Materi Minggu Ke-7 Agama Hindu Kelas XI
C. SYARAT-SYARAT DAN
ATURAN DALAM PELAKSANAAN YADNYA
Selamat datang
kembali disitus ini. Pada kesempatan yang baik ini saya mengajak kalian untuk
mempelajari materi tentang Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan
Yajña, sehingga kita akan lebih paham dan pada akhirnya mampu menerapkan yajna
dalam kehidupan sesuai denganj aturan yang ada. Segala hal akan menjadi baik
dan mencapai tujuan apa bila dapat dikerjakan sesuai dengan peraturan-peraturan
yang telah tersurat dan tersirat. Seperti halnya ketika belajar di bangku
sekolah. Seseorang akan dapat mencapai tujuannya yaitu lulus dari sekolah
apabila telah mengikuti semua tahapan yang ada seperti belajar dengan baik dan
mendapat nilai baik dalam ulangan. Setiap tahapan tersebut tentunya harus
dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku disekolah tersebut. Sama juga halnya
dengan melaksanakan yajna. Yajna akan berhasil dan mencapai tujuan apabila
dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat dan aturan dalam pelaksanaan yajna.
HomeMateri Hindu kls XISyarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña - Materi Hindu kelas XIMATERI HINDU KLS XI
Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña - Materi
Hindu kelas XI
4:55 PM
Selamat
datang kembali disitus ini. Pada kesempatan yang baik ini saya mengajak kalian
untuk mempelajari materi tentang Syarat-syarat dan Aturan dalam
Pelaksanaan Yajña, sehingga kita akan lebih paham dan pada akhirnya mampu
menerapkan yajna dalam kehidupan sesuai denganj aturan yang ada. Segala hal
akan menjadi baik dan mencapai tujuan apa bila dapat dikerjakan sesuai dengan
peraturan-peraturan yang telah tersurat dan tersirat. Seperti halnya ketika
belajar di bangku sekolah. Seseorang akan dapat mencapai tujuannya yaitu lulus
dari sekolah apabila telah mengikuti semua tahapan yang ada seperti belajar
dengan baik dan mendapat nilai baik dalam ulangan. Setiap tahapan tersebut
tentunya harus dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku disekolah tersebut. Sama
juga halnya dengan melaksanakan yajna. Yajna akan berhasil dan mencapai tujuan
apabila dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat dan aturan dalam pelaksanaan
yajna.
Perenungan
”Soma rārandhi no hṛdhi gāvo na yavaseṣv ā, marya iva sva okye”.
Terjemahannya.
”Tuhan Yang Mahapengasih, semoga Engkau berkenan bersthana
pada hati nurani kami (tubuh kami sebagai pura), seperti halnya anak-anak sapi
yang merumput di padang subur, seperti pula seorang gadis di rumahnya
sendiri”.
(Åg Veda I. 91.13).
Memahami Teks
Melaksanakan yajña bagi umat Hindu hukumnya wajib.
Segala sesuatu yang dilaksanakan tanpa dilandasi oleh yajña adalah sia-sia.
Bagaimana agar semua yang kita laksanakan dapat bermanfaat dan berkualitas,
kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut:
“Aphalākāòkṣibhir yajòo vidhi-dṛṣtho ya ijyate,
yaṣthavyam eveti manaá samādhāya sa sāttvikaá”.
Terjemahannya adalah.
“Yajña menurut petunjuk kitab-kitab suci, yang dilakukan oleh
orang tanpa mengharap pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai
tugas kewajiban, adalah sattvika”. (Bhagavad Gita. XVII.11).
“Abhisandhāya tu phalaṁ danbhārtham api çaiva yat,
ijyate bharata-ṡrestha taṁ viddhi rājasam”.
Terjemahannya adalah.
“Tetapi persembahan yang dilakukan dengan mengharap balasan,
dan semata-mata untuk kemegahan belaka, ketahuilah, wahai Arjuna, yajña itu
adalah bersifat rajas”. (Bhagavad Gita. XVII.12).
HomeMateri Hindu kls XISyarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña - Materi Hindu kelas XIMATERI HINDU KLS XI
Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña - Materi
Hindu kelas XI
4:55 PM
Selamat
datang kembali disitus ini. Pada kesempatan yang baik ini saya mengajak kalian
untuk mempelajari materi tentang Syarat-syarat dan Aturan dalam
Pelaksanaan Yajña, sehingga kita akan lebih paham dan pada akhirnya mampu
menerapkan yajna dalam kehidupan sesuai denganj aturan yang ada. Segala hal
akan menjadi baik dan mencapai tujuan apa bila dapat dikerjakan sesuai dengan
peraturan-peraturan yang telah tersurat dan tersirat. Seperti halnya ketika
belajar di bangku sekolah. Seseorang akan dapat mencapai tujuannya yaitu lulus
dari sekolah apabila telah mengikuti semua tahapan yang ada seperti belajar
dengan baik dan mendapat nilai baik dalam ulangan. Setiap tahapan tersebut
tentunya harus dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku disekolah tersebut. Sama
juga halnya dengan melaksanakan yajna. Yajna akan berhasil dan mencapai tujuan
apabila dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat dan aturan dalam pelaksanaan
yajna.
