Materi Minggu Ke-7 Agama Hindu Kelas XII
C. Sloka kitab suci yang
menjelaskan sumber Hukum
Hindu.
Berikut ini Sloka-slokas kitab suci
yang menjelaskan sumber Hukum Hindu antara lain adalah sebagai berikut:
Berikut ini dapat disajikan beberapa
sloka dari kitab suci yang menggariskan Veda sebagai sumber hukum yang bersifat
universal, antara lain sebagai berikut:
Yaá
pàvamànir adhyeti åûibhiá saý bhåaý rasam. sarvaý sa pùtam aúnati svaditaý
màtariúvanà”
Terjemahan:
“Dia yang menyerap
(memasukkan ke dalam pikiran) melalui pelajaran- pelajaran pemurnian intisari
mantra-mantra Veda yang diungkapkan kepada para rsi menikmati semua tujuan yang
sepenuhnya dimurnikan yang dibuat manis oleh Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi
napas hidup semesta alam (Ågveda IX.67.31).
“Pàvamànir
yo adhyeti- åûibhiá saýbhåaý rasam tasmai sarasvati duhe
kûiraý
sarpir madhùdakam”.
Terjemahan:
‘Siapapun juga yang
mempelajari mantram-mantram veda yang suci yang berisi intisari pengetahuan
yang diperoleh para rsi, Devi pengetahuan (yakni Sang Hyang Saraswati)
menganugerahkan susu, mentega yang dijernihkan, madu dan minuman Soma (minuman
para Deva)’(Ågveda IX.67.32).
“Iyam
te rad yantasi yamano dhruvo-asi dharunah.
kryai
tva ksemaya tva rayyai tva posaya tva”.
Terjemahan:
Wahai pemimpin, itu
adalah negara mu, engkau pengawasnya. Engkau mawas diri, teguh hati dan
pendukung warga negara. Kami mendekat padamu demi perkembangan pertanian,
kesejahteraan manusia, kemakmuran yang melimpah” (Yajurveda IX.22) dalam
(Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:81).
“Ahaý
gåbhóàmi manasà manàýsi mama cittam anu cittebhir eta. mama vaseûu hrdayàni vah
krnomi, mama yàtam anuvartmàna eta”.
Terjemahan:
“Wahai para prajurit,
Aku pegang (samakan) pikiranmu dengan pemikiran- Ku. Semoga anda semua
mengikuti aku menyesuaikan pikiran mu dengan pikiran-ku. Aku tawan hatimu.
Temanilah aku dengan mengikuti jalan-Ku, (Atharvaveda, VI.94.2).
Veda merupakan karunia
ibu Saraswati, dan orang-orang yang mempelajari serta mengamalkannya dengan
keyakinan yang mantap akan terpenuhi keinginannya. Mantra-mantra Veda
mengandung kekuatan kedevataan dan sabda suci ini hendaknya diajarkan kepada
semua orang dalam profesi apapun di masyarakat bahkan orang-orang asingpun tidak
tertutup untuk mempelajari kitab suci Veda, ajarannya bersifat abadi memberikan
perlindungan kepada umatnya. Selanjutnya kitab smrti menjelaskan sebagai
berikut;
“Kàmàtmatà
na praúasta na caiwe hàstya kàmatà, kàmyo hi wedàdhigamaá karmayogasca
waidikaá”
Terjemahan:
Berbuat hanya karena
nafsu untuk memperoleh phala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan
akan phala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu
bersumber dari mempelajari Veda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Veda
(Manawa Dharmasastra, II.2).
“Teûu
samyag vartta màno gacchatya maralokatàm, yathà samkalpitàýúceha sarwan kaman
samaúnute”
Terjemahan:
Ketahuilah bahwa ia
yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang
benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan memperoleh semua
keinginan yang ia mungkin inginkan (Manawa Dharmasastra, II.5) dalam (Mudana
dan Ngurah Dwaja, 2015:82).
“Yo’
varnanyeta te mùle hetu úàstràúrayad dvijaá, sa sàdhubhir bahiûkàryo nàstiko
vedanindakaá”.
Terjemahan:
Setiap dwijati yang
menggantikan dengan lembaga dialektika dan dengan memandang rendah kedua sumber
hukum (Sruti dan Smrti) harus dijauhkan dari orang-orang bijak sebagai seorang
atheis dan yang menentang Veda (Manawa Dharmasastra, II.11).
