/samstha)
Pada dasarnya, pembebasan atau mukti juga merupakan proses peleburan (Samstha)
namun di dalam level yang lebih halus. Peleburan (Samstha) yang termasuk
kedalam katagori Moksa adalah peleburan yang terjadi pada badan kasar dan badan
halus. Dengan demikian sang roh mencapai kedudukannya yang sejati. Sastra
menguraikan “ muktir hitva anyatha rupa svarupena samasthitih”, mukti adalah
proses dimana seseorang meningalkan berbagai bentuk badan di dunia material ini
( anyatha rupa ) dan mengambil bentuk sejatinya di dunia rohani ( sva-rupa ).
Kedudukan sang roh yang sejati di dunia rohani adalah sebagai pelayan yang maha
kuasa, Sri Narayana. Ada berbagai rasa yang bisa dikembangkan di dalam hubungan
seseorang denga tuhan.
Moksa bukan hanya berarti
menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Tuhan adalah pengertian yang masih dangkal
tentang Moksa atau dengan kata lain tahapan tersebut adalah tahapan awal dari
Moksa. Menyatu dengan Tuhan maksudnya adalah menyatu dengan brahma Jyoti ( sinar
suci tuhan). Kalau kita berbicara tentang sinar suci, maka mesti juga mengacu
pada sumber dari sinar suci tersebut yang juga merupakan kepribadian yang maha
suci. Kepribadian berarti berbentuk pribadi bukan tanpa bentuk. Seperti sinar
matahari, adanya sinar matahari karena adanya bola matahari. Sama halnya adanya
sinar suci maka mesti ada sumber yang berbentuk yang bersifat suci.
Menyatu dengan Brahman adalah
awalan dari kesempurnaan di dalam kehidupan rohani. Kesempurnaan tertingi di
dalam kehidupan rohani adalah kembali ke dalam bentuk sejati (svarupena
samasthitih) dan melakukan pengabdian kepada yang maha kuasa. Ketika seseorang
kembali ke dunia rohani atau alam Tuhan maka mereka tidak akan kembali lagi ke
dunia material ini yang penuh dengan penderiataan sedangkan kalau seseorang
yang hanya mencapai tingkatan menyatu dengan brahman ( sinar suci Tuhan ) masih
ada kemungkinan seseorang untuk kembali ke dunia material ini. Tingkatan
brahman, seseorang hanya akan mencapai sifat “Sat” yang berarti kekal, namun
sifat “cid dan ananda” ( pengetahuan dan kebahagian ) hanya akan bisa dicapai
di dalam alam rohani bukan di dalam sinar suci.
Sastra juga menguraikan bahwa
Moksa merupakan tujuan dari dharma. “moksa artham jagadhitaya ca iti dharmah”
10.Tempat
Perlindungan yang Utama (apasraya)
Apasraya atau juga kadang kadang di sebut dengan ‘asraya’ merupakan pokok
bahasasan yang paling penting di dalam semua purana karena ini merupakan tujuan
kehidupan rohani. Tempat perlindungan yang paling tinggi adalah kepribadian
tuhan yang maha esa. Srimad Bhagavata Purana skanda kedua bab sepuluh sloka
nomer tujuh menguraikan :
äbhäsas
ca nirodhas ca
yato ‘sty adhyavasiyate
sa äsrayah param brahma
paramätmeti sabdyate
“ Kepribadian yang satu yang
dikenal sebagai kepribadian yang paling utama atau roh yang utama yag
bersemayam di dalam hati setiap makhluk hidup merupakan sumber dari seluruh
manifestasi semesta, juga sebagai wadah alam semesta serta sebagai akhir dari
alam semesta. Dengan demikian beliau adalah sumber asli yang utama dan
merupakan kebenaran mutlak”.
Di dalam Weda diuraikan bahwa
kepribadian yang merupakan sumber segala sesuatu adalah Narayana. Urian
tersebut adalah sebagai berikut :
candrama
manaso jatas caksoh suryo ajayata; srotradayas ca pranas ca mukhad agnir
ajayata; narayanad brahma jayate, narayanad rudro jayate, narayanat prajapatih
jayate, narayanad indro jayate, narayanad astau vasavo jayante, narayanad
ekadasa rudra jayante.
” Dewa bulan, candra, berasal
dari pikiran Narayana. Dewa matahari, Surya, berasal dari mata padma Sri
Narayana, deva pengontrol pendengaran dan nafas kehidupan berasal dari
Narayana. Dewa api, Agni, berasal dari mulut padma Narayana, Prajapati dan dewa
Brahma berasal dari Narayana, Indra berasal dari Narayana, delapan vasu berasal
dari Narayana,sebelas Rudra yang merupakan inkarnasi dari dewa Siwa berasal
dari Narayana, dua belas aditya juga berasal dari Narayana”.