Perenungan
”Soma rārandhi no hṛdhi gāvo na yavaseṣv ā, marya iva sva okye”.
Terjemahannya.
”Tuhan Yang Mahapengasih, semoga Engkau berkenan bersthana
pada hati nurani kami (tubuh kami sebagai pura), seperti halnya anak-anak sapi
yang merumput di padang subur, seperti pula seorang gadis di rumahnya
sendiri”.
(Åg Veda I. 91.13).
Memahami Teks
Melaksanakan yajña bagi umat Hindu hukumnya wajib.
Segala sesuatu yang dilaksanakan tanpa dilandasi oleh yajña adalah sia-sia.
Bagaimana agar semua yang kita laksanakan dapat bermanfaat dan berkualitas,
kitab Bhagavad Gita menyebutkan sebagai berikut:
“Aphalākāòkṣibhir yajòo vidhi-dṛṣtho ya ijyate,
yaṣthavyam eveti manaá samādhāya sa sāttvikaá”.
Terjemahannya adalah.
“Yajña menurut petunjuk kitab-kitab suci, yang dilakukan oleh
orang tanpa mengharap pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai
tugas kewajiban, adalah sattvika”. (Bhagavad Gita. XVII.11).
“Abhisandhāya tu phalaṁ danbhārtham api çaiva yat,
ijyate bharata-ṡrestha taṁ viddhi rājasam”.
Terjemahannya adalah.
“Tetapi persembahan yang dilakukan dengan mengharap balasan,
dan semata-mata untuk kemegahan belaka, ketahuilah, wahai Arjuna, yajña itu
adalah bersifat rajas”. (Bhagavad Gita. XVII.12).
“Vidhi-hinam asṛṣtānnaṁ mantra-hìnam adakṣiṇam,
ṡraddhā-virahitaṁ yajñaṁ tāmasaṁ paricakṣate”.
Terjemahannya adalah.
“Dikatakan bahwa yajña yang dilakukan tanpa aturan
(bertentangan), di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra dan sedekah
serta tanpa keyakinan dinamakan tamas”. (Bhagavad Gita. XVII.13).
Agar pelaksanaan yajña lebih efisien, maka syarat
pelaksanaannya perlu mendapat perhatian, yaitu sebagai berikut.
- Sastra, yaitu yajña harus
berdasarkan Veda.
- Sraddha, yaitu yajña harus
dengan keyakinan.
- Lascarya, keikhlasan menjadi
dasar utama yajña.
- Daksina, memberikan dana
kepada pandita.
- Mantra, puja, dan gita,
wajib ada pandita atau pinandita.
- Nasmuta atau tidak untuk
pamer, jangan sampai melaksanakan yajña hanya untuk menunjukkan kesuksesan
dan kekayaan.
- Anna Sevanam, yaitu
memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cara mengundang makan
bersama.
Dalam
Bhagavad Gita XVII. 11, 12, dan 13 disebutkan ada tiga kualitas yajña, yakni
sebagaimana tertera di bawah ini:
a) Satwika Yajña
Satwika Yajña adalah kebalikan dari Tamasika
Yajña dan Rajasana Yajña bila didasarkan penjelasan Bhagawara Gita tersebut di
atas. Satwika Yajña adalah yajña yang dilaksanakan sudah memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan. Syarat-syarat yang dimaksud, antara lain sebagai
berikut.
·
Yajña harus berdasarkan sastra. Tidak
boleh melaksanakan yajña sembarangan, apalagi didasarkan pada keinginan diri
sendiri karena mempunyai uang banyak. Yajña harus melalui perhitungan hari baik
dan buruk, yajña harus berdasarkan sastra dan tradisi yang hidup dan berkembang
di masyarakat.
·
Mengingat arti yajña itu adalah
pengorbanan suci yang tulus ikhlas, Sang Yazamana atau penyelenggara yajña
tidak boleh kikir dan mengambil keuntungan dari kegiatan yajña. Apabila
dilakukan, maka kualitasnya bukan lagi disebut sattwika.
·
Yajña harus menghadirkan sulinggih yang
disesuaikan dengan besar kecilnya yajña. Kalau yajñanya besar, sebaiknya
hadirkan seorang sulinggih dwijati atau pandita. Tetapi kalau yajñanya
kecil, cukup dipuput oleh seorang pemangku atau pinandita saja.
·
Dalam setiap upacara yajña, Sang
Yajamana harus mengeluarkan daksina. Daksina adalah dana uang kepada sulinggih
atau pinandita yang muput yajña. Jangan sampai tidak melakukan itu,
karena daksina adalah bentuk dari Rsi Yajña dalam Panca Yajña.