“Kitrúaá
sisyo ‘dhyàpya ityàha; àcàrya putrah úuúrusur jnànado dharmika úuciá,
àptaá
úakto rthadaá sàdhuá
svo
‘dhyàpyo daúa dharmataá”.
Terjemahan:
Menurut hukum suci,
kesepuluh macam orang-orang berikutnya adalah putra guru yaitu ia yang berniat
melakukan pengabdiannya, ia yang memberikan pengetahuan, orang yang sepenuh
hatinya mentaati UU, orang yang suci, orang yang berhubungan karena perkawinan atau
persaudaraan orang yang memiliki kemampuan rohani, orang yang menghadiahkan
uang, orang yang jujur dan keluarga (mereka) dapat mempelajari Veda (Manawa
Dharmasastra, II.109) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:83).
“Yam
eva tu úuciý vidyàm niyataý brahmacàrinam, tasmai màý brùhi vipràya nidhipàyà
pramàdine”.
Terjemahan:
Tetapi serahkanlah
saya kepada seorang brahmana yang anda ketahui pasti bahwa ia orang yang sudah
suci, yang bisa mengendalikan panca indranya, berbudi baik dan tekun (Manawa
Dharmasastra, II.115).
“Pitådeva
manuûyànàm Vedaú cakûuá sanàtanam, aúakyaý càprameyaý ca vedaúàstram iti
sthitiá”.
Terjemahan:
Veda adalah mata yang
abadi dari para leluhur, Deva-Deva, dan manusia; peraturan-peraturan dalam Veda
sukar dipahami manusia dan itu adalah kenyataan yang pasti (Manawa
Dharmasastra, XII.94).
“Ya
veda vàhyà småtayo yàs ca kàs ca kudåûþayaá, sarvàsta niûphalàá pretya tamo
niûþhà hi tà småtàá”
Terjemahan:
Semua tradisi dan
sistem kefilsafatan yang tidak bersumber pada Veda tidak akan memberi pahala
kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber dari kegelapan (Manawa
Dharmasastra, XII.95).
“Utpadyànte
cyavante ca yànyato ‘nyàni kànicit, tànyarvakalika tayà niûphalànya nåtàni ca”.
Terjemahan:
Semua ajaran yang
timbul, yang menyimpang dari Veda segera akan musnah, tidak berharga dan palsu
karena tak berpahala (Manawa Dharmasastra, XII. 96) dalam (Mudana dan Ngurah
Dwaja, 2015:84).
“Vibhartti
sarva bhùtàni veda úàstraý sanàtanam, tasmàd etat param manye yajjantorasya
sàdhanam”.
Terjemahan:
Ajaran
Veda menyangga semua makhluk ciptaan ini, karena itu saya berpendapat, itu
harus dijunjung tinggi sebagai jalan menuju kebahagiaan semua insan (Manawa
Dharmasastra, XII. 99).
“Senàpatyaý ca ràjyaý ca daóða
netåtwam eva ca, sarva lokàdhipatyaý ca veda úàstravid arhati”.
Terjemahan:
Panglima
angkatan bersenjata, Pejabat pemerintah, Pejabat pengadilan dan penguasa atas
semua dunia ini hanya layak kalau mengenal ilmu Veda itu (Manawa Dharmasastra,
XII.100).
“Doûair etaiá kula-ghnànàý
varna-saókara-kàrakaih, utsàdyante jàti-dharmàá kula-dharmàú ca
úàúvatàá”.
Terjemahan:
Karena
dosa dan kehancuran keluarga ini membawa keruntuhan bagi hukum golongan (varna
dharma), kebiasaan keluarga dan hukum keluarga hancur untuk selama-lamanya,
(Bhagawadgìtà, I.43) dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:85).
“Atha cet tvam imaý dharmyaý
saògràmaý na kariûyasi,
tatah sva-dharmaý kirtiý ca
hitvà pàpam avàpsyasi”.
Terjemahan:
Akhirnya
bila engkau tidak berperang, sebagaimana kewajiban, dengan meninggalkan
kewajiban dan kehormatan, maka penderitaanlah yang akan kau peroleh,
(Bhagawadgìtà, II.33).