Uraian lain dari bagian kitab
Atharva Weda juga mendukung pernyataan tersebut diatas sebagai berikut :
narayana
evedam sarvam yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko narayanah
na dvitiyo’sti kascit
sa visnur eva bhavati
sa visnur eva bhavati
ya evam veda ity upanisa
Jadi berdasarkan sumber sumber
diatas, menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Narayana adalah sumber segala
sesuatu yang merupakan kepribadian yang paling utama, kepribadian Tuhan yang
maha esa yang dikenal dengan sebutan ‘Brahman’ oleh para yogi, ‘paramatma’ oleh
para jnani dan ‘bhagavan’ oleh para bhakti yogi. Ini merupakan keputusan dan
kesimpulan kitab suci yang otentik. Pernyataan apapun yang dinyatakan tanpa
dasar sastra maka pernyataan tersebut tidak bisa dipakai dasar argumen karena
pernyataan tersebut sudah pasti memiliki kekurangan karena orang yang
berpendapat sendiri tidak sempurna. Namun sastra Weda dan berbagai suplemennya
merupakan sabda Brahman atau merupakan wahyu Tuhan yang ditulis oleh para resi
yang mulia seperti Maha resi Vyasadeva dan lain lain.
Sepintas Masing-Masing Purana
Brahma
Purana
Disebut juga Adi Purana karena merupakan Purana yang disusun, naskah asli
purana ini tidak ada lagi, naskah sekarang merupakan rancang ulang dengan
bahan-bahan yang dikumpulkan dari Mahabharata, Harivamsa, Vayupurana,
Markandeya Purana dan Wisnu Purana
Padma
Purana
Merupakan Purana terpanjang kedua, menceritakan keagungan Wisnu juga terdapat
cara cara pemujaan yang berkenaan dengan Wisnu
Visnu
Purana
Tidak seperti umumnya Purana, Wisnu Purana terdiri atas 6 bagian Utama sayang
ada beberapa bagian Purana ini tidak sesuai dengan naskah aslinya , meski
demikian Wisnu Purana merupakan satu-satunya Purana yg mendekati lima
permasalahan yang menjadi karakteristik dari sebuah Purana.
Siva
Purana
Ada beberapa ketidaksetujuan tentang apakah Siwa Purana ini adalah Mahapurana
atau tidak akan tetapi diluar semua pertimbangan, Siwa Purana jelas adalah
suatu Purana yang penting.
Bhagavata
Purana
Seringkali dihubungkan dengan Srimad Baghavata. Srimad Bhagavata ini terbagi
menjadi 12 Bagian atau Skanda. Sepuluh skanda diantaranya merupakan skanda yang
terpanjang. Srimad ini paling terkenal di kalangan umat karena menceritakan
kehidupan Sri Khrisna
Narada
Purana
Juga dikenal sebagai Vhrat Naradeya, karena aslinya Purana ini diceritakan oleh
Devarsi Narada
Markandeya
Purana
Purana ini merupakan Purana tersingkat, didalamnya ada sebuah naskah yg dikenal
sebagai ’Candi’ yg dibaca oleh hampir sebagian penduduk India khususnya di
India Timur. Ada hubungan erat antara Markandeya Purana dengan Mahabharata,
banyak pertanyaan yang tidak terjawab bila seseorang membaca Mahabharata akan
terjawab dalam Markandeya Purana.
Agni
Purana
Dipercaya di karang oleh Agni (dewa Api) sendiri lalu diajarkan kepada Rsi
Vasistha, Agni Purana merupakan satu satunya Purana yang penuh dengan ritual upacara.
Sehingga dikatakan Agni Purana merupakan Purana terakhir yang disusun, sehingga
semua cerita-cerita telah dimuat dalam Purana-Purana lain yang tersisa adalah
masalah ritual upacara saja, disamping Ritual juga ditonjolkan tentang wujud
pemujaan patung dewa dewi, tempat Tirthayatra, upacara kremasi, Tapabrata, Ilmu
firasat dll.
Bhavisya
Purana
Merupakah naskah yang menceritakan tentang apa yang akan terjadi di masa
mendatang. Bhavisya merupakan bentuk future tense dari ‘bhu’ yang artinya akan
terjadi. Banyak Wahyu dan ramalan yang termuat di Bhavisya Purana. Purana ini
juga menceritakan tetntang dinasti-dinasti yang akan memerintah di jaman
Kaliyuga. Bahkan Bhavisya Purana juga memuat tentang Nabi Noah ( Nuh ), Nabi Adam, Allah bahkan Putri Victoria
Brahmavaivarta
Purana
Purana ini menceritakan tentang Brahma dan penciptaan melalui vivartana (
evolusi ) Brahma. Dalam naskah ini Vedavyasa menjelaskan tentang pengetahuan
Brahma
Linga
Purana
Dalam Daftar Maha purana Linga Purana menduduki urutan kesebelas, namun tidak
berarti Linga Puranan berada di urutan kesebelas dalam penyusunannya, ada
banyak ritual upacara dalam naskah ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa Linga
Puranan disusun ketika Agama Hindu telah menjadi semakin Ritualistik. Tahun
penyusunannya mungkin berkisar antara 800-900 sebelum masehi. Bahasa lingga
Purana ini cukup sulit untuk dimengerti, komposisi naskah juga tidak seindah
Purana lain, kalimatnya masih berliku-liku hingga memahaminya relatif sulit.