·
Yajña juga sebaiknya menghadirkan suara
genta, gong atau mungkin Dharmagita. Hal ini juga disesuaikan dengan besar
kecilnya yajña. Apabila biaya untuk melaksanakan yajña tidak besar, maka suara
gong atau dharmagita boleh ditiadakan.
b) Rajasika Yajña
Rajasika Yajña adalah yajña yang dilakukan dengan penuh harapan
akan hasilnya dan dilakukan hanya untuk pamer saja. Kualitas yajña ini relatif
sangat rendah. Walaupun semua persyaratan dalam sattwika yajña sudah terpenuhi,
namun apabila Sang Yajamana atau yang menyelenggarakan yajña ada niat untuk
memperlihatkan kekayaan dan kesuksesannya, maka nilai yajña itu menjadi
rendah.
Dalam Siwa Purana disampaikan bahwa seorang raja mengundang Dewa Siwa
untuk menghadiri dan memberkati yajña yang akan dilaksanakannya. Dewa Siwa
mengetahui bahwa tujuan utama mengundang-Nya hanyalah untuk memamerkan jumlah
kekayaan, kesetiaan rakyat, dan kekuasaannya.
Mengetahui niat
tersebut, raja pun mengundang Dewa Siwa. Pada hari yang telah ditentukan, Dewa
Siwa tidak mau datang, tetapi mengirim putranya yang bernama Dewa Gana untuk
mewakili-Nya menghadiri undangan Raja itu. Dengan diiringi banyak prajurit,
berangkatlah Dewa Gana ke tempat upacara. Upacaranya sangat mewah, semua raja
tetangga diundang, dan seluruh rakyat
ikut memberikan
dukungan.
Dewa Gana diajak berkeliling istana
oleh raja sambil menunjukkan kekayaannya berupa emas, perak, dan berlian yang
jumlahnya bergudang-gudang. Dengan bangga, raja menyampaikan berapa jumlah emas
dan berliannya. Sementara rakyat dari kerajaan ini masih hidup miskin karena
kurang diperhatikan oleh raja dan pajaknya selalu dipungut oleh Raja.
Mengetahui hal tersebut, Dewa
Gana ingin memberikan pelajaran kepada Sang Raja. Ketika sampai pada acara
menikmati makanan dan minuman, Dewa Gana pun menghabiskan seluruh makanan yang
ada. Bukan itu saja, seluruh perabotan berupa piring emas dan lain sebagainya
semua dihabiskan
oleh Dewa Gana. Raja
menjadi sangat bingung sementara Dewa Gana terus meminta makan. Apabila tidak
diberikan, Dewa Gana mengancam akan memakan semua kekayaan dari Sang Raja.
Khawatir kekayaannya habis
dimakan Dewa Gana, Raja ini kembali menghadap Dewa Siwa dan mohon ampun. Lalu
diberikan petunjuk dan nasihat agar tidak sombong karena kekayaan dan
membagikan seluruh kekayaan itu kepada seluruh rakyat secara adil. Kalau
menyanggupi, barulah Dewa Gana menghentikan aksinya minta makan terus kepada
Raja. Dengan terpaksa Raja yang sombong ini menuruti nasihat Dewa Siwa yang
menyebabkan kembali baiknya Dewa Gana. Pesan moral yang disampaikan cerita ini
adalah, janganlah melaksanakan yajña berdasarkan niat untuk memamerkan
kekayaan. Selain membuat para undangan kurang nyaman, juga nilai kualiatas
yajña tersebut menjadi lebih rendah.
c) Tamasika Yajña
Ini adalah yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan
petunjuk-petunjuk sastranya, tanpa mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada
daksina, tanpa didasari oleh kepercayaan. Tamasika Yajña adalah yajña yang
dilaksanakan dengan motivasi agar mendapatkan untung. Kegiatan semacam ini
sering dilakukan sehingga dibuat Panitia Yajña dan diajukan proposal untuk
melaksanakan upacara yajña dengan biaya yang sangat tinggi. Akhirnya yajña jadi
berantakan karena Panitia banyak mencari untung. Bahkan setelah yajña
dilaksanakan, masyarakat ternyata berhutang di sana sini. Yajña semacam ini
sebaiknya jangan dilakukan karena sangat tidak mendidik.
Uji
Kompetensi
Setelah kamu membaca
dan memahami materi tentang Syarat-syarat dan Aturan dalam Pelaksanaan Yajña
ini, selanjutnya kerjakanlah soal-soal dibawah ini pada kertas lempiran dan
dikumpulkan.
SOAL:
1. Coba sebut
dan jelaskan syarat-syarat yang wajib dipedomani dalam melaksanakan yajña!
2. Sebutkan tiga
kualitas yajña dan berikan masing-masing penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari!

Komentar
Posting Komentar