“Yadà yadà hi dharmasya glànir
bhavati bhàrata, abhyutthànam adharmasya tadàtmànam srjàmy aham”.
Terjemahan:
Sesungguhnya
manakala dharma berkurang kekuasaannya dan tirani hendak merajalela, wahai arjuna,
saat itu aku ciptakan diriku sendiri, (Bhagawadgìtà, IV.7).
“Paritràóàya sàdhànàý vinàsàya
ca duûkrtàm, dharma-saýsthàpanàrthaya sambhavàmi yuge-yuge”.
Terjemahan:
Untuk melindungi orang-orang baik dan untuk memusnahkan
orang-orang jahat, Aku lahir ke dunia dari masa ke masa, untuk menegakkan
dharma, (Bhagawadgìtà, IV.8).
“Kûipram bhavati dharmàtmà
úaúvac-chàntiý nigacchati, kaunteya pratijànihi
na me bhaktaá pranaúyati”.
Terjemahan:
Dengan
segera ia menjadi orang benar dan mencapai kedamaian yang kekal abadi;
ketahuilah, wahai Arjuna, para pemuja-Ku pasti tak akan memusnahkan,
(Bhagawadgìtà, IX.31) dalam(Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:86).
“Çrutyuktaá paramo dharmas-
tathà smrti gato ‘parah, çistàcàrah parah proktasrayo dharmàá sanàtanàá.
Kunang kengetakena, sasing
kajar de sang hyang çruti dharma ngaranika, sakajar de sang hyang smrti kuneng
dharma ta ngaranika, çistacara kunang, acaranika sang çista, dharma ngaranika,
sista ngaran sang hyang satyawadi, sang apta, sang patisthan, sang panadahan
upa deça sangksepa ika katiga, dharma ngaranira.
Terjemahan:
Adapun
yang patut untuk diingat-ingat, semua apa yang diajarkan oleh Çruti disebut
dharma, semua yang diajarkan oleh Smrti pun dharma namanya, demikian pula
tingkah laku orang çista disebut dharma, yang disebut çista adalah yang
berkata-kata benar, orang yang dapat dipercaya, orang yang menjadi tempat
pensucian, orang yang menjadi tempat menerima ajaran kerohanian, singkatnya
ketiganya itu, dharma namanya, (Sarasamuçcaya, 40).
“Çruyatàm dharmasàswam çrutwà
çaiwopadhàryatàm, atmanah pratikùlani na paresàm samàcara.
Matangnyan rengo sarwadàya,
paramàrtha ning sinangguh dharma telas rinengonta çupwanantà ta ri hati, ikang
kadi ling mami ngùni wih, sasing tak kahyun yàwakta, yatika tanulahakenanta
ring len.
Terjemahan:
Karena
itu dengarkanlah segala upaya, makna yang dianggap dharma, setelah engkau
mendengarnya, camkan itu baik-baik di hati, sebagai mana yang telah saya
katakan sebelumnya, segala sesuatu yang tidak berkenan di hatimu, yang itu
janganlah hendaknya engkau lakukan kepada orang lain, (Sarasamuçcaya, 44) dalam
(Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:87).
“Dharmaçcennàwasideta
kapàlenàpi jiwataá,
àdhyo smityawagantawyam dharma
wittà hi sadhawaá”.
Yadyapin atyanta daridra keta
ngwang, mahuripa ta dening tasyan, yan langgeng apageh ring dharmàprawrtti,
hidepen ta sugih jugàwakta, apan anghing dharmaprawrtti, màs manik sang sàdhu
ngaranira, yatika prihen arjanan, yatika ling mami màs manik tan kena ring
corahhayàdi.
Terjemahan:
Walaupun
sangat miskin dan hidup dari hasil meminta-minta, jika tetap teguh dalam
menjalankan dharma, anggaplah dirimu kaya juga, sebab perbuatan dharma itulah
merupakan artha kekayaan orang yang saleh, yang itu supaya diusahakan, yang itu
yang kukatakan harta kekayaan yang tak dapat dicuri, dirampas dan sebagainya,
(Sarasamuçcaya, 50).
“Dharmamàçarato wrttiryadi
nopagamisyati,
na nama kin çilochàmbu
çàkàdyapi wipatsyate”.