Varaha
Purana
Khusus mengagungkan Visnu dalam inkarnasinya sebagai babi hutan (Varaha).
Kadang-kadang Purana ini juga disebut Visnawa Purana karena isinya langsung
diceritakan Wisnu dalam wujud Varaha kepada Prthivi ( Dewi Bumi), aslinya
naskah ini terdiri atas 24 ribu Sloka dan yang tertinggal sekitar 10 Ribu Sloka
saja, bagian-bagian yang hilang menceritakan tentang penciptaan, Vamsanucarita
( keturunan raja-raja) dan Manvatara. Sedangkan yang tertinggal hanya berisikan
doa-doa, aturan-aturan upacara dan cerita tentang tempat suci.
Skanda
Purana
Sakanda Purana merupakan Purana terpanjang dalam Mahapurana. Purana ini
dianggap karya Vedavyasa kedua setelah Mahabharata, didalam Skanda Purana juga
memeuat beberapa cerita Mahabharata didalamnya. Para Sarjana juga sepakat
Skanda Purana bukanlah suatu kesatuan karya. Naskah Skanda Purana yang ada
sekarang merupakan kompilasi dari naskah-naskah skanda Purana yang ada di
berbagai wilayah di India. Ada dua alternatif tentang siapa yang menurunkan
naskah ini, pertama tentu saja diasosiasikan kepada Putra Siwa dan Parwati,
Skanda jenderal para Dewa lalu beliau menurunkan kepada Rsi Brghu lalu Rsi
Brghu menurunkan kepada Rsi Chyavana dan Rsi Rcika lalu Vedavyasa yang
merangkum naskah dari kedua Rsi tersebut . Beberapa ahli menelusuri bahwa Sakti
Siwa yaitu Parwati yang menurunkan Skanda Purana kepada Puteranya Skanda, Nandi
(pengawal Siwa) menerima naskah ini dari Skanda lalu menurukan kepada Rsi Atri.
Vamana
Purana
Adalah purana yang isinya pendek. Purana ini dibagi menjadi dua bagian,naskah
ini berhubungan dengan Avatara Wisnu yaitu Vamana ( manusia cebol )
Kurma
Purana
Nama Karma Purana juga berhubungan dengan avatara Wisnu. Kurma berarti kura
kura. Dalam wujud inkarnasi inilah Visnu menyampaikan isi Purana ini, makanya
nama Purana mengikuti. Purana ini terdiri dari empat bagian yaitu Brahmi,
Bhagavati, Souri dan Vaisnavi. Namun satu satunya bagian yang kita jumpai
hanyalah Brahmi. Oh ya mungkin Anda sudah biasa mendengar Gita (Bhagavad Gita )
yang diajarkan Krishna kepada Arjuna. Anda juga pasti tahu Gita tersebut adalah
bagian dari Mahabharata ( Bhisma Parwa ), yang mungkin belum anda ketahui
adalah jumlah kitab Bhagavad Gita ini lebih dari satu, untuk membedakan Gita
ini dengan yang lainnya orang harus menyebut secara lengkap Gita ini yaitu
Srimadbhagavata Gita, karena ada juga Gita yang merupakan bagian dari Kurma
Purana yang dinamakan Isvara Gita.
Mastya
Purana
Purana ini dinamakan Mastya Purana karena diturunkan oleh Visnu dalam wujud
avatara Mastya ( ikan )
Garuda
Purana
Naskah yang berukuran sedang, dinamakan Garuda Purana karena diturunkan oleh
burung Dewata Garuda kepada Rsi Kasyapa.
Brahmanda
Purana
Purana ini selalu menjadi urutan terakhir dalam Mahapurana
Vayu
Purana
Diatas dalam urutan keempat ada dua Purana yang menempatinya, hal ini
disebabkan karena adanya ketidaksetujuan tentang Mahapurana keempat, apakah
Siwa Purana atau Vayu Purana, dalam Mastya Purana dan Narada Purana bahwa Vayu
Purana lah menempati urutan keempat. Dan tidak ada jalan untuk menengahi hal
ini
Vayu Purana pertama kali diturunkan oleh Vayu ( Dewa Angin )
Demikian sedikit pengenalan
tentang Mahapurana
disadur dari berbagai sumber.
http://www.mediahindu.com/ajaran/mengenal-kitab-purana.html
http://hindu.fairtopic.com/t11-purana-kitab-apakah-itu
Komentar
Posting Komentar