Lawan ling mami, ika sang
kewala tumungkulanang dharma-prawrtti, tàtan penemwa upajìwananira, apa
matangnya tar polih angasag, gagan, wwai, lwirning sulabha takwanani
harakanira.
Terjemahan:
Lagi
pula kata ku, orang yang tekun melaksanakan dharma, tidak akan tidak memperoleh
penghidupannya, apa sebabnya tidak mendapatkan makanan, sayur-sayuran, air,
segala macam itu seakan-akan menawarkan dirinya untuk menjadi makanannya,
(Sarasamuçcaya, 51).
Dharma
“hukum” hendaknya dipedomani dan dilaksanakan dengan sungguh- sungguh dalam
pengabdian hidup ini guna mewujudkan hidup yang sejahtera dan bahagia. Demikian
hendaknya perbuatan kita dalam keseharian, betapapun sibuknya dalam
melaksanakan dharma. Usahakanlah sebagai sambilan mencari harta dalam kesibukan
hidup ini. Bagaikan sepasang sapi yang menyandang bajak di belakangnya,
mengelilingi sawah disambilkan juga mencabut rumput yang dekat padanya sehingga
menjadi senang (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:88).
Referensi
Ngurah
Dwaja, I Gusti dan Mudana, I Nengah. 2015. Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat
Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Sumber:
Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti kelas XII
Kontributor
Naskah : I Gusti Ngurah Dwaja dan I Nengah Mudana
Penelaah
: I Made Suparta, I Made Sutresna, dan I Wayan Budi Utama Penyelia Penerbitan :
Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Cetakan
Ke-1, 2015
Berikut ini dapat disajikan beberapa sloka dari kitab suci yang menggariskan Veda
sebagai sumber
hukum yang bersifat universal, antara lain sebagai berikut;
“Yaá pàvamànir adhyeti åûibhiá saý bhåaý rasam.
sarvaý sa pùtam aúnati
svaditaý màtariúvanà”
Terjemahannya:
“Dia yang
menyerap (memasukkan ke dalam pikiran) melalui pelajaran-pelajaran pemurnian intisari mantra-mantra Veda yang diungkapkan kepada para åûi, menikmati semua tujuan yang sepenuhnya dimurnikan yang dibuat manis oleh Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi napas hidup
semesta alam (Åtharvaveda IX.67.31).
“Pàvamànir yo adhyeti- åûibhiá saýbhåaý rasam tasmai sarasvati duhe kûiraý sarpir madhùdakam”.
Terjemahannya:
‘Siapapun juga
yang mempelajari mantram-mantram Veda yang
suci yang berisi intisari pengetahuan yang diperoleh para dewi pengetahuan
(yakni Sang Hyang Saraswati) menganugrahkan susu, mentega yang
dijernihkan, madu dan minuman Soma (minuman para dewa)’(Åtharvaveda
IX.67.32).
“Iyam te rad yantasi yamano
dhruvo-asi dharunah.
kryai tva ksemaya tva rayyai tva posaya tva”.
Terjemahannya:
Wahai pemimpin, itu adalah negaramu, engkau
pengawasnya. Engkau mawas diri, teguh hati dan pendukung warga negara. Kami mendekat padamu demi perkembangan
pertanian, kesejahtraan manusia, kemakmuran yang melimpah” (Yajurveda
IX.22).
Veda merupakan karunia ibu Saraswati, dan
orang-orang yang mempelajari serta mengamalkannya dengan keyakinan yang mantap
akan terpenuhi keinginannya. Mantra-mantra Veda mengandung kekuatan kedewasaan dan sabda suci ini
hendaknya diajarkan kepada semua orang dalam profesi apapun di masyarakat bahkan orang-orang asingpun tidak
tertutup untuk mempelajari kitab suci Veda,
ajarannya bersifat abadi memberikan perlindungan kepada umatnya. Selanjutnya
kitab smrti menjelaskan sebagai berikut;
“Kàmàtmatà na
praúasta na caiwe hàstya kàmatà, kàmyo hi wedàdhigamaá karmayogasca waidikaá”
Terjemahannya:
Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh phala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan akan phala
tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan- keinginan itu bersumber dari mempelajari Veda dan karena itu setiap perbuatan diatur
oleh Veda (Manawa
Dharmasastra, II.2).

Komentar
Posting Komentar